Mohon tunggu...
Pringadi Abdi Surya
Pringadi Abdi Surya Mohon Tunggu... Pejalan kreatif

Lahir di Palembang. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Instagram @pringadisurya. Catatan pribadi http://catatanpringadi.com Instagramnya @pringadisurya dan Twitter @pringadi_as

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Memburu Matahari Terbenam dan Sebuah Melankolia

20 Mei 2019   17:28 Diperbarui: 20 Mei 2019   17:52 0 10 3 Mohon Tunggu...
Memburu Matahari Terbenam dan Sebuah Melankolia
Matahari terbenam dan puncak Rinjani. Dokumentasi pribadi

Tatkala ditanya apa hobiku, yang pertama terlintas adalah membaca atau menulis. Namun kini, membaca dan menulis sudah lebih dari sekadar hobi. Hal itu bahkan sudah menjadi mata pencaharian. Tentu, aku masih memiliki sejumlah hobi lain seperti naik sepeda sampai memburu matahari terbenam. Khusus memburu matahari terbenam pernah rutin kulakukan saat bertugas di Sumbawa.

Kebetulan di Sumbawa banyak lokasi yang menjadi titik menyaksikan matahari terbenam. Sedangkan di Jakarta jika beruntung aku akan menemukan matahari terbenam indah dari jembatan penyeberangan Stasiun Juanda.

Dokumentasi pribadi. Jembatan stasiun juanda.
Dokumentasi pribadi. Jembatan stasiun juanda.
Bulan Ramadan tahun ini aku berkesempatan menyaksikan matahari terbenam sekali di Lombok. Selesai bertugas, aku langsung menemui temanku yang ditempatkan di Lombok. "Yuk, kita cari tempat yang bisa lihat sunset sembari menunggu berbuka puasa," ujarku.

Aku penasaran akan diajak ke mana. Ia bertanya preferensi makanku. Mau Jawa, makanan Cina, Barat, atau khas Lombok. Tentu saja, aku mau makanan khas Lombok.

Lima tahun sudah aku meninggalkan NTB. Meski tak asing, aku sudah lupa jalanan di Lombok. Aku pasrah mau diajak ke mana.

Dokumentasi pribadi
Dokumentasi pribadi
Ternyata aku diajak ke Montong. Montong adalah kawasan pesisir yang satu lajur dengan Senggigi, namun Montong adalah kampung nelayannya. Arti Montong sendiri adalah gundukan karena bentuk pantainya seperti gundukan pasir, meninggi dari batas capaian ombak.


Kami berhenti di warung khas Lombok. Warung Inak Sur. Arti Inak dalam bahasa Sasak adalah Mama. Katanya menu khas di warung ini adalah kepiting. Namun karena aku kurang pandai makan kepiting, aku tak memesannya.

Aku memesan plecing kangkung dan ikan bakar tentunya. Sebab, kapan lagi aku makan ikan segar langsung dari nelayan. Di Jakarta, tak ada ikan sesegar itu.


Satu ikan menarik perhatianku. Warnanya kebiruan mengilat. Aku melihatnya di acara Law of the Jungle. Ya, itu Ikan Kakatua. Kata temanku rasanya empuk benar. Dan memang rasanya lembut beneran.

Tapi aku merasa bersalah karena setelah itu aku ragu apakah ikan ini dilindungi atau tidak. Aku tidak tahu bagaimana statusnya di Indonesia, tapi di beberapa negara ikan kakatua dilindungi. Ikan Kakatua ini memakan alga dan karang mati. Dengan kata lain mereka membersihkan karang. Ini penting karena sebagian besar terumbu karang di daerah tropis ditutupi oleh alga karena tidak cukup banyak ikan kakatua.

Sambil menunggu bedug maghrib dan menu kami siap, aku pun bermain di pesisir. Karena ini kampung nelayan, pantainya ya sepi, serasa milik pribadi. Air lautnya terasa dingin sekali. Andai bawa baju ganti, pengen berenang di pantai ini.

Matahari terbenam di Montong
Matahari terbenam di Montong
Di kejauhan tampak Gunung Agung di Pulau Dewata. Matahari masih berada sedikit di atasnya.

Aku kembali teringat masa lalu. Tiga hari setelah menikah kubawa istriku ke Sumbawa. Satu hari kami transit di Lombok. Di Senggigi tepatnya. Pemandangan yang sama tersaji meski dengan sudut yang berbeda. Kami mandi di pantai ditenggelamkan langit yang berrwarna oranye.

Sayangnya kali ini aku tak bersamanya. Dan banyak momen tak bersamanya saat aku berada di Sumbawa. Saat dia melanjutkan magister Fisika di ITB, aku juga sendirian dan mulailah punya hobi menunggu matahari terbenam.

Entah membawa kamera atau tidak, aku akan menunggu langit berubah warna. Syukur kalau aku sampai mendapatkan momen blue hour. Beberapa saat setelah matahari terbenam, langit akan berwarna biru gelap pekat. Itu indah sekali.

Sambil mengingat itu kupandangi matahari jatuh pelan-pelan dan alamakjang, ternyata matahari turun di balik Gunung Agung. Ah gagal melihat bulatan sempurna sang srengenge itu seperti angslup di balik cakrawala.

Lalu bedug mulai berbunyi. Suara azan dikumandangkan. Menu di meja baru hendak dihidangkan. Tanpa ragu kami pun menyantap satu demi satu makanan. Ah, nikmat.