Mohon tunggu...
Himam Miladi
Himam Miladi Mohon Tunggu... Penulis

Penulis Konten | himam.id | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Artikel Utama

Maaf, Blogger Bukan Buzzer

28 September 2019   22:56 Diperbarui: 11 Oktober 2019   22:50 495 20 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Maaf, Blogger Bukan Buzzer
ilustrasi multitasking (sumber: unsplash.com/tirzavandijk)

Beberapa kali diundang untuk menghadiri talkshow atau launching produk dalam kapasitas sebagai blogger, saya selalu menemui syarat dan ketentuan yang sama: Live Tweet Contest/Live Instagram Contest.

Sebagai contoh narasinya seperti ini:

"Posting keseruan acara di akun Twittermu. Tweet sebanyak-banyaknya karena ada hadiah menarik untuk 2 peserta dengan tweet terbanyak dan menarik."

"Syarat" ini kerap diminta penyelenggara agar acara mereka bisa diketahui oleh pengguna media sosial secara luas. Bila perlu, tagar yang mereka tentukan bisa menjadi trending topic. Seolah ada kebanggaan tersendiri bila tagar yang berkaitan dengan acara atau produk yang dipromosikan bisa memuncaki trending topic dunia maya.

Live post atau menyimak acara dengan baik?

Masalahnya, setelah acara selesai para blogger diminta membuat artikel yang mengulas acara tersebut. Situasi ini kemudian membuat saya berpikir, "Bagaimana kita bisa menyimak acara dengan baik sementara selama acara berlangsung kita diminta memposting keseruan acara sebanyak-banyaknya?"

Mungkin bagi orang lain mereka bisa membagi perhatian. Serius menyimak acara dan memahami dengan baik materi yang disampaikan, sembari memposting apapun terkait acara tersebut. Tapi saya tidak bisa.

Saya bukan tipe orang yang bisa multitasking dan mengklaim tidak akan mengurangi produktivitas. Bagi saya, harus ada pilihan: Melaporkan acara secara langsung, atau menyimak acara dengan baik untuk keperluan menulis artikel yang bagus. Mana yang lebih penting dan menjadi prioritas?

Kalau saya memposting keseruan acara, itu artinya saya harus melewatkan beberapa detil materi yang mungkin itu penting dan sangat dibutuhkan sebagai bahan artikel saya. Otak saya tidak bisa diajak berkompromi untuk menyimak pemaparan materi sementara tangan saya harus mengetik di layar smartphone dan berpikir keras caption apa yang bisa menarik audiens.

Multitasking mengurangi produktivitas

Multitasking tidak benar-benar dapat membantu kita menyelesaikan banyak hal. Sebuah penelitian yang dilakukan The American Psychological Association menemukan bahwa ketika orang mencoba melakukan lebih dari satu tugas pada satu waktu, mereka melakukannya dengan buruk pada kedua tugas itu.

Ini karena otak manusia tidak dirancang untuk multitasking. Statistik penelitian juga menyebutkan bahwa dibutuhkan waktu rata-rata 25 menit untuk melanjutkan tugas yang terganggu sebelumnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x