Mohon tunggu...
Putri Arini
Putri Arini Mohon Tunggu... Berusaha Menjadi Pendidik

Stay Gold Terus

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Rapid Test di Sektor Transportasi, Sudah Tepatkah?

28 September 2020   11:34 Diperbarui: 28 September 2020   11:38 43 8 2 Mohon Tunggu...

Presiden Jokowi dalam pidatonya di rapat virtual Bersama Komite Penanganan Covid19 dan Pemulihan Ekonomi menegaskan bahwa kesehatan adalah hal yang paling utama, tak boleh mengendur. Di satu sisi pemulihan ekonomi pun harus berjalan, tentu dengan kajian tanpa mengesampingkan kesehatan.

Tim Satgas Covid19 terus melakukan kajian. Agar kita tak kalah dengan pandemi ini. Berbagai sektor dibahas. Mulai dari penanganan Covid sampai pemulihan berbagai sektor. Tak terkecuali sektor tranportasi.

Penerapan kebijakan baru sektor transportasi pun dilakukan, tentu mengutamakan protokol kesehatan. Hasil dari kajian Satgas Covid, yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan. Dalam kebijakan itu sudah ditegaskan, semua pihak bertanggung jawab dalam pencegahan penyebaran virus. Baik bagi penumpang maupun bagi penyelenggara transportasi.

Meski telah diterapkan kebijakan yang mengutamakan protokol kesehatan, tetap saja isu transportasi di tengah pandemi masih menjadi topik hangat.

Seringkali tranportasi lah yang disalahkan saat angka Covid19 terus tertambah. Padahal jika kita telisik, tak layak transportasi yang disalahkan. Kecuali jika memang benar ditemukan penyelenggara maupun masyarakat tak disiplin protokol kesehatan.  

Seluruh kebijakan protokol kesehatan bagi transportasi umum, sudah sesuai dan sangat aman jika dijalankan dengan baik oleh penumpang, juga penyedia sarana dan prasarana transportasi.

Mulai dari menjaga jarak antrean tiket, kewajiban memakai masker, menggunakan hand sanitizer yang telah disediakan, hingga penyemprotan cairan disinfektan untuk kendaraan. Apalagi secara khusus penumpang juga diwajibkan untuk membawa surat keterangan hasil Rapid Test yang menyatakan Non-Reaktif.

Penerapan sistem baru hingga teknologi dalam moda transportasi pun terus dilakukan. Mulai dari jarak interaksi orang, hingga penerapan pengaturan udara dengan Hepa. Sebagai upaya pencegahan penyebaran virus.

...

Soal Rapid Test sebagai syarat di transportasi pun menjadi polemik. Apalagi setelah ada berita tentang Ketua KPU yang mendapatkan hasil Positif dari test swab, sehari setelah beliau melakukan rapid test yang hasilnya non-reaktif.  Tak jarang masyarakat yang menyalahkan peraturan rapid test dianggap tak akurat, juga ada yang menyalahkan transportasi pesawatnya.

Syarat Rapid Test di transportasi adalah syarat yang paling optimal dalam mencegah penyebaran virus di tengah pemulihan ekonomi. Rapid Test secara mandiri saja, tak sedikit orang mengeluhkan mahal, apalagi tes Swab. Kalau dipaksakan, biaya perjalanan akan semakin melambung tinggi, pergerakan ekonomi justru akan semakin melambat.

Hasil rapid test memang bukan untuk menentukan seseorang Positif atau Negatif terhadap virus. Namun sebagai pemberi peringatan awal bahwa seseorang berpotensi atau tidak terhadap virus. Test Swab/PCR biasanya dilakukan setelah hasil rapid menunjukkan reaktif. Sudah banyak terbukti bahwa hasil rapid test yang reaktif, akan memberikan hasil positif pada test swab.

Virus Covid - 19 bisa menular kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Fenomena Ketua KPU yang test swab sehari setelah rapid test tak bisa dijadikan bahan utama menyalahkan kebijakan rapid test di transportasi.

Sudahlah, tak perlu saling menyalahkan. Menahan penyebaran virus adalah tanggung jawab bersama. Kebijakan protokol kesehatan dalam berbagai sektor sudah melewati banyak kajian mandalam.

Mari kita besama disiplin, agar roda perekonomian kita tetap terus berputar tanpa mengesampingkan kesehatan.

VIDEO PILIHAN