Yudha Pratomo
Yudha Pratomo Journalist

is typing...

Selanjutnya

Tutup

Media

Layakkah Kami, Para Blogger Disetarakan dengan Awak Media?

13 Februari 2018   13:02 Diperbarui: 13 Februari 2018   13:09 521 1 0
Layakkah Kami, Para Blogger Disetarakan dengan Awak Media?
Ilustrasi. HBW.co.uk

WAHAI ADMIN, LEWATKAN SAJA TULISAN INI.

Commuterline, 9 Feb. 2017

Pikiran itu tiba-tiba muncul setelah melihat judul sebuah berita di halaman pertama Harian Kompas. Hari Pers Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Februari ini mendorong sebuah pertanyaan keluar yakni: Apakah para blogger bisa disetarakan dengan para jurnalis?

Saya akan sedikit cerita tentang latar belakang saya. Sedikit saja. Saya pernah bekerja di sebuah media nasional, sebagai jurnalis (dan mungkin akan terulang). Tidak lama memang, hanya sekitar satu setengah tahun yang boleh dibilang belum cukup dewasa kehidupan saya sebagai jurnalis waktu itu.

Hidup sebagai jurnalis adalah sebuah "keasyikan" tersendiri. Bahkan tidak jarang hal ini bisa menjadi candu bagi para penikmatnya. Setiap hari, tantangan yang dihadapi selalu berbeda. Bertemu orang baru, kawan baru, bahkan "musuh" baru bisa saja terjadi di lapangan setiap saat. Itu yang membuatnya menjadi nikmat, ada "greget" tersendiri yang bisa saya rasakan ketika itu.

Oke, cukup.

Kemudian, saya beralih pekerjaan, masih dalam lingkup media, tapi 180 derajat sangat berbeda. Pekerjaan saya kali ini sangat bersinggungan dengan apa yang disebut "ngeblog". Sebagai penulis dan pengembang konten, tidak jauh-jauh jobdesk yang saya hadapi dengan pekerjaan saya yang sebelumnya. Tapi tetap, perbedaannya 180 derajat.

Dalam jobdesk yang saya dapat di kantor ini, saya diminta untuk banyak menulis, menghasilkan konten untuk memperkaya kuantitas dan kualitas tulisan namun dengan gaya yang berbeda dengan media arus utama. Jelas, gaya tulisan yang harus saya anut adalah gaya para blogger yang lebih personal, bisa mengandung subjektivitas, dan tentu dengan sudut pandang berbeda.

Sulit? Jelas sulit.
Terbiasa dengan gaya tulisan arus utama yang bertumpu pada kejadian, objektivitas, serta aktualitas membuat saya pusing setengah mati. Pasalnya, meski tulisan blogger (bisa dianggap) lebih bebas, fleksibel, dan ringan, saya harus menyisipkan opini dalam tulisan agar nilai-nilai tulisan tidak hilang dan hambar. Beropini ga susah-susah amat kok, tapi memertahankannya yang sulit. Itu. Opini yang disisipkan harus berdasar kenyataan, data, dan ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.

Lalu apa kemudian blogger bisa dibilang lebih hebat dari jurnalis? Jawabannya: tidak demikian.

Jurnalis dan blogger punya karakteristik yang berbeda, punya kekuatan serta tanggung jawab yang berbeda. Seorang jurnalis adalah representasi dari sebuah media, artinya tanggung jawab yang diemban bukan lagi secara personal, tapi juga korporat. Bahkan ketika seorang jurnalis melakukan kesalahan-salah pemberitaan misalnya- yang disorot bukan hanya persona pribadi, namun juga institusi. Lagipula jika kita bicara soal sumber informasi, mau tidak mau harus kita akui bahwa media arus utama adalah kiblatnya dan para blogger belum sepenuhnya bisa mencapai titik ini. Makanya saya bilang tanggung jawab moralnya para jurnalis ini lebih besar.

Meski memang dalam beberapa momen atau waktu bisa saja para blogger mengambil peranan sebagai sumber berita utama. Tapi itu di beberapa waktu saja dan kendati demikian, inilah yang jadi kekuatan para blogger.

Ruang gerak blogger, menurut saya lebih bebas dan tidak terbatas. Kami (atau mereka) para blogger tidak dikukung oleh kode etik institusi maupun jurnalistik. Hanya saja ada UU ITE yang boleh jadi acuan agar kebebasan inu tidak kelewat batas. Karena itu, blogger harus bisa mengambil sudut pandang berbeda dengan arus utama dalam angle tulisan.

Saya ambil contoh ketika muncul wacana pemblokiran Whatsapp oleh Menkominfo Rudiantara karena adanya konten pornografi dalam fitur GIF. Media arus utama jor-joran memberitakan sebab dan akibat dari wacana ini, tak sedikit kemudian pro dan kontra muncul. Dari kasus ini, blogger bisa mengulas dengan sudut pandang lain. Misalnya, menceritakan kisah unik seorang Rudiantara menghadapi laporan-laporan konten negatif di Whatsapp atau mungkin cerita di lingkungan sekitar dari para pengguna Whatsapp yang merasa "terancam" dengan wacana ini.

Intinya, yang ingin saya tekankan adalah, blogger dan awak media memiliki lingkup dan kekuatan berbeda. Keduanya bisa saling melengkapi kepingan-kepingan informasi yang tercecer di dunia maya. Blogger dapat memberikan sudut pandang lain atau bisa sebagai penyeimbang bagi media arus utama. Dan di sisi lain, media arus utama bisa menjadi kiblat informasi para blogger untuk mengembangkan sebuah fenomena dalam tulisan.

.... maaf tulisannya kentang, soalnya KRLnya keburu nyampe di stasiun Parung Panjang.