Mohon tunggu...
Petrus Kanisius
Petrus Kanisius Mohon Tunggu... Belajar Menulis

Belajar menulis, suka membaca dan jalan-jalan ke hutan

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Pilihan

Mengapa Banjir Semakin Akrab dengan Kita?

24 September 2020   14:50 Diperbarui: 26 September 2020   09:58 233 20 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengapa Banjir Semakin Akrab dengan Kita?
Foto Banjir yang terjadi (22/9) kemarin, di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat (Foto dok : Dari Berbagai sumber)

Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 22 September 2020 kemarin, banjir besar melanda Kecamatan Simpang Dua. Tidak lama berselang, banjir juga terjadi di Kecamatan Simpang Hulu, Kecamatan Sungai Laur, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Banjir pun terjadi beberapa daerah di wilayah Kalimantan Barat seperti di Kapuas Hulu juga terjadi banjir. Jika boleh dikata, saat ini banjir semakin akrab dengan kita. Namun ada satu pertanyaan, kenapa banjir semakin akrab dengan kita?.

Curah hujan yang tinggi dan didukung oleh daya serap air yang semakin berkurang pun menjadi faktor dari terjadinya banjir. Lihat saja, air semakin sulit meresap, daya tampung semakin berkurang. Sejujurnya, apabila luasan tutupan hutan masih ada banyak, mungkin air banjir bisa dengan cepat diserap. Jika pun banjir tidak parah seperti yang terjadi sekarang. Menurut informasi, banjir yang terjadi di Kecamatan Simpang Dua merupakan banjir yang terbesar dan terparah dalam sejarah. Ini berarti daya dukung dan daya tampung lingkungan sudah semakin tidak seimbang. Dulu, banjir terjadi, tetapi tidak separah seperti sekarang. Volume air semakin meningkat ketika banjir melanda. Penurunan jumlah luasan hutan/hutan semakin berkurang maka hampir dipastikan, maka dari itu kita akan semakin akrab dengan banjir.

Mengingat, luasan tutupan hutan sebagai benteng dan daya serap air yang paling sempurna diciptakan oleh Yang Kuasa, namun ironisnya hutanlah yang selalu dikorbankan untuk banyak hal hingga lupa peran pentingnya. Bahkan terkadang kita menuding ini salah alam, yang disalahkan alam dengan kata-kata alam tidak bersabat dan bencana alam.  Alam atau kita kah yang salah?. Alam yang memberi, alam pula yang kita sakiti, itu yang sering terjadi.


Tidak sedikit luasan tutupan hutan hilang sepanjang waktu, setidaknya itu yang menjadi refleksi kita semua. Tidak terasa pula, kita semakin dituntut untuk selalu waspada karena tindakan yang kita buat. Mungkinkah kita semakin tidak menghormati hak-hak keharmonisan dengan alam semesta ini? Jika ya, berarti itu tanda kita harus melakukan sesuatu/memperbaiki tata kelola, apa sumber penyebab utama banjir. Musim hujan dan curah hujan yang tinggi memang bisa menyebabkan banjir, tetapi jika ada daya tampung satu diantaranya luasan tutupan hutan mungkin tidak separah ini.

Hal lain adalah ketika orangtua dahulu membuat rumah di dataran tinggi untuk menghindari terjadinya banjir. Tetapi sekarang kita semakin sulit untuk memilih wilayah dataran tinggi untuk area perumahan. Kecenderungan lagi ketika kita lupa atau sengaja lupa akan peran penting hutan rimba raya atau pulo rimba (hutan yang disiapkan sebagai cadangan/penjaga) semakin sedikit yang tersisa.

Luasan tutupan hutan yang ada menjadi tanda nyata bahwa sesungguhnya kita dititipkan oleh Yang Kuasa (TYME) selalu berdampingan dan selaras (harmoni). Tak salah kiranya bila kita memiliki slogan hutan adalah sebagai nafas  hidup. Mampukah kita tanpa hutan (alam) ini?

Banjir yang semakin akrab dengan kita pun semakin menjadi tanda bahwa selalin kewaspadaan adalah langkah atau cara apa yang bisa kita lakukan.

Tidak sedikit kita beroleh kebaikan yang tak terkira dari alam ini, hutan ini. Paru-paru dunia bahkan dulu disematkan pada hutan alam Kalimantan ini. Sekarang apakah masih dapat dikatakan demikian?

Entahlah, tetapi yang pasti, banjir yang terjadi sungguh sangat erat kaitannya dengan kita yang saat ini sudah semakin tidak harmoni terhadap alam dan lingkungan kita. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x