Priesda Dhita Melinda
Priesda Dhita Melinda Guru Bimbingan Konseling

Ibu satu anak perempuan, yang ingin terus belajar / Contact : 08992255429 / email : priesda@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Parenting Pilihan

Ketika Mama Punya Keinginan

22 Mei 2018   01:13 Diperbarui: 23 Mei 2018   11:50 302 0 0
Ketika Mama Punya Keinginan
ilustrasi (pixabay)

Dulu waktu zaman masih pumping pengen banget beli cooler bag yang bisa muat laptop, jadi kalau kerja semua bisa masuk tanpa harus bawa banyak tas, apalagi tasnya warna ungu dan limited edition (ahh..intinya mah pengen beli), izin dulu sama si ayah, ayah pun setuju (sebenarnya ayah sih setuju-setuju aja mau beli apa aja asal aku bahagia dan ada hubungannya dengan Nadine, hahahaha). Akhirnya kebeli lah tas itu walau harus nunggu PO yang lumayan lama, tapi demi si ungu rela aja. 

Setelah datang tasnya, ya senang banget dong kemanapun dibawa sambil bawa botol ASIP, pokoknya jadi semangat pumping deh. Walaupun kalau bawa tas itu pasti diledekin yang mau ke gununglah, mau camping-lah, mau minggatlah, secara tas itu besar banget. Kosong aja kelihatan besar, apalagi kalau ada isinya.

Sudah selesai masa pumping, bukan karena malas alasan utama tapi Nadine udah nggak mau minum ASIP jadilah malas, merasa sia-sia ASIP yang diproduksi, si ungu pun mulai ditinggalkan. Dipakai sesekali kalau harus nginep tapi cuma semalam. 

Mulai menikmati masa tidak pumping, di FB dan Instagram mulai muncul ilmu gendong menggendong dengan gendongan yang praktis dan menarik hati. Awalnya nggak usah belilah mahal, pakai jarik aja dengan simpul, itu juga udah standar. Tapi makin lama badan Nadine mulai tambah berat, pegel pundak ini, apalagi badan kurus. Mulai deh lihat-lihat gendongan SSC (soft structure carrier) dengan berbagai  merk waktu itu yang aku suka ada merk cuddle me, Nana, dan Andrea. 

Tapi sih aku lebih suka yang merk Andrea, karena yang ada ukuran toddler-nya. Walaupun sebenarnya harganya lebih mahal dibandingkan dengan dua gendongan itu (cuddle me dan Nana). Demi keinginan tercapai keluarlah jurus "merayu ayah" (walaupun sebenarnya belinya pakai uang  gaji sendiri, tapi entah kenapa semenjak menikah kalau mau beli apa-apa yang mesti izin dulu, hehe..) dengan "mama tuh pegel kalau gendong Nadine pakai jarik kalau lama-lama". 

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Dan jadilah ikut arisan gendongan sama Mak Ullie (teman seperjuangan saat ASI, teman yang kenal dari dunia maya, tapi terasa dekat sekali), puji Tuhan dapat yang pertama (jarang-jarang dapat arisan yang pertama, padahal kocokan lho). Gendongan pun datang, ahh.. beneran kayak iklan dan komentarnya, gendongannya enak nggak bikin pegel, apalagi kalau pergi seringnya naik motor. Bisa sambil nenenin kalau di jalan, aah..intinya mah gendongan ini enak. Nyesel sih, kenapa nggak dari dulu belinya. Hahahahaha. Masih lirik-lirik gendongan lagi sih, tapi udah nggak punya alasan karena yang dimau udah punya cuma beda motif doang, pasti nggak diizinin.

Sekarang liat tas diapers dari Anello yang praktis dan kece mulai bertebaran, lihat harganya sebenarnya nggak terlalu mahal, tapi bingung alasannya apa nih ya..itu nasib tas ungu aja dibiarin aja, hahaha..

Hmm..ingat-ingat aja cicilan, tapi hati sisi yang lain udah beli aja, kan bisa arisan, cash juga bisa kan nggak terlalu mahal. Ahh..untuk tas Anello nanti ajalah ya (alibi banget, hahahahaha).

Beruntung bagiku saat ditugaskan ke Batam untuk uji kompetensi karyawan hotel (bisa baca di sini). Pas jalan-jalan ketemu tas diapres Anelo dan harganya setengah harga yang di pasaran. Aaahhh... Rasanya mau ambil tapi mikir nggak bawa uang lebih. Terus telpon ayah lagi, izin lagi untuk beli tas itu dan akhirnya diizinin (ayah sih cuma kasih izin aja, kalaupun nggak kasih izin tetap aku paksa untuk kasih izin, heheh). Singkat cerita akhirnya aku punya tas diapres Anelo itu. Mungkin ini cara Tuhan buat aku dapat tas itu.

Baru-baru ini sebenarnya sepatuku satu-satunya sudah mulai rusak dan berniat untuk beli lagi. Aku termasuk orang yang nggak suka gonta-ganti sepatu, kemana aja ya pakai satu sepatu. Makanya aku kalau cari model sepatu yang bisa dipakai ke semua acara. Waktu itu dapat berkat dari Tuhan, mau beli sepatu tapi ayah Nadine belum bisa antar. Akhirnya beli sepatu pun ditunda. 

Siang itu aku telpon uti Nadine untuk ngecek Nadine, ehh... Utinya cerita kalau Nadine rebutan mainan cashier-cashier an. Biasanya sih nggak pernah begitu, apa mungkin Nadine pengen ya. Memang sih, aku udah punya niat untuk beliin Nadine mainan itu, tapi nanti karena harganya kan lumayan. Sekarang aku cuma punya uang untuk beli sepatu. Tapi karena cerita ini, aku jadi berniat untuk menunda beli sepatunya dan beli mainan untuk Nadine aja. 

Aku sih sebenarnya nggak mau Nadine kebiasaan temannya punya apa dia harus punya. Tapi gimanalah perasaan ibu kalau dengar anaknya pengen mainan dan ibunya nggak bisa beliin. Toh, sekarang juga mumpung ada uang. Akhirnya pulang kerja, aku ajak ayah Nadine untuk beli mainan itu aja dengan uang yang harusnya aku beliin sepatu. Sampai di rumah, Nadine seneeeng banget lihat mainan itu. Sayang waktu itu dia lagi agak demam, jadi nggak terlalu bersemangat. Tapi sekarang saat udah sehat, dia senang mainan cashier-cashier an itu. 

Intinya sih sekarang kalau lihat sesuatu yang berhubungan dengan Nadine atau untuk Nadine, apapun dan berapapun diusahakan, tapi kalau untuk sendiri sebisa mungkin ya pakai aja yang ada (tapi namanya emak-emak ya pengen yang baru). Tapi masih bisa menahan diri.  

Rasa senang Nadine membuat aku menutup mata untuk tak melihat sepatuku yang sudah agak "mangap", hehe.. nggak apa-apalah masih bisa dipakai kok, tinggal dijahit sedikit sudah nggak keliatan lagi, yang penting Nadine senang. Besok pasti ada berkat lagi untuk beli sepatuku. Anggap saja dengan sepatu sedikit "mangap" itu melatih aku untuk percaya diri bukan dengan apa yang aku gunakan. Apapun yang ada di dalam diriku, aku harus percaya diri.