Himam Miladi
Himam Miladi karyawan swasta

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller” (Ibnu Batuta) @warungwisata.com

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight headline

Seperti Inilah Komposisi Wajah Sepak Bola Indonesia

13 Oktober 2017   09:31 Diperbarui: 13 Oktober 2017   14:33 1702 5 2
Seperti Inilah Komposisi Wajah Sepak Bola Indonesia
sumber: Football Tribe Indonesia

Ada sebuah infografis menarik yang dibuat laman Football Tribe Indonesia dan dijadikan judul artikel dalam laman tersebut. Sepak bola Indonesia: 50% Rusuh, 40% Dagelan, 10% Hiburan. Infografis ini seakan menggambarkan fakta, seperti inilah wajah sepak bola Indonesia pasca dibekukan Menpora Imam Nahrawi dan menghasilkan kepengurusan baru dibawah kepemimpinan Letjend Edy Rahmayadi. Jargon Reformasi yang diusung pengurus baru PSSI hingga satu tahun ini belum menampakkan hasil. Selain hanya kerusuhan, dagelan sepak bola, dan sisanya hiburan.

Entah sudah berapa banyak korban luka hingga meninggal dunia akibat sepak bola di satu tahun kepengurusan PSSI baru ini. Yang terbaru adalah kerusuhan antara suporter PSMS Medan dan Persita Tangerang. Diawali dengan saling ejek dan saling lempar botol minuman di stadion, suporter PSMS Medan yang sebagian besar adalah aparat TNI menyerang kelompok suporter Persita Tangerang. Akibatnya, puluhan suporter Persita terluka, dan satu orang akhirnya meninggal dunia.

Setiap kali ada kerusuhan yang mengakibatkan korban meninggal dunia, setiap kali pula kita berharap, ini adalah yang terakhir. Namun, harapan itu hanya menjadi sebuah utopia semata. Kerusuhan antar suporter tetap terjadi, dan korban meninggal tetap ada. Tentu saja, kita tidak akan lelah untuk berharap bahwa kerusuhan hingga mengakibatkan korban suporter meninggal akan berhenti. Tapi, harapan tanpa ada tindakan nyata dari PSSI dan pemerintah sebagai pemangku kebijakan hanya akan menjadi pepesan kosong belaka.

Saat dilantik menjadi Ketua Umum PSSI, Letjend Edy Rahmayadi menjanjikan Tata Kelola Sepak bola Indonesia yang lebih baik. Tata Kelola ini meliputi tata kelola organisasi, tim nasional hingga kompetisi. Nyatanya, hingga menjelang satu tahun kepengurusan dibawah Pangkostrad tersebut, PSSI tidak lebih baik dari yang sebelumnya. Tidak ada perubahan nyata yang dihasilkan pengurus PSSI yang mengklaim paling reformis ini. 

Yang dimaksud Tata Kelola Organisasi ternyata hanya sekedar mengutak-atik komposisi pengurus PSSI. Sedihnya, utak-atik ini justru dilakukan dengan melanggar Statuta dan Peraturan Organisasi. Wakil Ketua Umum dijadikan Kepala Staf, hingga Ketua Umumnya pun ikut mendaftarkan diri jadi bakal calon Gubernur, padahal dia belum satu tahun disumpah sebagai Ketua Umum PSSI.

Tak kalah buruknya adalah Tata Kelola Kompetisi. Peraturan yang sudah disepakati bersama pun bisa tiba-tiba berubah dan dilanggar tanpa ada penjelasan. Perihal marquee player hingga pembatasan usia pemain. Tak hanya masalah peraturan kompetisi, perjalanan kompetisi sepak bola Indonesia, baik di Liga 1 ataupun Liga 2 pun penuh dengan dagelan. 

Wacana dan isu tidak adanya degradasi di Liga 1 sempat menyeruak keluar. Dan dagelan terbaru terjadi ketika PSSI memberi kuasa pada PT. Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator untuk memutar "play off khusus" antara PSBK Blitar dan Persewangi Banyuwangi di kompetisi Liga 2. Padahal, menurut aturan baku kompetisi, seharusnya PSBK Blitar yang lolos play off karena menempati posisi keempat klasemen Grup 6, diatas Persewangi Banyuwangi yang menempati posisi kelima.

Carut-marut kompetisi pun akhirnya memuncak dengan munculnya ancaman mogok bermain dari 15 klub Liga 1 yang membentuk Forum Klub Sepak bola Profesional Indonesia (FKSPI). Dari 18 klub di kasta tertinggi tersebut, cuma 3 klub yang tidak ikut FKSPI, yakni Persib Bandung, Bali United dan PS TNI. Ancaman mogok tersebut mengemuka akibat tuduhan tidak adanya transparansi masalah hak siar hingga pembagian uang sponsor bagi klub peserta kompetisi.

Dari sekian persen wajah sepak bola Indonesia yang dipenuhi kerusuhan dan kelucuan, setidaknya PSSI masih menyisakan 10% sepak bola yang bisa menghibur publik melalui atraksi anak-anak muda di timnas U-19 dan U-16. Keberhasilan anak asuh Fachri Husaini menembus putaran final Piala Asia U-16 serta penampilan memikat anak asuh Indra Sjafrie di timnas U-19 setidaknya bisa menghapus dahaga pecinta sepak bola tanah air. Yang setiap harinya mereka hanya disuguhi berita kerusuhan antar suporter dan peraturan-peraturan lucu kompetisi dari PSSI.