Pradhany Widityan
Pradhany Widityan karyawan swasta

Full Time IT Worker

Selanjutnya

Tutup

Wisata Artikel Utama

Kehidupan dan Kematian di Desa Trunyan

26 Maret 2016   12:50 Diperbarui: 26 Maret 2016   14:36 795 6 7

[caption caption="Deretan Tengkorak di Seme Wayah (Dok. Pribadi)"][/caption]Perjalanan menuju Kintamani, Bali, memberikan kesan Bali yang berbeda. Kesan damai, hijau, dan sejuk terasa. Kintamani terletak di sisi utara Pulau Dewata. Jika di dalam peta, daerah ini berada di bagian atas pulau. Sebagaimana orang Sulawesi Selatan menyebut daerah atas dan bawah berdasarkan letak geografis garis lintang. Selain karena letaknya, Kintamani betul-betul berada di atas. Dataran tinggi. Karena semakin mendekatinya, hawa hiruk-pikuk pantai-pantai Bali Selatan segera tergantikan oleh hawa dingin dan sunyi khas pegunungan.

Kopi dan anjing. Yang satu sering disebut sebagai kopi asli Bali, yang lain adalah judul lagu grup musik Shaggydog, Anjing Kintamani. Dua hal yang membuat nama Kintamani dikenal. Sepanjang perjalanan, dari Ubud, banyak ditemui kedai kopi dan penginapan. Perkebunan cukup umum di daerah pegunungan. Di Kintamani, deretan kebun jeruk terhampar di sepanjang jalan. Bukan jeruk bali yang besar, namun jeruk biasa yang membuat ngiler. Kabarnya, bersamaan dengan jeruk-jeruk itu ditanam kebun cokelat dan kopi. Itulah kopi Kintamani, yang beraroma jeruk dan coklat. Sebagaimana sifat kopi yang menyesuaikan di mana dia tumbuh. Dan untuk si anjing, tak banyak yang saya tahu soal si pekerja keras, pemberani, dan tangkas ini.

Matahari belum sempurna berada di atas kepala saat saya tiba di persimpangan Panelokan. Di situlah letak titik pandang terbaik untuk menyaksikan keagungan Gunung Batur dan ketenangan Danau Batur. Kawasan Gunung Batur ini diakui UNESCO sebagai geopark pertama di Indonesia pada tahun 2011. Alasannya, sebagai geopark atau taman bumi, Gunung Batur memenuhi syarat berupa nilai ekologi dan warisan budaya. Serta memiliki fungsi sebagai daerah konservasi, edukasi, pelestarian warisan budaya, dan penelitian geologi serta ekologi. Gunung Batur seolah berdiri tidak hanya sebagai sosok yang menawan bagi turis dengan danau, kawah, dan kalderanya, namun berinteraksi dengan penduduk sekitar sebagai sosok yang bernilai tinggi.

Perjalanan tak lantas terhenti karena sihir keindahan Danau Batur tampak atas. Beragam tempat wisata menarik memang banyak di Kintamani. Salah satunya kemegahan Pura Ulun Danau Batur tempat pemujaan Dewi Kesuburan. Namun, tujuan saya ingin lebih dekat menyaksikan kehidupan di sekitar danau dan kaki gunung yang siang itu cerah dan sejuk.

Trunyan, menjadi tujuan utama saya singgah ke sini. Desa di kaki gunung dan di pinggir danau ini terkenal akan prosesi pemakaman warganya yang unik. Tak semegah Rambu Solo di Tana Toraja atau tradisi “pesta” kematian suku Batak memang, bahkan tak seperti Ngabang pada umumnya. Desa yang dihuni suku asli tertua atau disebut juga Bali Mule ini, memaknai kematian dengan caranya yang sederhana, khas, dan turun-temurun. Kematian membawa nama desa ini dikenal secara luas, masuk media wisata, dan rekomendasi wisata Kabupaten Bangli, Kecamatan Kintamani.

Kehidupan

Kematian, bagi kaum beragama diartikan sebagai perpindahan alam. Sama halnya seperti perpindahan alam saat dilahirkan ke dunia. Sebelum mengalamai kematian, yang percayalah, pasti datang entah dinanti atau tiba-tiba, manusia, tak terkecuali di Desa Trunyan, menjalani kehidupannya. Letaknya di seberang danau, jika turun dari arah Panelokan menuju Desa Kedisan. Desa ini dapat ditempuh menggunakan perahu mesin dari dermaga di Desa Kedisan atau kendaraan bermotor menyusuri kaki gunung atau jalur Cemara Landung dengan jalur yang sempit dan terjal namun cukup memadai. Karena memilih opsi kedua, saya harus mampir ke Desa Trunyan yang ternyata memiliki kehidupan sederhana yang kontras dengan keterkenalan namanya akan kematian.

[caption caption="Desa Trunyan dari Gunung Batur (Dok. Pribadi)"]

[/caption]Tak banyak saya lihat turis lalu-lalang di desa itu. Desa yang mungkin akan membuat kita berpikir “ternyata di Bali ada juga perkampungan seperti ini”. Antena televisi yang tinggi-tinggi, gang-gang sempit, tumpukan sampah, dan rumah belum jadi atau temboknya yang hanya bata merah tanpa lapisan dan cat tampak berderet padat di sana. Jika bukan karena gapura khas Bali dan sebuah pura bernama Pura Pacering Jagat, Desa Trunyan tampak seperti daerah pinggiran di kota-kota besar, yang tak banyak mendapat jatah dari anggaran daerah.

Sepanjang jalan menuju dermaga Desa Trunyan banyak rumah yang memiliki kurungan ayam. Bahkan di tepi danau, tempat perahu-perahu dayung yang akan menjadi kendaran menuju makam legendaris, nampak pemuda dan para lelaki setengah baya yang memandikan ayam jantannya. Ya, memang seperti di Bali pada umumnya, tradisi tabuh rah atau sabung ayam juga dilakukan di sini. Untuk memperkuat jagoan mereka, warga melatih jago-jago mereka salah satunya dengan melatih berenang di Danau Batur.

Mitos dan legenda yang berkembang di desa yang diperkirakan ada sejak abad 10 Masehi ini cukup beragam. Salah satunya arca Ratu Pancering Jagat yang konon ditemukan petani yang sedang berburu. Arca tersebut kemudian terus tumbuh besar hingga 4 meter. Kini, Dewi tersebut dipuja dan membedakan Trunyan dari warga Hindu Bali lainnya. Karena Sang Dewi tidak dipuja di tempat lain.

Kematian

Trunyan berasal dari kata Taru Menyan. Sebuah pohon berbau wangi yang konon aromanya sampai ke Jawa. Aroma yang mengundang empat putra keraton Dalem Solo untuk mencari sumber aroma tersebut. Hingga kemudian ditemukanlah desa ini, dan dibentuklah kerajaan. Untuk menghindar dari serangan musuh yang mungkin datang karena aroma wangi tersebut, diputuskan untuk menaruh jenazah warga di sekitar pohon. Dampaknya, wangi pohon tidak lagi keluar dari Desa Trunyan, namun bau bangkai mayat yang diletakkan begitu saja juga tidak tercium.

Itulah salah satu legenda awal mula tradisi kematian di sana. Terdapat tiga pemakaman di sana, yaitu Seme Wayah untuk orang-orang yang mati dengan wajar dan telah menikah, Seme Bantah untuk yang mati dan tubuhnya rusak seperti karena kecelakaan dan bunuh diri, serta Seme Muda untuk bayi dan yang belum pernah menikah. Saya dibawa menuju Seme Wayah dengan perahu dayung dari dermaga Trunyan. Cukup ngeri saat menginjakkan kaki di sana. Karena bayangan mayat yang entah sudah berapa lama tanpa pengawet akan tampak nyata.

[caption caption="Welcome to Makam Terunyan (Dok. Pribadi)"]

[/caption]Baru di gapuranya saja, tengkorak sudah dipasang. Kemudian tampak tengkorak berjajar dan beberapa kurungan yang berisi mayat. Kurungan itu untuk melindungi mayat dari hewan buas. Di pemakaman ini hanya ada sebelas makam dengan kurungan bambu. Setiap ada mayat baru, maka makam yang paling lama harus dipindahkan. Barang-barang bekas yang katanya adalah barang milik si mayat, ditaruh begitu saja. Banyak koin berserakan. Ada pula perkakas rumah tangga dan kain-kain koyak terkubur di tanah. Semua berada di bawah rimbunnya pohon dengan batang besar. Itulah pohon Taru Menyan yang menetralisir bau mayat. Dan memang benar, sama sekali tidak bau di sana. Meski tetap saja terkesan kumuh.

Kematian yang begitu terkenal tidak lantas membuat kehidupan Desa Trunyan juga terkenal. Sedikitnya pengunjung yang berangkat dari Desa Trunyan ditambah banyaknya calo perahu dari Desa Trunyan bisa membuat pengunjung kapok pergi ke sana. Tampak bapak-bapak tua renta dengan sampan ukuran satu orang mengemis di sekitar pintu masuk Seme Wayah. Saat kembali ke dermaga Desa Trunyan pun beberapa nenek mengerubungi saya dan mengemis cenderung memaksa.

Ongkos perahu yang mahal ternyata tidak banyak dinikmati penduduk desa. Hanya sekitar 15.000 tiap perahu yang masuk ke pemerintah desa. Cukup kecil mengingat sewa perahu berharga 600.000 rupiah untuk 7 orang. Cerahnya pariwisata kematian di Desa Trunyan ternyata belum bisa mencerahkan kehidupan warga sekitar. Potret yang begitu ironis seperti di kota-kota besar lain, ketika warga desa tak bisa berbuat banyak di tengah lumbung pariwisata Bali yang subur. Desa Trunyan bahkan tak banyak memetik hasil dari produk wisatanya sendiri yang mereka jaga sebagai warisan leluhur di tengah taman bumi (geopark) Gunung Batur.