Mohon tunggu...
Himam Miladi
Himam Miladi Mohon Tunggu... Penulis - Penulis

Penulis Konten | warungwisata.com | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Menggugat Kemenangan Menjelang Akhir Ramadan

10 Juni 2018   05:34 Diperbarui: 10 Juni 2018   05:37 957
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi (dok.pribadi)

Ada sebuah anehdot, bahwasanya di 10 malam terakhir bulan Ramadan, jamaah sholat tarawih di masjid mengalami "kemajuan". Yang dimaksud adalah maju barisan sholatnya, bukan maju imannya. Di awal Ramadan barisan sholat bisa mundur sampai mendekati pintu masuk. Sementara di akhir Ramadan barisan sholat maju, hingga kadang cuma tersisa satu shaf saj

Ironis bukan? Padahal justru di 10 malam terakhir Ramadan lah kita dianjurkan untuk lebih giat beri'tikaf, lebih rajin beribadah di masjid. Karena malam Lailatul Qadar, malam yang keutamaannya setara dengan seribu bulan itu hadir di hari-hari terakhir Ramadan.

Ramadan bisa diibaratkan seperti lomba lari. Mendekati garis finish, kita seperti dilanda kelelahan yang hebat. Dari sini kita dihadapkan dua pilihan. Apakah menyerah, takluk dengan godaan berupa rasa lelah itu, atau justru memacu tenaga kita untuk bisa secepatnya meraih pita kemenangan? Jika kita ingin menjadi pemenang, maka pilihannya adalah terus memacu tenaga sekuatnya, lari secepatnya untuk bisa sampai di garis finish yang sudah tampak di depan mata.

Begitu pula dengan ibadah kita di malam-malam terakhir Ramadan. Bukannya takluk dengan berbagai godaan, justru kita harus menambah frekuensi ibadah, terutama ibadah malam hari dengan i'tikaf di masjid, memperbanyak dzikir, dan mendirikan sholat malam.

Godaan di hari-hari terakhir Ramadan memang berat. Ada saja alasan yang menjadi pembenaran kita untuk malas beribadah malam. Yang paling sering adalah godaan untuk berbelanja kebutuhan lebaran. Di malam-malam terakhir Ramadan, pusat perbelanjaan justru lebih ramai daripada masjid.

Kita lebih suka beri'tikaf di Mall daripada di masjid. Kita lebih suka menghabiskan waktu di plaza daripada memperbanyak dzikir. Kita lebih senang membelanjakan kelebihan harta yang kita punya daripada disedekahkan untuk mereka yang lebih membutuhkan. Berat rasanya memasukkan uang seratus ribu ke kotak amal, tapi tangan ini seperti ringan tanpa beban mengambil uang satu juta untuk belanja baju baru.

Yang paling konyol adalah, sebagian besar dari kita sadar akan kelakuan ganjil nan kontradiktif itu di akhir Ramadan. Tapi dengan tanpa malu masih mengeluarkan pernyataan:

"Duh puasa kali ini gak maksimal, semoga bisa bertemu lagi dengan Ramadan tahun depan,"

"Gak kerasa udah mau Lebaran, cepat banget ya Ramadan berlalu."

Sebuah kepalsuan yang kita bikin sengaja. Bagaimana tidak palsu kalau hal itu sudah jadi siklus tiap tahun? Tahun ini sudah sadar, eh tahun depan terulang lagi "puasa tidak maksimalnya".

Sudah begitu kita masih mengklaim ingin merayakan Hari Kemenangan. Memangnya kita sudah menang? Kalau di sepakbola, kemenangan itu jelas. Kalau menang, dapat 3 poin dan (mungkin) posisi di klasemen naik. Nah, kalau kemenangan di bulan Ramadan? Parameternya adalah peningkatan ibadah kita. Naiknya derajat ketakwaan kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun