Mohon tunggu...
Himam Miladi
Himam Miladi Mohon Tunggu... Penulis

Penulis Konten | himam.id | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Buruknya Etika Komunikasi Ahok

17 September 2020   08:33 Diperbarui: 17 September 2020   08:37 1476 28 7 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Buruknya Etika Komunikasi Ahok
Kegaduhan terbaru yang diciptakan Ahok menunjukkan kelemahan dirinya yang paling mendasar (foto: twitter/@basuki_btp)

"Persoalannya kalau saya jadi dirut, ribut. Kadrun-kadrun mau demo, mau bikin gaduh lagi republik ini," kata Ahok dikutip dari Youtube POIN pada Rabu, 16 September 2020.

Ya, Ahok tetaplah Ahok. Di manapun dan di posisi apapun dia menjabat. Ceplas-ceplos, tanpa memikirkan efek samping ucapannya.

Kadrun dan Sentimen Pribadi Ahok

Tak ada hujan tak ada angin, Ahok menyinggung istilah "kadrun". Istilah ini singkatan dari "kadal gurun", yang dikonotasikan dan disematkan pada kelompok yang dianggap berkiblat ke Arab dan menjadi penggerak aksi demonstrasi saat Ahok tersandung kasus penistaan agama.

Saya tak hendak argentum ad hominem, menyerang pribadi Ahok untuk menutupi klaim kebobrokan Pertamina yang dia umbar ke publik baru-baru ini. Tapi, ketika dia menyinggung suatu istilah yang sudah kadung dikonotasikan pada golongan tertentu, tanpa sebab apapun kecuali prasangka atau sentimen pribadi, apa yang dilakukan Ahok tidak pantas dibenarkan. Secara keseluruhan, pernyataan Ahok yang mengumbar kebobrokan Pertamina juga menunjukkan etika komunikasi yang buruk dari seorang Ahok.

Coba telaah kembali ucapannya tersebut. Tidak ada peristiwa atau hal apapun yang menyangkut istilah "kadrun" yang mengawali dan menjadi penyebab timbulnya ucapan Ahok. Kecuali prasangka bahwa "seandainya saya jadi dirut, kadrun-kadrun mau demo".

Nah kan. Peristiwa yang belum terjadi sudah dibesar-besarkan, disangkut pautkan dengan kelompok tertentu. Padahal esensi dari pernyataan lengkap Ahok itu adalah borok Pertamina, bukan kelompok tertentu yang dikhayalkan akan mendemonya.

Ok, anggaplah "kadrun" itu hanya istilah. Bukan suku, ras atau agama. Tapi, ketika istilah ini sudah terlanjur disematkan publik pada kelompok atau golongan tertentu, maka pengucapan istilah ini dengan nada atau maksud merendahkan sudah termasuk ucapan yang SARA.

Sama dengan istilah-istilah lain yang dikonotasikan pada golongan suku atau ras tertentu, seperti -mohon maaf -- "singkek" yang identik dengan keturunan Tionghoa. Maka, saya sepakat dengan cuitan Fadli Zon bahwa "Cara komunikasi seperti ini selain rasis juga memecah belah. Atau mungkin memang sengaja?"

Kita tidak tahu apakah ada maksud tertentu di balik ucapan Ahok yang menyinggung "kadrun" tersebut. Apakah spontan terlontar, atau memang disengaja dan sentimen pribadi mengingat "kadrun-kadrun" inilah yang menyeret Ahok ke pengadilan atas kasus penistaan agama.

Etika Komunikasi yang Buruk dari Pejabat Sekelas Komisaris Utama BUMN

Secara keseluruhan, pernyataan Ahok yang mengumbar borok Pertamina ke ranah publik juga menunjukkan etika komunikasi yang buruk darinya. Tidak pantas disampaikan seseorang yang masih memegang jabatan sebagai Komisaris Utama di perusahaan tersebut. Itu sama saja dengan membongkar keburukan diri sendiri. Bukankah sebagai Komisaris Utama Ahok juga menjadi bagian dari kebobrokan Pertamina?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN