Mohon tunggu...
Priesda Dhita Melinda
Priesda Dhita Melinda Mohon Tunggu... Ibu satu anak perempuan, yang ingin terus belajar

Contact : 08992255429 / email : priesda@yahoo.co.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Rindu dari Belitung dalam Sebotol ASI

1 April 2018   23:50 Diperbarui: 1 April 2018   23:50 0 0 0 Mohon Tunggu...
Rindu dari Belitung dalam Sebotol ASI
Dokumentasi Pribadi

Bekerja jauh dari anak memang sangat menyiksa dan butuh pengorbanan. Ada pertarungan yang hebat di dalam hati antara ya dan tidak. Satu sisi harus memenuhi tanggung jawab dalam pekerjaan dan satu sisi berat untuk meninggalkan anak. 

Saat ini, tanggung jawab yang aku punya bukan sekedar pada pekerjaan tapi juga tanggung jawab dalam keluarga. Kenapa? Hmm... Ya gitu deh, tak layak aku ceritakan. Intinya kalau aku bisa memilih ya aku akan pilih di rumah saja bersama Nadine. 

Tapi apakah aku menyesal dengan ini? Tidak. Aku tak menyesal. Aku justru belajar untuk lebih dewasa dan bertanggung jawab pada apa yang aku pilih. Setiap pilihan pasti punya resiko yang harus ditanggung. Begitu juga saat ini. Aku memilih pekerjaan ini resikonya aku harus meninggalkan Nadine.

Saat ini aku berkesempatan untuk ke pulau Belitung-Bumi Laskar Pelangi-Kampung Ahok. Tempat dimana aku bisa meninggalkan bebanku sejenak. Membuat otakku refresh dan bisa me time tanpa harus sibuk mengurus hidupku yang sesungguhnya. Hidup yang berat menurutku saat ini. Tapi ya itu tadi ya, ini adalah pilihanku. Aku harus menikmatinya dan aku yakin ini adalah bagian yang harus aku lewati untuk mencapai kebaikan level di dalam hidup. 

Malam ini, rasa rindu pada Nadine muncul. Apalagi mendengar kabar kalau dia rewel. Hmmm... Apa karena aku merindukannya dan dia merasa. Untuk melepas rinduku, aku ambil botol ASI dan aku perah. Biarlah cara ini mengobati rasa rinduku pada Nadine. Aku berdoa untuknya supaya Nadine bisa tidur nyenyak tanpa aku dan aku juga bisa tidur tanpanya. Tiga malam bagiku bukan waktu yang singkat. Tapi semoga kegiatan dua hari ini berjalan cepat sehingga aku bisa segera pulang ke rumah.

Saat jauh dari Nadine seperti ini dan aku melihat anak kecil seusianya, rindu ini muncul. Aku coba alihkan pandanganku untuk melihat ke arah lain atau aku langsung melihat foto Nadine. 

Aku segera mengalihkan lagi rindu ini pada hal yang lain supaya Nadine tak merasakan hal yang sama denganku. Siang tadi aku merasa senang berada di sini, menikmati tempat yang aku kunjungi. Aku juga dapat laporan bahwa Nadine baik-baik saja dan mau main. Dia juga bahagia. Aaahhh... Ikatan batin ini nyata.

Nadine memang sudah hampir 2 tahun dan waktunya untuk disapih. Kalau kata orang-orang, kesempatan aku pergi seperti ini adalah kesempatan yang baik untuk menyapih. Tapi bagiku TIDAK. 

Aku tetap mau menggunakan metode WWL (weaning with love). Aku mau Nadine sendiri yang melepasnya. Aku tak mau memaksa dia. Maka dari itu, aku jauh-jauh ke Belitung ini membawa botol ASI dan perlengkapan pumping lainnya. Sebenarnya, memompa ASI ini adalah caraku untuk mengobati rindu pada Nadine. Biarlah aku tuang rasa rinduku ini pada sebotol ASI yang nantinya akan aku jadikan oleh-oleh untuk Nadine. Ini adalah bukti bahwa aku merindukannya.

Repot dengan pumping ASI? Tidak tuh. Aku sudah terbiasa dengan kegiatan ini dari dulu. Tak masalah bagiku untuk menutup ASIP ke restauran hotel dan berpesan untuk selalu menjaga baik-baik ASI-ku. 

Pihak hotel juga sudah terbiasa dengan penitipan ASI semacam ini, hanya kadang mereka kurang paham cara penanganannya yang benar. Maka dari sinilah kesempatanku untuk mengedukasi mereka. Bahwa ASI sebaiknya diletakkan di chiller saja, jangan ditaruh di freezer karena lebih susah mempertahankan ASI yang beku agar tetap beku saat dibawa nanti. Si petugas juga bertanya cara pemberian ASIP pada bayi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2