Mohon tunggu...
Pramono DwiSusetyo
Pramono DwiSusetyo Mohon Tunggu... Pensiunan Rimbawan

Menulis dan membaca

Selanjutnya

Tutup

Digital Pilihan

Artificial Intellegence (AI) Kehutanan

16 Januari 2020   19:00 Diperbarui: 16 Januari 2020   19:03 36 0 0 Mohon Tunggu...

Artificial Intellegence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi menggema dimana mana sejak  pidato Presiden Joko Widodo pada pembukaan Kompas 100 CEO Forum di Jakarta, 28 November 2019. Salah satu penggalan pidatonya adalah pemangkasan birokarasi yaitu pengurangan eselon dengan penghapusan eselon III dan IV bagi ASN.  Menpan dan RB diperintahkan memangkas eselon III dan IV tahun 2020 dan digantikan dengan AI untuk mempercepat pekerjaan birokrasi. Lompatan kultur birokrasi yang terlalu cepat ini, perlu disikapi dengan bijaksana bagi para ASN yang selama ini meniti jenjang karier melalui tahapan dan jenjang eselonisasi. Pemahaman yang ada sekarang, ASN disebut berhasil dan suskses kariernya apabila mampu meniti dari eselon terendah IV dan pensiun pada eselon tertinggi I.

Pejabat eselon di Kementerian dan Lembaga dalam hal penghasilan/pendapatan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pejabat fungsional. Sebut saja, eselon III disamping memperoleh gaji pokok, juga mendapat tunjangan jabatan struktural, tunjangan kinerja dan sebagai pejabat pembuat komitmen yang bertugas mengelola anggaran APBN plus ditambah dengan fasilatas kendaraan dinas yang tidak semua hak dalam item yang disebut dapat diperoleh pejabat fungsional pada pangkat dan golongan yang sama. Namun, ASN perlu bersyukur bahwa pemerintah melalui juru bicara presiden menjamin bahwa kebijakan ini tidak mengganggu pendapatan ASN yang telah menduduki jabatan eselon III dan IV. Pertanyaan yang timbul adalah apa AI itu.

Bagaimana AI digunakan untuk bidang kehutanan. Perizinan kehutanan apa saja yang bisa dilayani oleh AI dan seterusnya.

Apa Artificial Intellegence (AI)

Kecerdasan buatan adalah kecerdasan yang ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah atau bisa disebut juga intelegensi artifisial (bahasa Inggris: Artificial Intelligence) atau hanya disingkat AI, didefinisikan sebagai kecerdasan entitas ilmiah. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan kecerdasan buatan sebagai "kemampuan sistem untuk menafsirkan data eksternal dengan benar, untuk belajar dari data tersebut, dan menggunakan pembelajaran tersebut guna mencapai tujuan dan tugas tertentu melalui adaptasi yang fleksibel.

Sistem seperti ini umumnya dianggap komputer. Kecerdasan diciptakan dan dimasukkan ke dalam suatu mesin (komputer) agar dapat melakukan pekerjaan seperti yang dapat dilakukan manusia. Beberapa macam bidang yang menggunakan kecerdasan buatan antara lain sistem pakar, permainan komputer (games), logika fuzzy, jaringan saraf tiruan dan robotika.

Banyak hal yang kelihatannya sulit untuk kecerdasan manusia, tetapi untuk Informatika relatif tidak bermasalah. Seperti contoh: mentransformasikan persamaan, menyelesaikan persamaan integral, membuat permainan catur atau backgammon. Di sisi lain, hal yang bagi manusia kelihatannya menuntut sedikit kecerdasan, sampai sekarang masih sulit untuk direalisasikan dalam Informatika. Seperti contoh: pengenalan objek/muka, bermain sepak bola.

Secara garis besar, AI terbagi ke dalam dua paham pemikiran yaitu AI konvensional dan kecerdasan komputasional (CI, Computational Intelligence). AI konvensional kebanyakan melibatkan metode-metode yang sekarang diklasifiksikan sebagai pembelajaran mesin, yang ditandai dengan formalisme dan analisis statistik. Dikenal juga sebagai AI simbolis, AI logis, AI murni dan AI cara lama (GOFAI, Good Old Fashioned Artificial Intelligence). Kecerdasan komputasional melibatkan pengembangan atau pembelajaran iteratif (misalnya penalaan parameter seperti dalam sistem koneksionis). Pembelajaran ini berdasarkan pada data empiris dan diasosiasikan dengan AI non-simbolis, AI yang tak teratur dan perhitungan lunak.

AI di Bidang Kehutanan

Dari penelusuran sumber informasi termasuk google didapatkan bahwa AI dibidang kehutanan pada umumnya dimanfaatkan untuk kegiatan operasional lapangan, antara lain adalah mencegah perburuan liar dengan bantuan drone yang dilengkapi dengan teknologi AI dan telah dilakukan oleh Lembaga Konservasi Air Shepherd, di Amerika Serikat. Teknologi ini berupa alat pendeteksi termal dan infrared, yang dipasang di drone atau pesawat tanpa awak. Nantinya, drone tersebut bisa mengenali hewan dan pemburu-pemburu ilegal lewat thermal detector dan infrared.

Kemudian, pergerakan para pemburu liar itu pun dapat dideteksi melalui komputer ataupun laptop, yang terhubung dengan internet. Tidak hanya itu, teknologi ini juga dapat memprediksi pergerakan para pemburu liar dalam melakukan perburuan. Sehingga, nantinya penjaga hutan bisa mencegat para pemburu liar tersebut dan mencegah terjadinya perburuan liar. Demikian juga, dengan informasi soal senjata yang digunakan oleh para pemburu liar tersebut. Drone ini pun bisa diterbangkan pada malam hari, tanpa harus khawatir terkait buruknya resolusi video hasil pencitraan dari drone tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN