Mohon tunggu...
Himam Miladi
Himam Miladi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Penulis Konten | warungwisata.com | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Kenali Tipe Pola Asuh Digital dan Batasan Waktu Layar Demi Kesehatan Mata Anak-anak

9 April 2019   09:15 Diperbarui: 9 April 2019   09:37 98
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi: unsplash.com/@ilumire

Seperti yang disebutkan di awal, tidaklah mungkin untuk memisahkan anak-anak dengan perangkat digital. Para ilmuwan dan dokter di American Academy of Pediatrics (AAP) menekankan pentingnya mengurangi waktu layar (screen time) bagi anak-anak. Yang dimaksud "waktu layar" ini mengacu pada jumlah waktu yang dihabiskan seseorang menatap layar perangkat digital seperti televisi, komputer, tablet dan smartphone.

Rekomendasi dari AAP terkait waktu layar ini diantaranya adalah:

  • Untuk anak-anak di bawah 18 bulan, hindari penggunaan media layar selain untuk tontonan. Orang tua dari anak-anak berusia 18 hingga 24 bulan yang ingin memperkenalkan media digital harus memilih program berkualitas tinggi, dan menontonnya bersama anak-anak mereka untuk membantu mereka memahami apa yang mereka lihat.
  • Untuk anak-anak usia 2 hingga 5 tahun, batasi penggunaan layar untuk 1 jam per hari dari program-program berkualitas tinggi. Orang tua harus melihat bersama dengan anak-anak untuk membantu mereka memahami apa yang mereka lihat dan menerapkannya pada dunia di sekitar mereka.
  • Untuk anak-anak usia 6 dan lebih tua, berikan batasan yang konsisten pada waktu yang dihabiskan dalam menggunakan perangkat digital, dan jenis medianya. Pastikan juga bahwa penggunaan perangkat digital tersebut tidak menggantikan/mengurangi waktu tidur yang cukup, aktivitas fisik, dan perilaku lain yang penting bagi kesehatan anak-anak.
  • Tentukan waktu bebas perangkat digital bersama-sama. Libatkan anak-anak dalam pengambilan keputusan ini, seperti dilarang bermain gadget saat sedang makan malam atau mengemudi. Tentukan pula lokasi bebas perangkat digital di rumah.  Seperti dilarang menggunakan gadget selama aktivitas di kamar tidur.
  • Menjelaskan pada anak-anak pentingnya kewarganegaraan digital dan keamanan online (Digital Citizenship), termasuk memperlakukan orang lain dengan hormat baik secara online dan offline.

Sejalan dengan rekomendasi dari AAP, para ilmuwan dan dokter dari Royal College of Pediatrics and Child Health (RCPCH) juga merekomendasikan pentingnya menyesuaikan jumlah waktu yang dihabiskan di layar oleh semua anggota keluarga, tergantung pada apa yang penting kepada mereka dan anak mereka. 

Meskipun dalam hal jumlah waktu layar, para ilmuwan di RCPCH belum menemukan bukti ilmiah yang signifikan terkait berapa banyak waktu layar yang semestinya diperbolehkan bagi kelompok usia tertentu.

Tipe Pola Asuh Digital yang disarankan

Berdasarkan rekomendasi dari AAP dan RCPCH tersebut, ada satu garis kesimpulan yang bisa kita tarik: Yakni pentingnya mengenali dan menjaga pola asuh digital pada anak-anak. Terkait hal ini, peneliti sekaligus penulis buku Alexandra Samuel mengatakan bahwa menuduh gawai/perangkat digital sebagai sumber masalah dari kesehatan dan kehidupan sosial anak-anak bisa jadi salah arah.

Sebuah penelitian yang dilakukan Alexandra Samuel mengungkapkan bahwa alih-alih menjauhkan anak-anak dari gawai, strategi yang paling sukses dalam mendidik anak di era digital ini adalah dengan merangkulnya.

Penulis buku Work Smarter With Media Social ini melakukan survei terhadap 10 ribu orang tua di wilayah Amerika Utara. Berdasarkan surveinya tersebut, Samuel menyatakan tipe pola asuh digital dari orang tua dapat dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan cara orang tua membatasi atau membimbing waktu layar anak-anak mereka dari gawai. Yang mana masing-masing kelompok memiliki sikap yang berbeda terhadap teknologi.

  • Kelompok pertama disebut Samuel sebagai Enabler Digital. Mereka adalah orang tua yang membiarkan anak-anaknya memiliki banyak waktu layar dan akses ke perangkat digital. Dipicu oleh hype seputar gadget dan aplikasi, orang tua jenis ini bisa dilihat dari bagaimana anak-anak dan keluarga mereka menggunakan teknologi.
  • Tipe kedua adalah Limiter Digital. Orang tua yang masuk dalam kelompok ini fokus pada meminimalkan penggunaan gawai dan teknologi digital pada anak-anak mereka.
  • Sedangkan tipe orang tua ketiga yang menurut Alexandra Samuel paling sesuai untuk diterapkan dalam mendidik anak-anak di era digital adalah yang disebutnya Mentor Digital. Orang tua dengan pola asuh digital jenis ini berperan aktif dalam menyiapkan anak-anak mereka untuk dunia yang penuh dengan layar, bekerja aktif untuk membentuk keterampilan dan pengalaman online dari anak-anak mereka.

***

Bagaimanapun juga, teknologi adalah bagian integral dari kehidupan anak-anak dan remaja. Sebagai orang tua, kita tahu betapa mustahilnya memisahkan anak-anak dari penggunaan teknologi digital. Perangkat digital layaknya sebuah pisau, bila dimanfaatkan dengan baik akan menghasilkan kebaikan pula. Sebagai alat komuniasik, sebagai alat hiburan yang positif, hingga sebagai sarana pendidikan bagi anak-anak. Sisi positif dari perangkat digital inilah yang sebisa mungkin harus orang tua kedepankan.

Tidak dengan cara melarang secara mutlak, namun sesuai dengan rekomendasi dari para dokter dan ilmuwan diatas, orang tua harus bisa menyesuaikan penggunaan perangkat digital. Ketahui batasan usia anak dengan jumlah waktu layar dan jenis media digital bagi mereka. Libatkan anak-anak dalam pembatasan waktu layar dan berinteraksi secara penuh dengan komunikasi yang hangat dalam keluarga.

Yang lebih penting lagi, orang tua juga harus bisa memberi contoh. Setiap orang dewasa dalam keluarga harus bisa merefleksikan jumlah waktu tayang dari penggunaan perangkat digital mereka sendiri agar memiliki pengaruh positif pada anggota keluarga yang lebih muda.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun