Mohon tunggu...
Petrus PitDuka
Petrus PitDuka Mohon Tunggu... Jurnalis - Mahasiswa Filsafat Keilahian Kentungan Yogyakarta

Jika kamu tidak bisa membuat orang lain kagum dengan kepintaranmu, maka paling tidak kamu dapat membuat mereka bingung dengan kebodohanmu.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Katong Basodara!

21 April 2021   16:24 Diperbarui: 21 April 2021   16:38 116 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Katong Basodara!
https://kupang.tribunnews.com/2020/08/31/dulu-ngotot-pisahkini-warga-timor-leste-mau-bersatu-lagi-dengan-indonesiabank-dunia-ungkap-alasan

Juana de Araujo Fernandes, warga eks Timor Timur, pada usia tiga tahun dibawa oleh orangtuanya mengungsi ke kota Kupang pada 1999 bersama dengan keenam saudaranya. Dia bahkan tidak mengingat lagi kampung asalnya di Timor Timur. Dia dan keluarganya berpikir, kalau memilih menjadi Indonesia, dapat memiliki nasip yang lebih baik. Namun sudah lebih dari duapuluhan tahun, tempat pengungsian di Tuapukan-Kupang Timur masih menjadi tempat bernaung hingga saat ini. Rumah yang terbuat dari bebak, dengan anyaman daun gewang sebagai dinding, berukuran 6 kali 5 meter, sampai saat ini dihuni olehnya bersama suami dan kedua anak.  Dalam wawancaranya bersama BBC News (15/12/2020) ia menuturkan bahwa, "Kami hanya minta pemerintah supaya melihat kami eks Tim-Tim ini. Kami hidupnya sengsara, makan minum saja setengah mati. Dan tolong berikan hak atas tanah, status yang jelas saja. Hanya mau itu, tuntutan kita hanya itu saja."

Pengalaman yang dialami oleh Juana hanya satu di antara begitu banyak warga pengungsi Timor Leste yang menetap di Kota Kupang. Banyak demonstrasi terjadi dengan kemarahan yang tak terkontrol. Bahkan di tengah pandemi, pemberontakan masih berlanjut. Dirilis di Kompas.com, berita tentang warga Timor Leste yang tinggal di Tuapukan menyerang aparat kepolisian. Tindakan anarki ini dipicu oleh permohonan untuk aksi demo mereka yang tidak diakomodir Polres Kupang dengan pertimbangan Pandemi Covid-19. 

Namun justru karena situasi yang demikianlah, desakan ekonomi yang dipicu oleh pandemi, mereka kembali menyuarakan hak mereka untuk diperhatikan (20/12/2020). Mereka adalah kaum vegabond, meminjam istilah Sygmund Bauman, yang tidak memiliki asal dan tujuan. M. Anne Brown dalam tulisannya Human rights and the borders of suffering menulis, "Warga Timur Timur adalah contoh lain dari orang-orang tertindas yang menjentikkan punggung seperti ranting yang bengkok tetapi tidak putus (128). The Pain of being Hybrid (meminjam istilah dr. Bagus Laksana) adalah termin yang tepat untuk menggambarkan kondisi para pengungsi Timor Timur di Tuapukan-Kupang Timur. Perlu diketahui, pemahaman akan diri sendiri dalam benak masyarakat Timor Leste sangat ditentukan oleh jejak sejarah penjajahan.

Nasip "Anak Nakal" hingga Tragedi Santa Cruz 1991

Butuh dua puluhan tahun untuk Timor Timur dapat berdiri sebagai Repblica Democrtica de Timor-Leste usai ratusan tahun dijajah Portugis. Tidak heran bila Timor Leste, untuk orang Tetum sendiri,  disebut Timor Lorosae: "Tempat Matahari Terbit". 

Timor Timur memang dianeksasi oleh Indonesia tetapi, hampir dua puluh lima tahun setelah invasi awal, usaha mengintegrasikan wilayah tersebut pada dasarnya gagal. Operasi kontra-pemberontakan dihentikan pada 1978, tetapi pemberontakan terorganisir tidak pernah digagalkan. Kerusuhan sipil ditanggapi dengan kekerasan militer. Lebih dari 20.000 tentara secara rutin ditempatkan di Timor Lorosae untuk menjaga stabilitas.

Diperkirakan secara luas bahwa 60.000 orang Timor Leste terbunuh pada tahun pertama program 'pasifikasi' Indonesia, yang termasuk eksekusi massal penduduk desa, wanita, orang tua  dan anak-anak. Untuk menghapus Fretilin yang tinggal di daerah gunung, pada 1978 Indonesia meluncurkan Program kontra-pemberontakan, menggunakan bom fragmentasi, pemberondongan, senjata kimia dan napalm, didukung oleh pasukan darat. Untuk menghapus dukungan Fretilin di desa-desa, tentara mengadopsi strategi relokasi massal penduduk yang sebagian besar merupakan petani subsisten. Eksekusi terus berlanjut sepanjang 1980-an dan 1990-an, yang terburuk adalah pembantaian sekitar 1.000 orang di Creras. Diperkirakan lebih dari 200.000 orang Timor tewas akibat penjajahan Indonesia (M. Anne Brown, 144).

Pada prinsipnya, Pemerintah Indonesia memang berupaya keras mengembangkan provinsi terbarunya. Pendapatan per kapita naik dari US $ 40 pada tahun 1974 menjadi US $ 90 pada tahun 1990. Selama tahun 1990-an pertumbuhan ekonomi di wilayah ini kira-kira 10 persen per tahun. Pendidikan menjadi lebih tersedia dan buta huruf berkurang dari 93 persen pada tahun 1974 menjadi 53 persen pada tahun 1990. Pada tahun 1998 sekolah telah dibangun di dua pertiga wilayah penduduk Timor Lorosae. Rumah sakit, klinik keliling dan infrastruktur kesehatan masyarakat disediakan. Konsekuensinya adalah, angka kematian bayi menurun. Ini berbeda dengan laporan Adam Schwartz, bahwa "Pada tahun 1973, tingkat buta huruf orang Timor diperkirakan mencapai 93 persen, dan kematian bayi pada tahun 1950-an sekitar 50 persen" (1999, 199).

Namun, kampanye untuk mengintegrasikan wilayah pada praktiknya didominasi oleh pendekatan keamanan militer Indonesia. Sangat kuat dalam tatanan politik, sosial dan ekonomi di seluruh Indonesia, aparat keamanan, sebagai penjamin dan ikon persatuan nasional, mengambil tangan bebas di provinsi bandel ini. Terlepas dari kegiatan gubernur lokal, pengelolaan wilayah pada dasarnya adalah operasi militer yang lebih dicirikan oleh kebrutalan dan penindasan yang menghukum daripada upaya memenangkan kepercayaan  (Adam Schwartz, 197).

Operasi tentara menunjukkan kebiadaban yang banal. Anak laki-laki Timor yang tidak bersenjata digunakan sebagai tameng manusia ketika bergerak melalui wilayah gerilya. Penyiksaan, pembunuhan, kekejaman sewenang-wenang yang dijadikan "peringatan", dan pemerkosaan tampaknya sudah menjadi praktik rutin para tentara. Seperti yang dicatat Monsinyur Belo dalam The Catholic Commission for Justice, Development and Peace (1993),  kepada Konferensi Uskup Indonesia, "Militer, mungkin karena kemarahan dalam hati mereka, tampaknya tidak memiliki rasa kemanusiaan" (hlm.15). Namun demikian, berbagai laporan menunjukkan bahwa tentara secara umum percaya bahwa hal itu memberikan kebaikan bagi Timor Lorosae dan keuntungan bagi Indonesia.

Pendekatan keamanan juga memiliki sentuhan ekonomi. Sistem monopoli mendominasi semua dimensi ekonomi Timor-Leste, termasuk pedesaan, hingga merugikan penduduk asli secara sistematis. Korupsi sangat mengakar. Pembangunan ekonomi, yang tampaknya ditawarkan oleh pemerintah pusat dengan satu tangan, dipangkas oleh tangan lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x