Mohon tunggu...
Posma Siahaan
Posma Siahaan Mohon Tunggu... Science and art

Bapaknya Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan. Novel onlineku ada di https://posmasiahaan.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

"Kalau Hamil Semua Obat Dihentikan, Dok?"

22 Juli 2019   01:49 Diperbarui: 22 Juli 2019   02:00 0 15 6 Mohon Tunggu...
"Kalau Hamil Semua Obat Dihentikan,  Dok?"
Bukan penyebar hoaks (dok. pri.)

"Siapa bilang?  Dokter kebidanan?  Bidan?  Perawat? " Tanya saya penasaran kepada pasien asma bronkiale persisten berat yang baru pertama kali hamil yang dirawat karena sesak. 

"Bukan,  dok.  Teman saya bekerja,  mereka bilang obat -obatan lain jangan dimakan,  kecuali vitamin untuk kehamilan.  Jadi saya tahankan tidak makan obat asmanya tiga bulan ini. " Kata si pasien usia dua puluhan tahun akhir yang sudah memasuki bulan ke 5 kehamilan.  Ke dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungannyapun dia tidak bertanya soal obat asmanya apa dimakan atau tidak,  karena kebetulan sesaknya baru menghebat di malam hari atau subuh atau kalau suaminya tercinta merokok dengan gagah perkasanya disampingnya saat makan pagi atau siang. 

Akhirnya setelah dijaminkan bahwa obat asma aman untuk bayi terutama obat asma hisap atau semprot yang langsung bekerja di saluran napas,  si ibu mau memakainya selama hamil dan tidak dirawat-rawat lagi.  Tentu juga si bapak sang suami yang merasa jantan merokok sesudah makan di depan istri juga diedukasi bahwa kejantanannya tidak berkurang kalau dia berhenti merokok atau setidaknya kalau  merokok silakan di tempat khusus merokok saja yang ada di pinggiran kota. 

Itu salah satu contoh kasus hoaks tentang obat-obatan semasa hamil yang sering kali ditelan mentah-mentah oleh beberapa ibu hamil,  padahal tidak semua obat harus dihentikan kalau mengandung. 

Yang terpenting si ibu saat periksa ke SpOG (ahli kebidanan dan kandungan)  jujur menceritakan sedang memakai obat kronis tertentu atau saat kontrol ke spesialis penyakit kronisnya menceritakan kalau sedang hamil.  Mungkin nanti akan ada penyesuaian dosis atau ada nasehat membuat jarak 2-3 jam antara obat kehamilan dan obat kronisnya untuk mencegah interaksi obat. 

Kalau toh tidak berobat karena biaya atau repot,  setidaknya bertanya ke beberapa kenalan di bidang kesehatan dahulu atau "browsing" berbagai informasi di internet yang ada di genggaman tiap hari untuk mengantisipasi hoaks yang disampaikan sadar atau tidak sadar yang ternyata dapat saja berakibat fatal bagi si ibu atau janinnya atau malah keduanya. 

Sumber: dokumentasi kompal
Sumber: dokumentasi kompal

KONTEN MENARIK LAINNYA
x