Mohon tunggu...
Emanuel Pratomo
Emanuel Pratomo Mohon Tunggu... .....

twitter: @prattemm88 mail: prattemm@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Selamat Tak Terpapar Radiasi Nuklir

3 Oktober 2018   20:59 Diperbarui: 4 Oktober 2018   21:10 0 0 0 Mohon Tunggu...
Selamat Tak Terpapar Radiasi Nuklir
Ilustrasi Petugas BAPETEN (Foto: Prattemm)

Ketika mendengar kata radiasi, pastinya akan lebih teringat dengan nuklir. Banyak ingatan masyarakat awam yang tertanam akan istilah radiasi nuklir. Apalagi dalam mata pelajaran sejarah di sekolah, selalu diperbincangkan peristiwa dua kota di Jepang yang harus merasakan pedihnya bom nuklir pada tahun 1945. Pasca berakhirnya Perang Dunia Kedua, justru pihak Jepang banyak membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Hingga saat ini terdapat total 56 PLTN di daratan Jepang. Dari sekian rentetan peristiwa gempa bumi yang pernah melanda Jepang, PLTN Fukushima Daichi harus terguncang kebocoran hebat pada bulan Maret 2011. PLTN pertama di Jepang tersebut yang mulai dibangun tahun 1966 dan beroperasi tahun 1971, melengkapi kedahsyatan rusaknya reaktor nuklir sesudah peristiwa Threemile Island, AS (1979) dan Chernobyl, Uni Soviet (1986)

Sementara rangkaian uji coba rudal balistik antar benua oleh Korea Utara pada tahun 2017, telah mengkhawatirkan dunia khususnya pihak Jepang yang paling terdampak wilayahnya atas uji coba tersebut. Uji coba ini memiliki laiknya ciri-ciri uji nuklir, seperti yang diklaim pihak Korea Utara maupun para tetangganya seperti Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan. Reaksi internasional terutama Amerika Serikat, melakukan rangkaian tekanan keras terhadap Korea Utara agar menghentikan program nuklirnya.

Masyarakat awam akhirnya memahami bahwa nuklir itu identik dengan peperangan, dimana terjadi penggunaan bom nuklir dan rudal nuklir. Banyak penderitaan yang harus dialami akibat terpapar radiasi nuklir, misalnya kerusakan lingkungan dan kecacatan genetika tubuh manusia. Sementara perubahan genetika manusia akibat reaksi nuklir yang diceritakan dalam film fiksi, tentunya sangat membekas dalam ingatan yang menontonnya. Film serial televisi "The Incredible Hulk" yang telah ditayangkan perdana sejak 1978, mengisahkan ilmuwan yang terkena pancaran sinar gamma dalam rangkaian penelitiannya. 

Namun 'kecacatan' yang terjadi adalah perubahan dirinya menjadi makhluk berwarna hijau terang dengan ketinggian tujuh kaki. Sang ilmuwan akan selalu bertransformasi menjadi makhluk bernama "Hulk", tatkala sedang mengalami kemarahan luar biasa terutama akibat perlakuan tekanan fisik yang berat. Rasa amarahnya akan dilampiaskan dengan menghancur leburkan siapa saja yang telah berusaha menyakitinya. Ketika telah mengalami ketenangan di tempat yang sunyi, akan kembali berwujud sebagai manusia normal kembali.

The Incredible Hulk (Foto:i.amz.mshcdn.com)
The Incredible Hulk (Foto:i.amz.mshcdn.com)
Jadi gak bisa bayangkan seandainya terpapar radiasi nuklir beneran. Jadi berpikiran seperti apakah teknologi nuklir, seandainya diaplikasikan di Indonesia...

Beruntunglah diriku mendapatkan kehormatan dalam rombongan Badan Pengawasan Tenaga Nuklir Nasional (BAPETEN), untuk menyaksikan secara langsung Reaktor Nuklir ketiga Indonesia bernama Pusat Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (PRSG-GAS) BATAN yang beroperasi penuh pada 20 Agustus 1987. Namun para pengunjung harus mematuhi aturan ketat dan tegas dari BATAN. Alat tulis, tas, kamera, ponsel, harus rela dititipkan di konter pintu masuk PRSG-GAS. Kalau dipikir-pikir sih, ini demi keamanan dan keselamatan bersama. 

"Reaktor Serba Guna G.A.Siwabessy merupakan reaktor untuk kegiatan produksi isotop, penelitian iptek, tes dan uji material, dan lainnya," ujar Poerwadi (Kasubdit Layanan Informasi PRSG-GAS BATAN), saat mendampingi kunjungan rombongan BAPETEN pada 26/09/2018 lalu di area lobi Pusat Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (PRSG-GAS) dalam Kompleks BATAN di Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang Selatan.

Poerwadi menjelaskan bahwa PRSG-GAS telah dimulai pembangunannya sejak 1983, dimana telah mencapai titik kritis di bulan Juli 1987. Sebulan kemudian pada 20 Agustus 1987, Presiden Soeharto meresmikan beroperasinya PRSG-GAS. Operasi reaktor telah dapat dilakukan dengan daya penuh 30 MW sejak bulan Maret 1992. Untuk efisiensi dalam operasional harian, PRSG-GAS dijalankan dalam kapasitas 15 MW.

Pastinya banyak yang masih awam, mengapa nama reaktor nuklir dinamakan Pusat Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (PRSG-GAS). Siapakah gerangan G.A. Siwabessy?

Ketika Amerika Serikat melakukan banyak percobaan bom hidrogen di kawasan Pasifik di era 1950-an, Presiden RI Soekarno menunjuk Gerrit Augustinus Siwabessy untuk mengatasi dampak yang mungkin akan timbul bagi Indonesia. G.A. Siwabessy yang kala itu memimpin Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan, segera membentuk Panitia Penyelidikan Radioaktivitas & Tenaga Atom pada tahun 1954. Selang empat tahun kemudian, G.A. Siwabessy membentuk Lembaga Tenaga Atom yang berada dalam naungan Sekretariat Negara. Untuk menyiapkan tenaga ahli di bidang fisika, kimia, dan matematika, G.A. Siwabessy juga mendirikan Fakultas Ilmu Pasti & Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia pada tahun 1963.

Tahun 1964 berdirilah Direktorat JenderalBadan Tenaga Atom Nasional (BATAN), dimana G.A. Siwabessy diamanatkan sebagai direktur jenderal yang pertama. Setahun kemudian G.A. Siwabessy diangkat sebagai Menteri BATAN. Jabatan sebagai Menteri Kesehatan pertama pun diamanatkan ke pundaknya. Bapak Atom Indonesia ini juga diamanatkan sebagai Menteri Kesehatan pada tahun 1966. Kemudian mendapatkan apresiasi  Bintang Mahaputera III pada 1976, atas jasa-jasanya dalam pengembangan penelitian dan pembangunan tenaga nuklir di Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5