Mohon tunggu...
Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan Mohon Tunggu... Pengamat Intelijen, Mantan Anggota Kelompok Ahli BNPT

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Berisiko Disusupi Teroris, Ini Imbauan untuk Tolak Pengerahan Massa

19 Mei 2019   11:11 Diperbarui: 23 Mei 2019   00:03 0 6 1 Mohon Tunggu...
Berisiko Disusupi Teroris, Ini Imbauan untuk Tolak Pengerahan Massa
Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal M Iqbal saat konferensi pers di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (17/5/2019). (Foto : Kompas.com)

Beberapa waktu terakhir beredar seruan-seruan keras akan dilakukannya aksi massa ke KPU, Bawaslu dan Istana pada pengumuman hasil pilpres 2019 tanggal 22 Mei 2019. Selebaran gelap itu adalah propaganda, sepertinya implementasi penolakan Prabowo dan BPN terhadap penghitungan manual KPU.

Dalam ilmu intelijen, ini disebut PUS (Perang Urat Syaraf), yaitu propaganda plus kegiatan, subsistem fungsi intelijen yaitu sarana penggalangan. PUS Prop adalah salah satu sarana cipta kondisi yang ampuh untuk merendahkan musuh dan menghasut kebencian terhadap kelompok tertentu atau lawan.

Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi informasi yang dirancang untuk merangsang reaksi emosional dari pada reaksi rasional. Tujuan yang ingin dicapai agar target mau berfikir, berbuat dan memutuskan seperti apa yang diinginkan si pembuat.

Kondisi Yang Berlaku

Saat ini  secara massif, gelaran Propaganda, dimana disebarkan meme-meme atraktif, serta video-video beberapa ulama daerah yang intinya menuduh KPU dan Bawaslu telah curang. Sasaran akhirnya adalah agar publik terprovokasi tidak percaya dan mengganti pemerintah yang sah, serta menerapkan Syareat Islam.

Sebaran Meme ada yang identik narasi militansi kelompok teror. Narasi, intinya merangsang siapapun target yang percaya untuk siap mati tanggal 22 Mei, dengan judul Tercium Wangi Surga di Jakarta, berbekal baju sehelai dengan sorban hitam. Ini praktek umum dari persiapan aksi teror, dan dicantolkan kepada kepercayaan berjihad dan mati syahid.

Dari pengalaman bertugas di BNPT, penulis mengingatkan kepada Prabowo serta BPN, ada penumpang gelap kelompok teror yang sedang menyiapkan sel-selnya terlibat aksi massa. Sepertinya seirama dengan Prabowo serta BPN yang menolak hasil penghitungan manual KPU. Itulah mereka, para teroris ex Suriah atau simpatisan JAD/ISIS.

Penangkapan Teroris

Densus 88 Mabes Polri telah menangkap total 29 terduga teroris selama bulan Mei 2019. Mereka disebut sebagai bagian dari jaringan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dari hasil pemeriksaan ditemukan peralatan teror serta adanya pengakuan rencana melakukan serangan bom bunuh diri pada 22 Mei 2019. Sedangkan sejak periode Januari-Mei 2019 terduga teroris yang ditangkap sebanyal 69 orang.

Data penangkapan menurut Kadivhumas Mabes Polri, pada Sabtu (4/5) diangkap enam terduga teroris, satu ditembak mati di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. SL, AH, AN, MC dan IF alias Samuel yg memiliki kemampuan merakit bom. Terduga teroris keenam, Tarafudin saat mau ditangkap melawan melemparkan bom tabung gas akhirnya ditembak dan bomnya meledak, yang bersangkutan akhirnya tewas

Polisi menyatakan para terduga teroris terkait dengan kelompok Jaringan Ansharut Daulah (JAD) Lampung. Solihin (SL), adalah  jaringan ustadz Misgianto yg sudah ditangkap lebih dulu. Jaringan ini JAD lokal, belum pernah ke Suriah.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta mengumumkan Rabu (15/5) Densus menangkap delapan terduga teroris yaitu AH alias Memet (26), A alias David (24), IH alias Iskandar (27), AU alias Al (25), JM alias Jundi alias Dian (26), AM alias Farel (26), Tatang, dan PT alias Darma (45).Ketujuhnya pernah ke Suriah. Kedelapan terduga teroris itu ditangkap di wilayah berbeda, mulai Grobogan, Sukoharjo, Sragen, Kudus, Jepara, dan Semarang. Satu.orang ditembak mati.

Risiko Pembiaran Aksi

Apabila Prabowo tetap membiarkan pendukung fanatisnya beraksi bebas, besar kemungkinan kelompok teroris yaitu sel tidur JAD dan alumnus Suriah akan sukses melakukan penetrasi ke pendukungnya dengan membawa bom rakitan dengan paku.

Penangkapan di safe house Bekasi membuktikan memang mereka sedang persiapan akan melakukan bom bunuh diri di antara pendemo Gedung KPU Jakarta dari safe house terdekat. Karena itu meme khas teroris yang kini beredar jelas mengundang simpatisan JAD/ISIS lainnya agar lebih berani dan sukses melakukan amaliah menuju surga dengan bom bunuh diri.

Tujuan mereka jelas berbeda dengan protes BPN, mereka hanya ingin melakukan aksi serangan bunuh diri untuk menunjukkan eksistensinya masih ada. Tidak peduli korbannya polisi atau pendemo. Momentum protes dan kemelut yg diciptakan pendukung Prabowo hanya mereka tunggangi dan manfaatkan.

Hal lain yg juga harus diwaspadai, simpatisan ISIS di Syria melatih anak-anak dan wanita Indonesia di camp khusus melatih anak-anak dibawah umur, Bahad Abdullah Azam menjadi suicide bomber. Pernah terjadi di Surabaya seorang ibu dengan dua anaknya.

Nah, dengan perkembangan informasi dan analisis intelijen diatas, apakah Prabowo dan BPN masih ingin mengambil resiko, dimanfaatkan para teroris itu?. Srilanka beberapa waktu lalu babak belur dihantam bom, korban tewas 310, luka-luka 500. Memang mau membiarkan hal seperti itu terjadi di sini? Siapkah bertanggung jawab kalau banyak mayat pendemo yang hancur terputus tubuhnya, terajam paku dan bersimbah darah.

Apa keuntungan Prabowo dan BPN dengan kondisi yang berlaku? Ini pesta demokrasi politik, bukankah target Gerindra, PKS dan PAN sudah tercapai? Apabila benar terjadi the worst cindition, maka Gerindra bisa ikut menjadi tercemar namanya. Citranya bisa turun.

Perlu diingat, kondisi saat ini berbeda dengan saat Bung Karno atau Pak Harto jatuh. Ini bukan urusan anti Pak Jokowi, tetapi urusan pilpres dikaitkan dengan ideologi, terlihat gamblang dari video yang beredar, beberapa orang (Ulama Daerah) lebih menyerukan ganti pemerintah dan ingin penerapan Syareat Islam. Itulah intinya, jelas berbeda dengan misi dan visi Prabowo dan BPN.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2