Mohon tunggu...
Yudha Pratomo
Yudha Pratomo Mohon Tunggu...

is typing...

Selanjutnya

Tutup

Otomotif Artikel Utama

Berpacu dengan Waktu, Membuat Mobil Masa Depan di Shell Eco-marathon 2017

16 Maret 2017   15:07 Diperbarui: 16 Maret 2017   15:36 0 10 7 Mohon Tunggu...
Berpacu dengan Waktu, Membuat Mobil Masa Depan di Shell Eco-marathon 2017
Shell Eco Marathon 2017. Dokumentasi pribadi

Singapura - Ada sekitar 5 hingga 7 orang berada di paddock itu. 3 orang di antaranya sibuk mengurus perakitan dan sisanya melakukan pengecekan program dengan komputer jinjing mereka masing-masing. Tidak ada yang tak sibuk hari ini. Bau karet hangus yang khas di bengkel-bengkel seperti menjadi lagu pengiring kesibukan mereka, satu per satu peralatan dicek ulang agar mereka bisa lolos dari uji kelayakan agar bisa bertanding esok hari. 

Ada sebanyak 26 tim dari Indonesia yang ikut bertanding di kompetisi tahunan Shell Eco Marathon ini, seluruh tim menjadi peserta di beberapa kelas yang berbeda. Ajang tahunan kali ini digelar di Changi, Singapura. Setiap tahun Indonesia memang selalu menurunkan putra putri terbaik mereka dalam kompetisi ini, bahkan 2016 lalu tim Bumi Siliwangi Team 4 dari Universitas Pendidikan Indonesia meraih gelar juara dan mendapat kesempatan 'berguru' di kandang Ferrari. 

Kompetisi bertajuk Eco-marathon dicanangkan oleh Shell ini membuat cukup banyak teknologi terapan. Anda tahu teknologi Idling Stop System yang diadopsi oleh Honda? Ternyata cikal bakal teknologi ini juga berasal dari kompetisi Eco-marathon ini. Hal ini dikemukakan oleh Norman Koch, General Manager Shell Eco Global dalam acara penyambutan media pada Selasa, 15 Maret 2017 malam kepada tim Kompasiana. 

Menurutnya, ide teknologi tersebut muncul sekitar tahun 1980-an dan baru diaplikasikan beberapa tahun belakangan. 

“Ada teknologi di mana kendaraan dapat mematikan mesinnya secara otomatis ketika berhenti sesaat di lampu merah. Kemudian jika gas kembali dibuka maka mesin kembali menyala. Itu adalah salah satu ide teknologi yang muncul dalam ajang ini, tapi memang baru bisa digunakan dalam industri beberapa tahun belakangan,” kata Koch ketika berbincang dengan saya.

GM Shell Eco Global, Norman Koch. Dokumentasi pribadi
GM Shell Eco Global, Norman Koch. Dokumentasi pribadi
Kendati demikian sangat disayangkan bahwa Shell tidak berminat untuk memproduksi teknologi-teknologi hasil implementasi ini untuk menjadi sebuah produk yang bisa digunakan sehari-hari. Bahkan menurut Koch, hal tersebut belum pernah terpikir sama sekali dan cukup puas hanya dengan membuat sebuah “wadah” yang melahirkan teknologi-teknologi terbarukan. 

Kompetisi Shell Eco-marathon ini memang dicanangkan agar demi menghadirkan lingkungan yang seimbang. Sebagaimana kita tahu bahwa jumlah bahan bakar fosil kian merosot, karena itulah dibutuhkan energi alternatif sebagai pengganti atau setidaknya ada sebuah teknologi yang membuat bahan bakar menjadi lebih efisien demi menekan jumlah penggunaan bahan bakar fosil. 

Ini memang menjadi sebuah desakan di masa kini, bagaimana bahan bakar organik bisa menjadi penyeimbang dan mendorong untuk hadirnya bahan bakar ramah lingkungan dan terbarukan. Inilah yang menurut saya menjadi sebuah tantangan bagi para akdemisi dan para mahasiswa untuk ikut serta dalam sebuah “upaya penyelamatan lingkungan” ini. 

Jika berbicara soal lingkungan, perubahan iklim di bumi menjadi hal yang tidak bisa dielakkan. Perubahan ini juga memberi tantangan tersendiri pada dunia yang harus mengubah alur kebutuhan energi mereka menjadi rendah emisi dan rendah karbon. Inilah kebutuhan masa depan. Dan Shell Eco-marathon ini bisa menjadi batu loncatan yang sangat baik untuk membuat lingkungan yang lebih baik.

Tim Indonesia di gelaran Shell Eco-marathon 2017. Dokpri
Tim Indonesia di gelaran Shell Eco-marathon 2017. Dokpri
Saya sempat berinteraksi dengan John Abbott, Downstream Director untuk Royal Dutch Shell bahkan dia mengatakan dengan tegas bahwa mobil atau kendaraan masa depan bukanlah mobil yang memiliki bentuk yang bagus, keren, atau apapun dari segi desain. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kendaraan tersebut memberikan dampak pada lingkungan. 

“Dalam waktu dekat dunia akan membutuhkan adanya produksi massal mobil bertenaga listrik dari baterai yang harganya terjangkau. Selain itu, dibutuhkan juga kendaraan listrik yang menggunakan sel bahan bakar hidrogen dengan jarak tempuh yang lebih jauh dan pengisian bahan bakar yang lebih cepat. Infrastruktur pendukungnya pun perlu dibangun dan yang terpenting, para pengguna kendaraan harus berpartisipasi dalam perubahan ini,” kata John.

Tim Indonesia di gelaran Shell Eco-marathon 2017. Dokpri
Tim Indonesia di gelaran Shell Eco-marathon 2017. Dokpri
Memang jika dilihat dari data, sektor transportasi mengonsumsi 28 persen energi dunia. Pengembangan bahan bakar berkarbon rendah untuk kendaraan-kendaraan kita seperti mobil, truk, kapal dan pesawat menjadi sangat penting. Sekarang ini terdapat sekitar 1 miliar kendaraan yang memadati jalan-jalan di seluruh dunia. Menurut Badan Energi Dunia (IEA), pada 2040 jumlah kendaraan akan mencapai 2 miliar. Masalahnya, 90 persen dari kendaraan yang ada di jalan-jalan masih menggunakan bahan bakar cair. Di sini diperlukan transisi ke berbagai tipe energi lain guna mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi kendaraan. Inilah yang diharapkan akan hadir dalam Shell Eco-marathon ini.

Tim Indonesia di gelaran Shell Eco-marathon 2017. Dokpri
Tim Indonesia di gelaran Shell Eco-marathon 2017. Dokpri
Listrik, adalah sesuatu yang diharapkan akan dapat menggantikan bahan bakar fosil sebagai sumber energi. Ada banyak sekali produsen-produsen otomotif yang tengah menunjukkan eksistensinya dalam membuat produk ini. Kendaraan listrik memang sudah mencetak kemajuan besar, namun proses keberhasilannya masih panjang. Data dari Badan IEA menunjukkan bahwa saat ini terdapat 1,26 juta mobil listrik, atau 0,1% dari total pangsa pasar kendaraan di dunia. Inilah yang memunculkan pertanyaan “Bagaimana bisa mengurangi emisi sedangkan kendaraan listrik yang diagungkan masih memiliki proses keberhasilan yang panjang?”

Tim Indonesia di gelaran Shell Eco-marathon 2017. Dokpri
Tim Indonesia di gelaran Shell Eco-marathon 2017. Dokpri
Pada akhirnya, mobil listrik hanyalah sebersih sumber listriknya. Artinya, sumber listriknya harus berasal dari pembangkit bertenaga gas alam yang berkarbon rendah atau pembangkit yang menggunakan energi yang terbarukan, atau kombinasi dari keduanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2