Pringadi Abdi Surya
Pringadi Abdi Surya pegawai negeri

Lahir di Palembang. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Instagram @pringadisurya. Catatan pribadi http://catatanpringadi.com Instagramnya @pringadisurya dan Twitter @pringadi_as

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Artikel Utama

Dokter Gamal dan Membingkai Pembacaan Data

7 Januari 2019   11:27 Diperbarui: 8 Januari 2019   04:10 4061 46 31
Dokter Gamal dan Membingkai Pembacaan Data
Sumber : twitter/drgamal

Postingan dokter Gamal viral dengan tajuk luka Indonesia, ia mengungkapkan beberapa data. Salah satunya adalah tentang pertumbuhan utang luar negeri Indonesia.

Data yang disajikan dokter Gamal benar. Namun, data bisa dibaca dengan beberapa cara. Ia bisa menghasilkan tafsir yang berbeda kalau kacamata yang dipakai juga berbeda.

Postingan dokter Gamal tersebut menuai kritikan karena dalam infografis yang ia suguhkan, tak ada nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sana. Dengan cara itu, seakan-akan, utang luar negeri Indonesia melonjak lebih dari 3000 Trilyun pada masa pemerintahan Joko Widodo.

Lalu berapa sebenarnya jumlah utang pada pemerintahan SBY? Nilai utangnya sebesar Rp2.608 triliun. Sehingga dari angka ini, kita bisa dapatkan peningkatan Rp1.310 triliun pada masa SBY dibanding masa Megawati. Sedangkan peningkatan pada era Jokowi hingga November 2018 sekitar Rp1.700 triliun.

Tanpa menghilangkan SBY dari infografis pun sebenarnya Dokter Gamal benar. Kalau dilihat dari nominal saja, pertumbuhan utang luar negeri tertinggi memang ada pada era Joko Widodo.

Kacamata Lain dan Perbandingan

Dari angka ini, sebenarnya kita bisa menafsir banyak hal jika kita memberikan variabel lain sebagai perbandingan. Misalnya saja, rasio yang sering digunakan adalah rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto: 

- PDB pada masa Soeharto berada di kisaran Rp 955,6 triliun ~ 57,7%
- PDB pada masa Habibie berada di kisaran Rp1.099 triliun ~ 85,4%
- PDB pada masa Gusdur berada di kisaran R1.491 triliun ~77,2%
- PDB pada masa Megawati berada di kisaran Rp2.303 triliun ~ 56,5%
- PDB pada masa SBY berada di kisaran Rp10.542 triliun ~ 24,7%
- PDB pada masa Jokowi berada di kisaran Rp14.745,9  triliun ~ 29,74% 

Nah, jika kita hanya memandang dari angka, kita harus memberikan apresiasi yang besar untuk pemerintahan SBY. Secara teori, utang berkorelasi positif dengan pertumbuahn ekonomi. Kenaikan utang seyogiyanya diiringi dengan kenaikan Produk Domestik Bruto. Dalam hal ini, selama 10 tahun pemerintahan SBY, dengan penambahan utang 1310 triliun, PDB Indonesia bertambah lebih dari Rp8.200 triliun. 

Rasio utang SBY pun paling rendah yakni 24,7%. Sementara itu, pada era Jokowi, selama 4 tahunan, utang bertambah sekitar Rp1.700 triliun dan menghasil penambahan PDB sebesar kurang lebuh Rp4.200 T.

Kalau melihat dari sudut pandang ini, dan hanya dari angkanya saja, dengan tambahan utang lebih rendah, penambahan PDB lebih tinggi.

Tapi validkah kita memandangnya hanya dari kacama itu saja? 

Saya katakan, jelas, TIDAK.

Ada variabel waktu di sana. Waktu memiliki konsekuensi kondisi yang berbeda. Nilai tukar yang berbeda. Kondisi keuangan global yang berbeda. Intinya, tantangan yang berbeda.

Sebenarnya, kita tidak bisa mentah-mentah membandingkan antar pemerintahan hanya dari angka saja karena alasan itu. Semuanya pasti ada hal yang patut kita apresiasi.

Misal, pada zaman Pak Habibie, kalau dari angka saja, kita lihat wah buruk sekali rasionya. Tapi, kita juga ingat kondisi saat itu, Indonesia baru terpuruk karena krisis ekonomi dan krisis politik. Banyak utang warisan dan kurs anjlok. Mengingat utang luar negeri menggunakan USD, kenaikan utang terjadi bukan karena penambahan utang, tapi akibat kenaikan kurs.

Pada era Jokowi pun, kondisi tantangan global begitu luar biasa. Untuk mengapresiasi Pemerintah saat ini, kita bisa pakai distribusi normal. Bandingkan dengan negara-negara berkarakteristik sama, Indonesia akan termasuk negara dengan pertumbuhan paling tinggi saat ini. 

Sebagai penutup, kita semua bisa mencari dan menyuguhkan data yang benar. Setidaknya, minimal lakukanlah itu, sajikan data yang benar. Namun, tidak semua orang bisa membaca dan menganalisis data dengan benar. Karena itu kita perlu belajar. :)