Himam Miladi
Himam Miladi Penulis

Freelance Content Writer| Blogger | Editor | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Please, Stop Making Stupid People Famous!

8 Februari 2019   23:26 Diperbarui: 9 Februari 2019   22:25 2637 23 13
Please, Stop Making Stupid People Famous!
ilustasi. Sebuah mural bertuliskan "Stop Making Stupid People Famous!" (sumber foto: plasticjesus.com)

Setiap kali ada berita tentang tingkah konyol menjurus kebodohan dari seseorang yang lantas menjadi viral, beberapa netizen mengomentari dengan adagium "Stop Making Stupid People Famous". Pesannya sangat jelas, berhentilah memviralkan berita tingkah konyol bin bodoh itu karena akan membuat pelakunya jadi terkenal.

Seperti ketika netizen mengomentari berita viral Adi Saputra yang merusak sepeda motornya akibat ditilang polisi. Banyak netizen yang berkomentar seperti itu dengan maksud mempertanyakan apa gunanya membuat viral berita tentang kekonyolan seseorang.

Sepertinya ada nada iri dari ungkapan ini. Orang konyol dan bodoh kok dibikin terkenal. Buat apa? Mending bantu memviralkan dan memperkenalkan orang-orang yang pintar, yang ilmu dan pengetahuannya bisa bermanfaat, namun profil mereka luput dari perhatian media.

Ungkapan "Stop Making Stupid People Famous" ini pertama kali dipopulerkan oleh Plastic Jesus (PJ), seorang seniman jalanan Los Angeles. Pada tahun 2013, PJ membuat stensil bertuliskan "Stop Making Stupid People Famous dan menempelkannya di rambu-rambu lalu lintas, tembok, hingga jalanan kota Los Angeles. Tak hanya itu, PJ juga membuat desain kaos dengan ungkapan tersebut yang dipakainya setiap hari saat dia beraksi membuat karya seni di jalanan.


"Setiap kali saya memakai salah satu t-shirt saya, saya mendapat banyak komentar dari orang yang lewat," tulis PJ dalam emailnya ke sebuah media.

Seiring dengan popularitas ungkapan tersebut, pada tahun 2015 PJ lantas mendaftarkan hak cipta pemakaian ungkapan itu dalam desain kaos yang dibuat perusahaannya, Plastic Jesus Inc.

Sebelum menjadi seniman jalanan, PJ adalah seorang fotografer berita spesialis infotainment yang mengawali karirnya di tahun '90an. Menurut PJ dalam blognya, para penerbit media saat itu menyadari bahwa berita-berita tentang selebritis jauh lebih disukai daripada berita-berita nyata.

Seiring dengan meledaknya jumlah penonton dan pembaca infotainment, penerbit media lalu menelurkan ide "famous for being famous", terkenal karena menjadi/sengaja dijadikan terkenal. Ide ini lantas diwujudkan dalam bentuk tayangan realty show, yang menampilkan bagaimana media membuat seseorang bisa terkenal dalam sekejap hanya karena tingkah laku konyolnya yang dipertontonkan pada publik.

Melihat kondisi tersebut, nurani PJ seolah terusik. PJ lalu menulis opini di Huffington Post bahwa: 

"jika kita menginginkan media yang lebih berkualitas, kita harus berhenti membuat orang-orang bodoh menjadi terkenal. Itu dimaksudkan sebagai kritik terhadap kami, konsumen, (karena) kami membeli majalah, melihat situs web, membaca koran."

Opini PJ lantas menjadi viral, diposting ulang, ditandai dan diretweet dengan diikuti daftar "Selebriti" yang menjadi terkenal karena kekonyolan mereka. Padahal, bukan itu yang dimaksudkan PJ sebenarnya. PJ hanya melontarkan otokritik pada konsumen media bahwa mereka sendirilah yang membuat orang-orang konyol tersebut menjadi terkenal, bukan medianya.

***

Saat media sosial mulai mewabah dan praktis menggantikan tayangan televisi atau media konvensional, "Making Stupid People Famous" juga berpindah platform. Kita bisa melihatnya lewat video-video "prank", YouTuber yang kontennya hanya berisi tingkah laku konyol nan tidak mendidik, atau berita viral seperti kasus Adi Saputra.

Mengapa konten-konten seperti ini bisa menjadi viral? Mengapa orang yang tidak berbakat ini menjadi terkenal? Apakah dia melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat? Apakah dia melayani umat manusia dengan penemuan? Apakah mereka ilmuwan, aktivis sosial, pengusaha atau intelektual? Jawabannya tentu saja TIDAK!

Mereka hanyalah orang-orang yang tidak menawarkan konten apa pun dan sebagian besar bergantung pada mengatakan atau melakukan sesuatu yang bodoh dan bertentangan dengan norma masyarakat kita.

Anehnya, justru banyak orang "normal" yang menyukainya, menjadi followernya. Dan yang ironis adalah, justru "orang normal" lah yang membuat mereka menjadi selebriti dadakan.

Harus diakui, setiap orang memang membutuhkan hiburan. Banyak yang merasa terhibur dengan tingkah laku konyol yang dilakukan seseorang. Secara psikologis, dengan melihat kekonyolan orang lain, alam bawah sadar kita seolah secara otomatis membuat dopamin, senyawa kimia yang membuat kita senang mengalir lebih deras. Mentertawakan kekonyolan orang lain membuat diri kita menjadi lebih baik dan lebih percaya diri. 

"Sukurlah, ternyata ada yang lebih konyol dan lebih bodoh dari diriku." Mungkin seperti itu kata hati kecil kita.

Tapi bukan berarti kita harus membesarkan kekonyolan hanya karena kita merasa terhibur. Ada banyak hiburan produktif yang lucu dan pada saat yang sama mengirim pesan positif. 

Ada banyak pembuat konten di media sosial yang menawarkan konten yang bagus dan mereka pantas mendapatkan ketenaran karena mereka menawarkan sesuatu yang baru, informatif dan inovatif. Mereka adalah orang-orang yang saya gambarkan sebagai orang pintar yang memanfaatkan media sosial untuk memberikan contoh yang baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2