Mohon tunggu...
Prawira Tama
Prawira Tama Mohon Tunggu... Pembaca amatir

Prawira Tama, lahir di Lumajang tahun 1992 dan hidup secara nomad di beberapa kota. Tergabung dalam komunitas “Lentera Sajak” sejak 2019. Beberapa puisinya dimuat di majalah Mata Puisi dan situs haripuisi.com. Pernah terlibat dalam penulisan buku antologi Bulan di Atas Pandemi (Media Literasi, 2021).

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Asal-usul Rengginang

22 Maret 2021   11:45 Diperbarui: 22 Maret 2021   12:04 121 3 0 Mohon Tunggu...

Nasi sudah tak mau lagi menjadi bubur
Dia bosan bersikap pasrah menanggapi kenyataan
Tampak lemah diaduk lakon keserakahan

Suatu hari di terik siang dia mengeras hati
Merenung tentang masa lalu yang indah
Di mana tanah kelahiran berwarna hijau padi
Orang-orang menyebutnya sebagai sawah
Tempat asal mula harapan singgah
Tanah yang subur untuk menanam rezeki
Diairi oleh tetes keringat para petani

Kini sawah menjelma bangunan-bangunan
Siang menjadi bertambah terik
Dan nasi semakin keras hati
Dalam perenungannya terbisik impian
Dia ingin meremah-remah kegundahan
Menikmati hidup dengan cara paling renyah

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x