Mohon tunggu...
Saepiudin Syarif
Saepiudin Syarif Mohon Tunggu... Freelancer - Writer

Menulis dan membaca

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Petani Milenial Bisa Mental Jika Tak Kuat Mental

12 November 2021   09:45 Diperbarui: 19 November 2021   09:15 1022
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi lahan pertanian. (Dok Humas Kementan via kompas.com)

Pangan sebagai kebutuhan pokok manusia menjadi hal fundamental yang harus diurus oleh sebuah negara. Cara paling mudah ya tentu saja dengan mengimpor seluruh kebutuhan penduduknya. 

Catatannya negara tersebut harus super makmur atau wilayahnya benar-benar tidak bisa memproduksi bahan pangan. Vatikan dan Uni Emirat Arab mungkin dua negara yang amat minim menghasilkan pangan, kalau tidak bisa dibilang tidak ada sama sekali.

Impor adalah satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Beruntung mereka adalah negara kaya yang pendapatannya melimpah. Hitung-hitungan produktivitas negara pun lebih menguntungkan impor daripada memproduksi sendiri.

Lain halnya dengan Indonesia. Ada 270 juta mulut yang harus mengunyah makanan tiap harinya. Sedangkan sepiring makanan yang kita santap saja bisa terdiri dari nasi (beras)/singkong/jagung, ikan/ayam/daging/telur, sayuran, tempe/tahu, kerupuk, sambal, dan bumbu-bumbu, berapa kebutuhannya tiap bulan? kebutuhan tiap tahun? Tak dapat  dibayangkan jika semua kebutuhan pangan harus diimpor. 

Selain melayangnya devisa keluar negeri, bisa jadi kesejahteraan rakyat pun menurun karena pendapatannya akan terkuras habis. Alih-alih untuk kebutuhan sandang, papan, dan pendidikan bisa jadi mayoritas akan tersedot untuk kebutuhan perut. Hal ini tentu saja akan membuat daya saing negara merosot. 

Padahal tanah, air, udara, dan sinar matahari sebagai syarat tumbuhnya tanaman dan berkembangnya ternak tersedia melimpah di sini. Sayangnya sektor pertanian dianggap sudah kurang seksi bagi sebagian masyarakat. Terlebih bagi  kalangan anak muda yang melihat kehidupan kota lebih menjanjikan.

Dari data BPS (Badan Pusat Statistik) survey tahun 2018 tentang pertanian, jumlah petani di Indonesia ada 27. 682.117 orang, terbagi berdasarkan usia:

1. Usia di bawah 25 tahun :    191.000
2. Usia 25-34 tahun            : 2.722.446
3. Usia 35-44 tahun            : 6.548.105
4. Usia 45-54 tahun            : 7.841.355
5. Usia 55-64 tahun            : 6.256.083
6. Usia 65 tahun ke atas    : 4.123.128

Bila dilihat secara sepintas berarti profesi petani masih digeluti oleh sekitar 10% penduduk di negara ini. Masih cukup banyak sebenarnya.

Tapi jika dilihat kondisi nyata dan fakta di lapangan harusnya cukup membuat pemerintah waspada. Mari kita bedah lagi lebih lanjut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun