Mohon tunggu...
Triyatni Ashari
Triyatni Ashari Mohon Tunggu... Full Time Blogger - 日本語 🎓| An Educator | Mompreneur | Blogger | Ex-Broadcaster

Netizen Belajar | Amateur Writer | "Merendahlah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa merendahkanmu. Mengalahlah, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkanmu" ~ Kang Maman | Blog : https://www.pohontomat.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Jangan Karena Keturunan, Berimanlah dengan Proses Berpikir

17 September 2021   06:52 Diperbarui: 17 September 2021   07:01 274
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar oleh Gerd Altmann pixabay.com

Assalamualaikum. 


Menjadi orang Islam sejak lahir, atau karena orang tua kita Islam, merupakan suatu Qada Allah yang patut disyukuri. Saya pun termasuk dari sekian ratus juta umat muslim yang beragama Islam karena keturunan. Tapi juga suatu hal yang harus dipertanggungjawabkan, ketika kita lahir di keluarga Islam yang mungkin kurang dalam hal menerapkan aturan-aturan Allah, yang ternyata banyak dialami keluarga-keluarga muslim saat ini.

Membuka kerudung ketika diluar sekolah, berdua-duaan dengan yang bukan mahram (pacaran), berlenggak-lenggok di panggung, bekerja dengan memakan riba, dll. adalah beberapa aktivitas yang dianggap normal kebanyakan orang-orang muslim saat ini, termasuk saya dahulu. Padahal banyak juga muslim yang tahu perbuatan-perbuatan tersebut dilarang, tapi tetap melakukannya. Ada apa?

Bahaya utama saat ini, adalah kita tidak beriman melalui proses berpikir. Kita hanya dari kecil diyakinkan, bahwa kita Islam, harus salat (kadang dengan paksaan atau tidak diapaksa sama sekali), tanpa tahu kenapa kita Islam? Kenapa kita harus salat? 

Mungkin jika kita menanyakan hal itu, kita akan dimarahi dan jika orang tua/nenek keras, bisa saja kita dipukul, atau mungkin saja kita tidak pernah terpikir untuk menanyakan hal itu?

Berdiskusi sambil nongkrong dengan teman, sangat sering saya lakukan. Mulai dari saling menceritakan masalah (bahasa kerennya curhat^^),  memerhatikan orang yang lalu lalang, hingga masalah Indonesia (sok kritis). Tapi akhir diskusi selalu saja jawabannya relatif, alias tidak menemukan jawaban yang pasti. Yang paling menyedihkan adalah kami terkadang lupa salat gara-gara keasyikan diskusi (jangan ditiru masa lalu kami).

Tiba suatu ketika, ada seorang senior saya di UKM Kampus, mengajak untuk belajar Islam lebih dalam, dengan waktu sekali seminggu. Awalnya beliau menceritakan kepada saya tentang keajaiban alam semesta, betapa besarnya, dan betapa kecilnya kita manusia. 

Nah, tibalah saat kami kajian, dan saya menemukan jawaban atas apa yang selama ini saya tidak temukan jawabannya. Di sini saya hanya menyimpulkan sedikit dari Materi Proses Keimanan. Yuk belajar  :

Kenapa Kita berIslam? Karena Keturunan? atau Karena Apa? Mungkin kita tidak bisa menjawabnya. Seharusnya kita berIslam, karena kita yakin Islam adalah satu-satunya agama yang benar, sejak diutusnya Rasulullah SAW. karena Allah SWT.  berfirman "Hari ini telah kusempurnakan agamamu (Islam) untuk rahmat seluruh alam" TQS. Al-Maidah:3 Yang harus kita yakini pertama adalah bahwa Allah itu Ada, dan Esa (Satu). Tidak ada Tuhan selain Allah, sesuai dengan syahadat pertama (Rukun Islam Pertama).

Allah itu Ada

Pertama tentang Allah itu Ada. Kita harus memahami bahwa, manusia butuh sesuatu yang besar daripada dirinya sendiri atau disebut Garizah tadayyun (Naluri untuk mensucikan/menyembah Sesuatu). Karena manusia lemah, membutuhkan pertolongan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun