Himam Miladi
Himam Miladi Penulis

Freelance Content Writer| Blogger | Editor | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Menemukan dan Menentukan Nada Tulisan untuk Memperkuat Narasi Konten

8 Januari 2019   08:08 Diperbarui: 8 Januari 2019   09:07 560 8 2
Menemukan dan Menentukan Nada Tulisan untuk Memperkuat Narasi Konten
ilustrasi (unsplash.com/@jasonrosewell)

Ketika diminta untuk menulis konten lepas bagi beberapa perusahaan yang berbeda, saya mengamati ada yang sering dilupakan oleh perusahaan/pemberi kerja. Saat mengirim briefing editorial/redaksinya, mereka lupa menetapkan target demografi, atau segmentasi dari pembaca.

Ini penting. Dengan menetapkan target atau segmentasi dari pembacanya, penulis konten akan bisa mengatur nada dan gaya tulisan.

Seperti halnya saat kita berbicara langsung pada orang lain. Bahasa yang kita gunakan untuk orang tua, tentu beda dengan saat kita berbicara dengan teman sebaya. Beda lagi saat kita ngobrol dengan para remaja. Nada bicara yang kita gunakan dengan para profesional akan berbeda dengan saat kita bicara pada orang awam/biasa.

Begitu pula saat menulis konten. Perhatikan saja bahasa-bahasa iklan yang ditujukan untuk segmentasi pasar yang berlainan, pasti nada iklannya juga berbeda. Hakekatnya, konten itu juga sama dengan iklan kan? Tujuannya untuk mengajak pembaca mengambil sebuah tindakan yang diinginkan.

Seringkali, saat menerima briefing editorial, hanya ada pedoman ".....ditulis dalam bentuk artikel populer". Bagi saya ini jelas membingungkan, karena definisi "artikel populer" itu relatif.

Semua konten berbentuk artikel yang ada di blog atau situs manapun saat ini bisa dibilang artikel populer, kecuali esai akademik yang format penulisannya saja sudah jelas berbeda. Namun, sebagaimana halnya dengan nada bicara sehari-hari, populer bagi orang tua jelas beda dengan makna populer bagi anak muda. Populer bagi seorang profesional jelas beda dengan populernya masyarakat biasa. Jadi yang dimaksud artikel populer itu seperti apa?

Kalau ada target pembaca yang lebih spesifik, definisi artikel populer itu akan menjadi lebih jelas bagi penulis konten. Dengan begitu, dia akan bisa menyesuaikan nada dan gaya tulisan seperti yang dikehendaki perusahaan/institusi tersebut.

Seperti saat saya menulis konten lepas tentang traveling ke Pulau Alor bagi sebuah perusahaan start up travel. Meski dalam briefing tidak disebutkan target pembacanya, tapi saya mengerti artikel itu semestinya ditujukan pada: anak muda/dewasa kelas menengah ke atas. Maka nada dan gaya tulisan dalam konten tersebut pun dibuat informal, kasual namun tetap berkelas.

Begitu pula ketika menulis konten untuk layanan internet yang ingin menonjolkan fitur kecepatan supaya saat main gim tidak nge-lag. Target pasarnya jelas anak muda yang suka bermain gim bukan? Karena itu, nada tulisan yang digunakan harus disesuaikan seolah-olah saya adalah pemain gim yang usianya sebaya dengan mereka. Akrab seperti teman sendiri, santai dan memakai kosakata yang kekinian.

Kita memang bisa mengetahui target pembaca dari produk atau layanan yang kita tuliskan informasinya. Tapi tidak selamanya bisa seperti itu. Ada beberapa produk atau layanan yang segmentasinya semua kalangan, dan pada suatu saat perusahaan/institusi itu ingin kampanye produknya menyasar satu segmen tertentu.

Seperti pajak, ini adalah layanan untuk semua segmen. Namun pada waktu-waktu tertentu, Dirjen Pajak misalnya ingin menyosialisasikan pajak untuk anak-anak muda. Nada atau bahasa konten yang digunakan jelas berbeda saat mereka ingin kampanye pajak pada pengusaha berusia dewasa, atau pada para pengusaha UMKM.

Contoh lain yang lebih up to date adalah nada dan bahasa kampanye politik. Nada kampanye untuk Gen Z tentu berbeda dengan untuk mereka yang Baby Boomers.

Nada tulisan dari sebuah konten juga berfungsi sebagai identitas brand. Nada unik yang digunakan oleh perusahaan yang berbeda menunjukkan kepribadian atau target pasar masing-masing. Keunikan nada konten inilah yang bisa membuat sebuah brand terlihat lebih menonjol diantara kerumunan sesamanya.

(Maaf, dari tadi membicarakan nada tulisan dan gaya tulisan, bisa diperjelas sedikit seperti apa itu?)

Ah, ya. Saking semangatnya sampai lupa memberi penjelasan terlebih dahulu. Nada (tone) sebuah tulisan mengacu pada penggunaan kata-kata oleh penulis untuk menyampaikan sikapnya terhadap suatu topik. Nada sering didefinisikan sebagai apa yang penulis rasakan tentang subjek.

Misalnya kita senang dengan sebuah program pemerintah. Kosakata yang dipakai adalah kata yang menunjukkan sikap optimis dan memuji. Atau ketika kita merasa kesal dengan sebuah pelayanan, pilihan kata yang digunakan adalah yang menunjukkan sikap marah, kecewa, gusar dan lain sebagainya.

Nada disampaikan melalui diksi (pilihan dan penggunaan kata dan frasa), sudut pandang, sintaks (tata bahasa; bagaimana kita meletakkan kata dan frasa bersama), dan tingkat formalitas. Ini adalah cara kita mengekspresikan diri  dalam tulisan.

Pada tulisan formal, nada tulisan harus jelas, ringkas, percaya diri, dan sopan. Kosakata penulisan harus terlihat canggih, tetapi tidak megah atau terlalu muluk.

Dalam menulis kreatif, nada kita lebih subjektif.  Tetapi kita harus selalu bertujuan untuk berkomunikasi dengan jelas sesuai dengan segmentasi pembaca yang ingin dituju.

Nada (tone) berbeda dengan suara (voice). Suara dapat diartikan sebagai kepribadian dari penulis yang tersirat dalam tulisannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2