Prayitno Ramelan
Prayitno Ramelan profesional

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net

Selanjutnya

Tutup

Politik

Marsdya Pur Toto Riyanto Salah satu Calon Kuat Ketum Demokrat

17 Maret 2013   07:05 Diperbarui: 24 Juni 2015   16:38 1362 2 8

Pada artikel terdahulu, penulis menuliskan siapa calon Ketua Umum Partai Demokrat yang akan menggantikan Anas Urbaningrum. Calon yang menguat namanya saat itu adalah Marzuki Ali (Ketua DPR RI), Marsekal Pur Djoko Suyanto (Menkopolhukam) dan Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo (Kasad). Dalam perkembangannya, nampaknya akan dilaksanakan KLB di Bali pada akhir Maret 2013.  Karena Djoko menolak, menurut penulis hanya Marzuki atau Pramono Edhie yang kuat posisinya. Baca "Siapa Pengganti Anas?" http://ramalanintelijen.net/?p=6467 Menjelang KLB, banyak kemudian usulan dari beberapa tokoh Demokrat. Misalnya Ketua DPD Bali Made Mudarta mengusulkan SBY saja yang menjadi Ketua Umum, apabila menolak, diusulkan lapis kedua dari internal seperti Toto Riyanto, Hadi Utomo, Jero Wacik atau Syarief Hasan. Lain lagi usulan Sekretaris Pusat Pengembangan Strategis dan Kebijakan Demokrat, Chatibul Umam Wirano, yang berharap calonnya dari purnawirawan TNI, mengingat situasi darurat partai. Ada empat figur yang menurutnya pantas, yaitu Toto Riyanto, Pramono Edhie, Djoko Suyanto dan Hadi Utomo. Menurut Prof Achmad Mubarok, kemungkinan peserta KLB akan menyetujui calon yang dipilih oleh Pak SBY. Mubarok yakin peserta KLB akan ikut kemauan SBY sebagai Ketua Majelis Tinggi. Ketua Fraksi Demokrat DPR Nurhayati Ali Assegaf mengatakan, calon-calon ketua umum akan ditentukan lebih dahulu oleh Majelis Tinggi, sebagai realisasi pemyelamatan partai, setelah itu nama calon akan diserahkan ke floor. Kalau peserta KLB setuju, kesatu nama kemungkinan bisa langsung aklamasi, aklamasi menurnya demokratis. Beberapa senior serta juga Ketua DPD menyatakan ketua umum yang baru tidak terkait kubu-kubuan, harus kader tulen, atau punya KTA dan tidak punya ambisi menjadi capres. Syarat lainnya, si calon harus mencurahkan seluruh waktunya untuk partai, karena Partai Demokrat perlu melakukan konsolidasi mendekati pemilu. Disinilah butuh ketua umum yang fokus dan penuh berkonsentrasi, artinya dia tidak sedang menduduki jabatan struktural di pemerintah.  Katua katanya perlu fokus melakukan penataan manajemen agar PD kembali berjaya. Nah dari apa yang disampaikan nama-nama yang yang dimunculkan tokoh-tokoh  PD, serta kriteria essensial calon ketua umum, nampaknya bayangan calon ketua umum mulai nampak. Nama internal yang kuat adalah Marzuki Ali, Toto Riyanto dan Hadi Utomo. Kalau diukur dengan kriteria essensial, kemungkinan Marzuki Ali sebagai Ketua DPR tidak akan dipilih. Kini hanya Toto dan Hadi Utomo yang berpeluang. Nampaknya posisi Toto Riyanto yang selama ini menjabat sebagai Direktur eksekutif Demokrat peluangnya lebih besar dibandingkan Hadi Utomo. Marsdya TNI (Pur) Toto Riyanto SH,SIP,MH Toto Riyanto yang kini menjabat sebagai Direktur Eksekutif DPP-Partai Demokrat adalah purnawirawan TNI AU dengan pangkat terakhir Marsekal Madya TNI (Setingkat Letnan Jenderal, bintang tiga). Toto yang alumnus Akabri Udara angkatan 1973 adalah teman satu angkatan dengan Presiden SBY, Menkopolhukam Marsekal Pur Djoko Suyanto, Marsekal Pur Herman Prayitno (kini Dubes RI di Malaysia) dan juga mantan Kapolri Jenderal Pol (Pur) Sutanto. Toto yang menjadi kandidat doktor hukum internasional penulis kenal dengan baik sebagai sesama perwira yang pernah sama-sama bertugas di TNI AU. Marsdya Toto merupakan lulusan Akabri Udara 1973, daimana penulis alumnus Akabri Udara 1970. Walaupun berbeda Angkatan,  Toto sebagai perwira penerbang tempur F-5E Tiger yang handal, pernah bersama-sama penulis serta Djoko Suyanto, Herman Prayitno serta beberapa alumnus Akabri Udara 1973 lainnya  mengikuti Seskoau di Lembang selama sebelas bulan (1989/1990). Baca artikel penulis "Keistimewaan Seskoau Angkatan ke-26", http://ramalanintelijen.net/?p=206. Karier Toto Riyanto setelah berpangkat Kolonel berkembang dan menduduki jabatan sebagai Atase Pertahanan RI di London selama tiga tahun, kemudian Toto mendapat penugasan lanjutan sebagai Athan RI di PTRI New York, juga selama tiga tahun. Sekembalinya dari New York, Toto yang berpangkat bintang satu (Marsma) menggantikan penulis menduduki jabatan sebagai Wakil Asisten Pengamanan (Waaspam Kasau), dan  penulis mendapat penugasan sebagai Staf Ahli Menhan (saat itu Pak Mahfud MD). Karier Toto terus berkembang setelah menduduki beberapa jabatan strategis di TNI AU, dan jabatan terakhirnya di militer dengan pangkat bintang tiga adalah Wakil Gubernur Lemhannas. Disitulah perwira penerbang yang juga pernah mengikuti pendidikan intelijen ini menjadi perwira yang terlatih berfikir strategis. Sebagai sesama rekan di TNI AU, penulis tetap berhubungan dengan Toto yang mendapat tugas berat sebagai Direktur Eksekutif diantara para politisi Partai Demokrat yang kita ketahui kemudian beberapa diantaranya mendapat masalah. Toto tidak banyak berbicara dan bukan tipe yang suka menonjolkan dirinya, dia tekun bekerja dan berfikir yang lurus-lurus. Dia lebih memikirkan manajemen PD yang banyak dilanggar. Sejak penulis kenal saat pangkatnya Letnan Kolonel, Toto memang keras memegang prinsip, jujur dan tidak suka macam-macam. Penulis pernah menyampaikan apakah dia bisa nyaman hidup dikalangan politisi yang sering cara berfikirnya pragmatis, berbeda dengan dasar pendidikan militer yang koridornya sudah ditetapkan. Dia mengatakan diikuti saja, yang penting saya tidak terkontaminasi apabila ada yang berfikir miring di internal. Justru beberapa politisi sering berbeda pendapat dengan Toto apabila sudah berbicara soal anggaran. Tetapi dengan lengkapnya pendidikan serta pengalaman di jabatan strategis, semua dijalaninya dengan senyum dan menjaga kebersihan hatinya. Pernah suatu hari salah satu senior penulis menanyakan mengapa Toto berada di Partai Demokrat, cari perkara katanya. Sudah tahu PD adalah kapal yang bocor dan akan karam kok dia justru duduk di first cabin class? Itu pertanyaan menggelitik baik bagi penulis dan khususnya Toto. Sebagai perwira dari komuniti intelijen, penulis meyakini bahwa ini adalah bagian pengabdian Toto di usia senja setelah purna. Tantangan yang dihadapi tidak akan membuat kita yang masih mau sibuk mengabdi  menjadi lemah, justru akan menjadikan kuat dan gagah dalam mengabdikan diri kepada bangsa dan negara. Penulis percaya bahwa ini adalah bagian ibadah apabila kita laksanakan dengan ikhlas. Sebagai penutup, penulis ucapkan selamat berjuang Dimas Toto, selamat bertugas, tidak perlu goyah, jangan lemah, tetap tegar, anda sudah memilih ranah pengabdian melalui jalur Partai Demokrat, do the best. Kalau benar anda terpilih menjadi Ketua Umum PD, jalankan tugas tersebut dengan ikhlas, pegang amanah yang dipercaya keluarga besar PD. Kalaupun tidak menjadi Ketua Umum, lanjutkan perjuangan seperti masa kini dan masa lalu. Tidak perlu ambisi, penulis percaya itu, tetap hati-hati dan waspada dengan madu dan racun di politik. Penulis mendoakan tetap sukses dan dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin. Salam. Oleh : Prayitno Ramelan, www.ramalanintelijen.net Ilustrasi Gambar : demokrat.or.id