Mohon tunggu...
Posma Siahaan
Posma Siahaan Mohon Tunggu... Dokter - Science and art

Bapaknya Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan. Novel onlineku ada di https://posmasiahaan.blogspot.com/

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Ketika Kakek dan Nenek Tua Itu Saling Menggenggam Tangan Mesra di Cafe

25 November 2018   00:09 Diperbarui: 27 November 2018   17:00 641
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Perceraian lagi? Wow, baru saja melewati 5 tahun pernikahan, kabarnya kalau sudah menjalani lebih tahun kelima, biasanya langgeng sampai tua..." Kata Ben pada Win, sahabatnya, beda jenis kelamin, tetapi akrab sejak TK karena keduanya bersebelahan rumah saat dulu orang tua mereka bekerja di kompleks salah satu BUMN besar di Palembang.

"Mungkin enggak karena orang ketiga? Itu si selebritis cowok mukanya khas "playboy", cengengesan begitu, seperti kamulah..."Win membahas dua selebriti yang menikah 5 tahun lalu, sudah punya anak dan pernah dinobatkan sebagai pasangan selebritis paling mesra di Asia Tenggara, namun akhirnya kemesraan yang sangat "super" itu selesai juga.

Ben yang agak ganteng, agak berduit, usia sudah 34 tahun dan sudah menikah dengan anak 3 pun tersenyum getir dituduh muka khas "playboy" oleh Win teman masa kecilnya dan masa dewasanya, wanita dewasa usia sama, beda bulan yang kebetulan belum menikah dan mungkin tidak akan pernah menikah karena tidak mau mengecewakan calon suaminya kelak.

"Muka khas "playboy" bukan berarti harus jadi "player", kan?" Jawab Ben enteng, dia belum pernah selingkuh, bahkan berciuman dengan wanita pun mungkin hanya dengan mamanya saat kecil atau keluarga lain dan sang istri. Kalau memeluk wanita lain, selain istri ya keluarganya dan Win, itupun saat Win sahabat baiknya itu harus sedih dan menangis sesengukan saat diberitahukan rahimnya harus diangkat saat kuliah, akibat perdarahan yang tidak berhenti-berhenti saat menstruasi berbarengan dengan terserang demam berdarah. Segala obat penyetop perdarahan, tampon sampai kuretase sudah dicoba tetapi tetap saja perdarahan terjadi yang membuat anemia akut dengan hemoglobin 4 yang mengancam nyawa.

Pilihan saat itu, lima belas tahun lalu adalah rahimnya diangkat dan pembuluh darahnya diikat atau tetap mencoba obat-obatan dan tampon, padahal demam berdarahnya baru memasuki hari ke empat, sementara masa kritis demam berdarah sampai 7 ke 9 hari. Orang tua Win memutuskan nyawa lebih penting dan mengijinkan "histerektomi", pengangkatan rahim dan perdarahanpun berhenti.

Keduanya terbiasa bertemu setiap malam Kamis, sebulan sekali di Cafe itu, tepat di depan rumah sakit tempat Win rahimnya diamputasi, itu sebagai janji Ben kepada sang sahabat untuk setia mengobrol dengan Win sebulan sekali untuk mencegah si gadis putus asa dan depresi seolah tidak ada tempat "curhat" lagi. Untungnya Angelic istri Ben memaklumi dan percaya penuh si muka "playboy" tidak khilaf.

"Itu yang aku salut sama kamu, Ben. Kalau bukan karena kejadian itu, kamulah yang aku lamar sebagai suamiku. Biarin aku wanita, kalau aku suka, aku yang lamar si lelaki. Kamu itu menghormati wanita seperti menghormati ibumu. Tetapi yah, karena kondisiku begini, aku tidak mungkin membiarkan lelaki sebaik kamu tidak punya penerus marga. Lagipula bapak dan ibumu sudah tahu kondisiku. Makanya kubilang sama Angelic istrimu sehari sebelum kalian menikah, jaga cinta kalian, karena kamu adalah lelaki paling sempurna untuk dijadikan suami." Kata-kata Win agak sendu, dia seperti mau menangis tetapi ditahan.

"Aku ingin seperti kakek dan nenek di pojokan itu, beberapa kali kulihat mereka di cafe ini berpegangan tangan mesra, berbincang dengan tatapan sayang. Entah berapa anak dan cucu mereka, saya jadi ingin tahu. Apa rahasianya pernikahan langgeng sampai uban memutih seperti itu?"Ben menatap antusias ke pojokan cafe.

"Penasaran? Aku juga. Daripada penasaran, mendingan aku bertanya langsung..." Win, arsitek yang masih gadis, cantik, tubuh proporsional dan pintar berkomunikasi itupun mendatangi si kakek-nenek usia 60-an tahun atau lebih dan berani-beraninya mengobrol 10-an menit, sambil dipandangi Ben dengan terbengong, nekad juga si "soul mate"-nya ini.

Ben yang seorang pengusaha bengkel, cucian mobil serta kos-kosan selalu siap menghadapi aktifitas "nyeleneh", tidak terduga dan "out of box" dari Win di setiap pertemuan mereka. Pernah si gadis mengajaknya memunguti puntung rokok di sepanjang jalan di sekitar cafe dan membuangnya ke kotak sampah, mengajaknya mengajar anak-anak pemulung di tempat pembuangan akhir (TPA) membaca dan menulis, bahkan menyuruhnya adu panco dengan seorang pengunjung yang badannya mirip Ade Rai, dengan janji ke si pria berotot kalau dia menang, maka Win akan mencium bibirnya.

Karena tidak tega Win harus berciuman dengan pria berwajah seram walau berotot, hanya karena iseng, entah bagaimana Ben berhasil mengalahkan si "Ade Rai KW" dalam 10 detik. Tapi toh dia juga tidak dicium oleh Win.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun