Mohon tunggu...
Mulya Syamsul
Mulya Syamsul Mohon Tunggu... Pegiat Ekonomi Islam

Pegiat Ekonomi Islam, pegiat pilanttofi Islam, konsultan UMKM, penggagas pojok sedekah dan sekolah inspiratif akhlakul karimah (SIF BERKAH).

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Bangun Ekonomi dari Masjid

18 Mei 2019   12:18 Diperbarui: 18 Mei 2019   12:27 0 1 1 Mohon Tunggu...

"... Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak banyak agar kamu beruntung... (QS. 62: 10)

 Ekonomi merupakan kebutuhan dasar manusia untuk dapat hidup di dunia, menurut Abu Ishaq al-Syathibi al-Gharnathi (w 790 H/1388 M) bahwa kebutuhan dasar manusia terletak pada tiga aspek yaitu dhoruriyat, hajjiyat, dan tahsiniyat. Kebutuhan dharuriyat menekankan pada kebutuhan dasar manusia pada apek primer yang setiap hari diperlukan.

Kalau tidak hadir aspek primer tersebut akan mengakibatkan manusia mendapatkan masalah seperti terjangkit penyakit dan lain sebagainya, sehingga kebutuhan ini harus terpenuhi dengan baik oleh setiap individu tidak memandang mereka anak-anak, muda ataupun tua sekalipun. Kebutuhan kedua adalah hajjiyat, menekankan aspek kebutuhan sekunder dan yang ketiga adalah kebutuhan tahsiniyat yang menekankan apda aspek tertier, dua kebutuhan tersebut dapat diupayakan dan tidak menjadi penentu dari kebutuhan primer, kalaupun ada itu lebih bagus dan kalaupun tidak ada maka bias dibilang seadanyapun tidak terdapat masalah.

Upaya peningkatan ekonomi individu menjadi studi serius di berbagai belahan dunia, bahkan kemunculan program studi ekonomi diharap bisa meningkatkan upaya peningkatan ekonomi individu, sebagai bukti muncul studi ekonomi, manajemen, akuntansi, ekonomi pembangunan dan bahkan ekonomi syariah sekalipun diharapkan dapat menjadi jembatan kebangkitan ekonomi setiap individu. Begitupula sarana atau intitusi masjid dapat pula menjadi jembatan kegiatan ekonomi khususnya ekonomi masyarakat Islam.

Kemunculan atau wacana ekonomi dibangun dari masjid memang sudah lama terdengar, sejak era kemunculan ekonomi Islam pada pertengahan tahun 1998 wacana ini terus di kumandangkan, akan tetapimuncul pertanyaan bagaimana membangun ekonomi dari masjid, apakah diperbolehkan atau bahkan menjadi hal yang sensitive, karena masjid baru sebatas pada ritual ibadah mahdoh saja belum bias menyentuh ibadah ghoer mahdoh yang lebih luas. Sebagai bukti dari itu semua adalah apabila masjid dijadikan sarana untuk menyampaikan itikad politik saja hal ini masih banyak yang menentangnya. Menurut Sidi Gajalba (2001) bahwa masjid mempunyai delapan fungsi yatu:

  1. Masjid adalah pangkal tolak muslim dalam usaha atau pekerjaan sehari hari, setelah Shalat subuh mereka menuju kelapangan pekerjaan atau usaha masing-masing. Jadi masjid merupakan pangkal tolak dari pekerjaan atau kegiatan muslim dalam kehidupan atau kesatuan sosialnya.
  2. Masjid adalah penutup dari pekerjaan atau kegiatan social muslim sehari-hari. Sebelum menuju tempat tidur, ia melakukan shalat Isya. Semua cita dan amalan hari itu ditarik dan dikontrol dalam diri masjid.
  3. Muslim yang rata-rata sekali lima jam berhimpun dalam masjid, membentuk ikatan antara sesamanya. Ikatan itu membentu kesatuan social antara mereka, yaitu kesatuan social muslim. Disekitar masjid, dalam mana dilakukan shalat sehari-hari tersusunlah Gemeinschaft. Kesatuan social muslim yang kecil adalah segolongan orang yang memakai masjid salat sehari-hari sebagai pusat kehidupan sosialnya.
  4. Kesatuan soail muslim yang lebih besar lingkungannya, memakai masjid jami sebagai pusat kehidupannya.
  5. Kesatuan social sedunia muslim mengambil masjidil haram, pusat seluruh masjid, sebagai pusat kehiduapn sehari hari.
  6. Kedudukan dan tempat social wanita diluar masjid (dalam masyarakat) sejajar atau analog dengan kedudukan dan tempat wanita didalam masjid.
  7. Masjid dengan nyata menjalankan fungsi social perantara wakaf, yang dihubungkan dengan dia.
  8. Prinsip tugas social masjid yang digariskan oleh nabi dalam masyarakat yang belum berkembang, berlaku pada zaman sesudah itu sampai sekarang dan juga berlaku dalam masa datang.  

Dari konsep inilah tentunya masjid dapat dijadikan sebagai pusat pembangunan ekonomi sebagai mana dimaksud dalam berbagai wacana bahwa memnagun ekonomi masyarakat muslim harus dimulai dari masjid.

 Apa itu masjid

Sepertinya kita sudah tidaklagi mempertanyakan apa itu masjid, karena kita tentu sudah faham semua sebagai seorang muslim bahwa masjid disajikan atau dihadirkan untuk tempat menjalankan ibadah sebagai bukti hubungan kita dengan Allah SWT. Tentu bukan hanya itu saja, dari makna harfiyah masjid merupakan tempat ibadah atau sembahyang bagi kaum muslimin dan muslimat, tetapi dari sisi bahasa kata masjid berasal dari bahasa Arab, adalah sajada (ia sujud) lalu kemudian diberi awalah ma, sehingga menjadi bentuk isim makan (menunjukan nama tempat), yang apabila disambungkan menjadi masjidu-masjid.

Dengan demikian masjid merupakan tempat sujud, makna ini tidaklah menunjukan makna intitusi atau lembaga sebagaimana yang kita fahami sekarang dalam bentuk bangunan masjid (tempat dimana orang berkumpul untuk melaksanakan ibadah) tetapi apa yang disampaikan Rasulullah SAW bahwa "seluruh jagad telah dijadikan bagiku masjid (tempat sujud)". Hal ini menunjukan bahwa masjid tidak terbatas pada bentuk bangunan tetapi keseluruhan hamparan dunia ini bisa dipakai untuk kegiatan bersusud dan itulah yang disebut dengan masjid.

Sebagai bukti bahwa masjid itu adalah bangunan, kita bisa melihat catatan sejaran pada peristiwa pendirian masjid pertama pada masa 12 tahun kerasulan maka Allah menyuruh Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan siana pula Nabi mendirikan masjid dengan cara gotong royong dan itulah masjid pertama yang Rasulullah bangun sebagai bangunan pertama yang dikatakan sebagai masjid tempat bersujud.

Efek besar dari pembangunan masjid, ternyata perkembangan Islam dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan yang signifikan, dengan bertambahkembangnya pengikut Nabi SAW, maka terjadilah suasana baru dan terbentuklah masyarakat social Islam yang lebih besar dan itulah yang menjadi cikal bakal dari intitusi Negara Madinah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3