Mohon tunggu...
Petrus PitDuka
Petrus PitDuka Mohon Tunggu... Mahasiswa Filsafat Keilahian Kentungan Yogyakarta

Saya berdarah campuran Maumere-Alor, NTT. semenjak menamatkan studi SMA di tahun 2013, saya masuk ke dalam kongregasi Putera-putera Hati Tak Bernoda Maria dan setelah mengucapkan profesi saya di tahun 2016, saya diutus untuk melanjutkan studi di Fakultas Teologi Sanata Dharma, Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Blessing in Disguise: Pergerakan Intelektualitas Indonesia Era Digitalisasi

15 Mei 2019   10:57 Diperbarui: 15 Mei 2019   11:04 0 2 0 Mohon Tunggu...

Tulisan ini bertitik tolak dari dimensi sejarah. Alasannya, krisis dalam sektor pendidikan akhir-akhir ini kerap disebabkan oleh analisis yang seolah-olah terlepas tegas dari sejarah masa lampau. Tak heran, sering kita jumpai banyak pengertian yang terpisah dari subjek berkat interpretasi yang salah konteks[1].

  • Indonesia dalam Catatan Awal 

 Bersamaan dengan terbitnya buku Indonesian Political Thinking di tahun 1970, para            pengkaji bidang politik dan masyarakat Indonesia untuk pertama kalinya disuguhi      suatu rentangan luas koleksi tulisan-tulisan dan pidato para politisi dan cendekiawan   terkemuka dari periode pasca-1945. Saat kemunculan buku tersebut bukanlah suatu    kebetulan: nyata-nyata mencerminkan suatu pertumbuhan minat akademis pada wacana       ideologi dan politik Indonesia[2].

Tulisan Benedict R. O'G Anderson seperti yang dikutip di atas merupakan salah satu hipotesa pergerakan lamban dinamika akademisi masyarakat Indonesia dari sudut pandang politik. Peneliti berdarah Anglo-Irlandia ini cukup memahami dimensi sosiologis Indonesia, yakni adanya kerekatan antara politik dan pendidikan. Di zaman diktatoris Orde Baru pendidikan dijadikan sebagai legitimasi, bahkan 'anak angkat' yang tak boleh membangkang pada orang tua, Diam! 

Di samping itu pengalaman sejarah membuktikan bahwa bukan hanya Indonesia, Eropa pun demikian; kepentingan politik sering parasit pada pengetahuan. Padahal jika merunut pada sejarah, justru kongsi daganglah yang terlanjur menjadi lampu ajaib penyulapan wacana pengetahuan menjadi peristiwa baku, bisa dilihat, dibaca sekaligus diinterpretasi. Gambaran ini cukup paradoksal kala memasuki zaman modern probabilitas perkembangan teknologilah yang nyatanya membentuk jaringan atau akses masuk bagi pengetahuan untuk berjumpa dengan wacana materialisme maupun non-materialisme.

Kelemahannya, pengakuan tersebut terselubung dalam term-term abstrak: rasionalitas, objektivitas, totalitas, strukturalisasi, sistematisasi dan sebagainya[3]. Baru di era post-modern, transparansi teknologi diakui sebagai yang melengkapi serta membantu dalam perkembangan ilmu pengetahuan, gambaran yang holistik[4].

Anderson lalu menambahkan soal kronologis waktu 'Tahun 1970 dan Pasca 1945'. Ke dua data ini tidak hanya mempengaruhi Indonesia dalam ranah politik tetapi juga dalam pendidikan. Peristiwa yang patut dikenang adalah sebelum kemerdekaan 1945 adalah periode kolonialisasi, dan sebelum tahun 1970 terdapat ketegangan Orde Baru menuju Reformasi yang terjangkar dalam peristiwa G30S/PKI. Kemungkinan besar, pro-contra pergerakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia mendapat penempaannya dalam kisah bersejarah ini.

Dua peristiwa ini kendati berbeda judul, kisah maupun jarak waktu namun similaritas mereka justru mencuat kental dalam wacana anti-Barat. Pertanyaannya pertimbangan apakah yang dapat digunakan untuk menerima blessing in disguise dari tawaran ilmu pengetahuan yang senantiasa beradaptasi dengan perkembangan IPTEK, yang dalam bahasa rakyat 'ke barat-baratan'?

  • Pergerakan Ilmu Pengetahuan: "Timur ke Barat, Barat ke Seluruh Dunia"

Sejarah identik dengan tulisan. Melalui tulisan, nadi sebuah peristiwa dapat dideteksi dalam wacana peradaban manusia. Memang sulit menentukan fondasi awal sebuah sejarah wacana manusia dimulai, dirumuskan, diendapkan dan dikumpulkan ke dalam pusat penelitian ilmu pengetahuan. Bisa jadi sejak zaman Platon, karena darinyalah kita mengenal sebuah sekolah di Alexandria, Academia. 

Uniknya, pengenalan tersebut baru 'dianggap' berarti setelah ilmu pengetahuan Timur masuk ke dunia Barat abad XII dalam terjemahan bahasa Arab. Dari pergerakan ke Barat inilah terjadi sebuah transformasi yang revolusioner, Barat menjadi fajar intelektualitas.

Pada abad XIV, Geoffrey Chaucer (1340-1400), seorang pujangga Inggris menerbitkan bukunya The Canterbury Tales. Buku tersebut amat bernilai bagi sejarah pergerakan intelektualitas Italia (abad XII-XV) dan Eropa bagian Utara yakni Paris. Chaucer dengan terbuka mengakui hutang bangsa Barat atas penemuan kembali teks-teks Yunani Kuno yang adalah deposito kekayaan intelektual Eropa.

Pengaruh warisan Yunani dan kalangan pedagang Arab ini, mempengaruhi perkembangan intelektualitas kaum sarjana abad Pertengahan sampai kaum humanis pada abad XV dan XVI[5].

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6