Himam Miladi
Himam Miladi Penulis

Freelance Content Writer| Blogger | Editor | Email : himammiladi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara

Analisa Pilkada Jawa Timur: Khofifah-Emil Bersinar, Gus Ipul Tenggelam

10 Januari 2018   22:37 Diperbarui: 10 Januari 2018   22:53 2626 0 0
Analisa Pilkada Jawa Timur: Khofifah-Emil Bersinar, Gus Ipul Tenggelam
pasangan Khofifah-Emil saat mendaftar ke KPUD Jawa Timur (sumber: Kompas)

Pemilihan Kepala Daerah Provinsi Jawa Timur akhirnya hanya diikuti dua pasangan calon saja. Koalisi tiga partai, Gerindra-PKS-PAN yang semula berharap bisa mengusung calon sendiri akhirnya bubar karena ketidaksamaan visi. Gerinda dan PKS berbalik mendukung bakal calon gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang diusung PKB dan PDIP, sementara PAN memutuskan untuk merapat pada bacagub Khofifah Indar Parawansa yang sebelumnya sudah diusung Demokrat, Golkar, Nasdem dan Hanura.

Melihat kultur masyarakat Jawa Timur yang mayoritas NU, langkah Gerindra-PKS-PAN yang rela tidak mengusung calon sendiri terlihat wajar. Dua bakal calon gubernur yang sudah diusung partai lain murni berdarah biru NU. Sangat berat rasanya jika ada partai yang mengusung bakal calon yang tidak punya rekam jejak ke-NU-an. Namun, bukan tidak mungkin. Karena untuk memenangkan sebuah pilkada hanya berkutat pada dua faktor saja, nama besar dan massa.

Peta Kekuatan Massa

Awalnya Gerindra bermaksud mengusung Ketua Kadin Jawa Timur yang juga mantan Ketua Umum PSSI, La Nyalla Matalitti. Sayangnya, surat mandat Gerindra dengan terpaksa dikembalikan La Nyalla karena hingga batas waktu dia tidak bisa melobi partai lain untuk menggenapkan kursi dukungan. Padahal La Nyalla berpotensi menjadi kuda hitam andai dia menjadi bakal calon gubernur ketiga. Boleh jadi La Nyalla punya rekam jejak tidak mengenakkan, khususnya dikalangan penggemar sepakbola. Tapi dia punya massa akar rumput yang kuat melalui ormas Pemuda Pancasila. Kekuatan La Nyalla hanya bisa diimbangi Khofifah yang sama-sama punya massa melalui organisasi sayap ibu-ibu NU, Fatayat. Tanyalah ke semua ibu-ibu NU anggota Fatayat dari kota hingga pelosok desa, pasti kenal dengan nama ketua umum mereka.

Bagaimana dengan Gus Ipul? Punya nama, tapi tidak punya massa. Masyarakat Jawa Timur boleh saja mengenal nama Gus Ipul, baik sebagai wakil gubernur maupun sebagai orang NU mantan Ketua Umum GP Ansor. Tapi Gus Ipul tidak punya basis massa yang besar dan kuat sebagaimana La Nyalla ataupun Khofifah. Kekurangan Gus Ipul sebenarnya bisa ditutupi dengan kehadiran Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Sayangnya, skandal foto paha membuat Abdullah Azwar Anas memilih mundur.

Selain prestasi memimpin daerahnya dan dikenal baik oleh warga Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas bisa berpotensi meraup suara di daerah Tapal Kuda. Di wilayah yang meliputi Kabupaten Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo sampai Pasuruan ini, nama Bupati Banyuwangi bisa dijadikan jaminan lumbung suara. Sayang sekali, alih-alih mencari kandidat nama calon wakil gubernur yang sepadan dengan Abdullah Azwar Anas, PDI-P malah mendaftarkan sebuah nama yang sama sekali asing didengar masyarakat Jawa Timur, Puti Guntur Soekarno.

Analisa Kekuatan Calon Wakil Gubernur

Tidak punya darah NU, tidak punya basis massa, juga tidak punya rekam jejak sebagai birokrat, apa yang hendak "dijual" dari nama Puti Guntur Soekarno? PDI-P seakan percaya diri bahwa nama besar Soekarno masih laris manis dikalangan masyarakat Jawa Timur. Cucu Soekarno dari Guntur Soekarno Putra ini juga bukan sosok yang "bercover" agamis. Padahal kultur ibu-ibu Jawa Timur adalah kultur yang agamis, bukan nasionalis. Boleh jadi PDI-P berharap nama Puti Guntur Soekarno bisa mendulang suara di daerah selatan Jawa Timur seperti Blitar, Jember, Malang, Trenggalek hingga Pacitan yang masih kental aura Soekarnoisme-nya. Tapi PDI-P lupa lawannya juga punya pendamping yang bisa menjegal ambisi tersebut.

Emil Dardak adalah sosok bupati termuda di Jawa Timur. Keputusan Golkar menggaet bupati Trenggalek ini dinilai sebagai langkah brilian. Jika Khofifah diharapkan bisa meraup suara di sepanjang pantai utara Jawa Timur, Emil punya potensi membukukan suara disepanjang wilayah selatan Jatim sampai ke wilayah Mataraman. Prestasinya membangun Kabupaten Treggalek membuat namanya terdengar sampai ke beberapa kabupaten sekitar. Emil juga punya nilai tambahan dari istrinya, artis Arumi Bachsin. Keberadaan Arumi yang selalu mendampingi suaminya bisa mendongkrak popularitas Emil dikalangan pemilih muda.

Melihat kondisi diatas, Khofifah-Emil diprediksi akan bersinar dan memenangkan pertarungan pilkada Jawa Timur. Sementara blunder PDI-P yang menaruh nama Puti Guntur Soekarno sebagai calon wakil gubernur justru akan membuat Gus Ipul tenggelam.