Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan Tentara

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Saran untuk Golkar Pasca Pileg 2019

8 April 2019   18:52 Diperbarui: 9 April 2019   21:43 248 9 2
Saran untuk Golkar Pasca Pileg 2019
Foto: Dokumentasi Indra Bambang Utoyo

Tadi malam Pray melakukan perenungan, berpikir dan menulis tentang prediksi dari 16 parpol mana yang akan lolos ke Senayan.

Ambang Batas Parlemen atau Parliamentary threshold (PT) 4 persen itu berat. Hanya parpol yang memiliki Ketum dengan citra baik atau lumayan sebagai Patron atau parpol yang sistem pengkaderannya baik akan bisa lepas dari jepitan PT, bisa  menduduki kursi DPR  di antara 560 wakil.

Membahas tiga besar parpol hasil survei yang Pray tulis malam hingga pagi tadi pkl 02.00, didapat kesimpulan, PDIP sebagai partai Anker dengan tagline "wong cilik" sulit tergoyahkan. Elektabilitasnya diperkirakan antara 23,5 - 26,9 persen. Pengaruh pak Jokowi sebagai capres jelas menjadi kekuatan bagi PDIP. Peran Ibu Megawati yang masih dianggap setengah Dewa mampu menjaga soliditas PDIP.

Sementara Gerindra diuntungkan karena tokohnya jadi capres. Prabowo dilihat sebagai purn. Militer yang muncul di antara dominasi tokoh-tokoh sipil. Ada nilai ketegasan yang masih disukai rakyat. Melihat hasil survei 5 lembaga  yang dipakai, posisi Gerindra berada di dua besar, range bawah dan atasnya antara 11,7-17 persen.

Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi

Sementara Partai Golkar diprediksi pada posisi ketiga dengan prediksi range perolehan 9,4-11,8 persen. Gerindra tetap lebih unggul dari Golkar, posisi hanya bisa bergeser bila pada waktu terakhir tingkat kesukaan terhadap Golkar naik dan Gerindra stagnan.

Ini diuntungkan dengan nilai 2 persen dari margin of error survei yang rata2 2% serta ada responden yang belum menjawab. Nah, baru Golkar sebagai partai anker senior bisa nyalip. Prediksi ini nampaknya kecil.

Kelemahan Golkar sebagai partai senior yang berkiprah terlama, salah satu faktornya karena Ketumnya kalah pamor dari Megawati dan Prabowo. Budaya paternalistik masih kental, di mana peran patron sangat penting.

Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Kesimpulannya, Golkar butuh strong leader. Untuk ini perlu mereformasi pengurusya, terutama Ketumnya. Apabila Golkar setalah pileg berani memutuskan mengganti Ketum yang kuat. Jangankan Gerindra, kemungkinan bisa juga mengimbangi PDIP.

Dari spotting  intelstrat komponen politik, sejarah dan biografi, Pray menyarankan kepada jajaran Golkar untuk memilih Bapak Indra Bambang Utoyo (IBU) menjadi Ketum Golkar.

Mengapa IBU? Partai Golkar butuh pemimpin yang bersih, berani dan memiliki pemahaman yang cukup  tentang dunia perpolitikan Indonesia yang berwarna putih, abu-abu dan hitam. Anak kolong yang kini masuk dan banyak bersentuhan dengan pakar-pakar intelijen ini semakin mumpuni cara berpikir sebagai analisis intelijen politik yang merupakan ilmu mengelola strategi parpol di Indonesia.

Foto: Dokumentasi Pribadi
Foto: Dokumentasi Pribadi
Ini hanya pemikiran dan perkiraan intelijen bagi Golkar, secara realistis. Setelah sekian lama bergaul denga IBU, Pray semakin mengenalnya. Bahkan ada tokoh intelijen AS yang menyebut Mas Indra ini sebagai "white Golkar". Ini membuktikan bahwa kita selalu diamati intelijen asing...

Mohon maaf kepada jajaran Golkar kalau ada yg tidak pas. Ini hanya sekedar saran demi kebaikan bersama. Semoga bermanfaat. 

(Pray, Old Soldier, non partisan)