Mohon tunggu...
Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan Mohon Tunggu... Pengamat Intelijen, Mantan Anggota Kelompok Ahli BNPT

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Alasan Pilkada Jadi Titik Rawan Kasus Covid-19 di Indonesia

19 September 2020   14:01 Diperbarui: 21 September 2020   22:28 788 12 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Alasan Pilkada Jadi Titik Rawan Kasus Covid-19 di Indonesia
ilustrasi: Baliho sosialisasi pelaksanaan Pilkada 2020 terpasang di Jalan Siliwangi, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (6/9/2020). (Foto: KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN)

Persepsi intelijen menggunakan intelstrat untuk menang perang, intel taktis untuk menang pertempuran. Untuk menang perang kita harus menilai dan mengukur lawan dan pihak sendiri, yaitu kekuatan, kemampuan dan kerawanan (K-3). 

Perlu sekali disadari bahwa sudah 6 bulanan manusia dalam posisi yang diserang corona virus covid-1. Bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia kini sedang melakukan counter.

Formulanya sudah ditemukan, beberapa berhasil, tetapi masih banyak hambatan dalam penerapannya. Banyak yang justru berharap vaksin akan menjadi solusi terbaik, semoga saja demikian hasilnya, Aamiin.

Karena sedang perang dengan Covid-19, mari kita nilai K-3 dua belah pihak. Kekuatan Covid, saat ini tidak terukur. Kemampuannya mampu menginfiltrasi ke dalam tubuh manusia, mampu merusak organ, (terutama yg rentan lansia), serta segala usia yang punya (komorbid). Mampu bermutasi agar survive saat menginfeksi. 

Covid hingga 18 September 2020 terakumulasi mampu menginfeksi manusia sedunia, sebanyak 30.493.112 orang, mampu membunuh 952.300 jiwa. Di Indonesia covid sekitar 6,5 bulan mampu menginfeksi 236.519 dan mampu membunuh 9.336 jiwa.

Nah, dari persepsi intelijen, kerawanan adalah kelemahan, celah diantara kekuatan dan kemampuan lawan yang apabila dieksploitir maka lawan akan mengalami kelumpuhan dan bahkan menyebabkan kelumpuhan permanen.

Kerawanan dari kemahan covid ini, apabila manusia sukses memangkas daya edarnya dengan jaga jarak, bermasker, cuci tangan, jaga tingkat imunitas, maka corona virus ini akan otomatis habis terkucilkan tidak mampu beredar sendiri, karena covid menyebar memanfaatkan manusia. Kerawanan lain, serangannya dapat ditangkal dengan imunitas manusia, covid akan mati atau lumpuh dan manusia kembali sehat. 

Terbukti bahwa di dunia, seperti dilaporkan oleh WHO ada 22.327.232 orang yang sembuh, dan di Indonesia ada 170.774 orang yang sembuh. Artinya pada orang dengan imunitas yg tinggi dan terjaga, bukan kelompok rentan (Lansia dan semua kelompok usia yang memiliki komorbiditas), covid bisa kalah.

Detail Kerawanan Warga Indonesia Lawan Covid
Dalam perang melawan Covid-19, penulis melihat potensi kerawanan orang Indonesia dari presentasi Kepala BNPB, Letjen Dony Monardo, sebagai ketua Satgas pada 13 September 2020. 

Ditemukan fakta bahwa 4,4% warga DKI, serta 4,5% Jawa Timur tidak khawatir dengan virus Corona. Sementara 30% warga Jakarta dan 29,5% warga Jawa Timur yakin tidak akan tertular. Sementara di provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat dan Kalimantan selatan tercatat 18,3%, 16,4% dan 14,9%

Satgas Covid melakukan edukasi, sosialisasi dan mitigasi melalui jalur key formal dan informal, melibatkan pakar Antropolog dan Sosiolog. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN