Petrus Kanisius
Petrus Kanisius karyawan swasta

Belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Liana si Penumpang pada Pohon dan Pemberi Manfaat bagi Satwa

20 September 2018   13:41 Diperbarui: 22 September 2018   13:52 1698 11 3
Liana si Penumpang pada Pohon dan Pemberi Manfaat bagi Satwa
Tumbuhan Liana yang menumpang pada pohon. Foto dok : Syahik Nur Bani/YP

Tumbuhan ini jika boleh dikata adalah tumbuhan Penumpang pada tumbuhan lain, mungkin itu kata yang cocok untuk dikatakan kepada tumbuhan liana. Tumbuhan ini pun sangat banyak sekali tumbuh dan hidup di wilayah hutan hujan tropis, tidak terkecuali di Taman Nasional Gunung  Palung (TNGP) yang diketahui banyak memberikan manfaat bagi satwa.

Ia bukan pohon, tetapi tumbuhan. Hidup menempel (menumpang) serta menjalar pada pohon sebagai penopangnya untuk mendapakan cahaya matahari. Tidak hanya itu, tumbuhan liana bukan tumbuhan parasit (tumbuhan yang merugikan tumbuhan lain) seperti ficus sp (kayu ara) misalnya.

Buah Jantak jenis liana Willughbeia sp. Foto dok. Riduwan /YP
Buah Jantak jenis liana Willughbeia sp. Foto dok. Riduwan /YP
Menariknya, tumbuhan liana ternyata banyak memberikan manfaat bagi satwa. Seperti misalnya akar liana yang menjalar atau menggantung bisa menjadi arena bermain bagi satwa dan buah dari liana menjadi makanan favorit satwa.

Tidak hanya buah, tetapi satwa seperti orangutan sangat suka memakan daun muda dan kulit dari liana. Untuk buah, orangutan sangat senang memakan buah liana jenis Willugbeia sp (buah jantak) karena rasanya manis.

Beberapa satwa seperti monyet ekor panjang, kelempiau, kelasi dan orangutan diketahui sangat menyukai tumbuhan liana sebagai makanan. Selain liana dari jenis akar kuning ada jenis lainnya yang dimanfaatkan oleh binatang disana seperti, tapal kaki kuda (Bahuinia sp), cakar elang/pancingan (Uncaria sp), Combretum spdan lain-lain.

Bunga dari liana jenis Gnetum. Foto dok. Riduwan
Bunga dari liana jenis Gnetum. Foto dok. Riduwan
Berikut informasi pakan primata yang berasal dari tumbuhan liana berdasarkan hasil dari penelitian yang berhasil diidentifikasi :

Informasi pakan satwa dari liana yang disukai oleh monyet ekor panjang (macaca facicularis). Dok. Foto capture dari presentasi Riduwan
Informasi pakan satwa dari liana yang disukai oleh monyet ekor panjang (macaca facicularis). Dok. Foto capture dari presentasi Riduwan

Informasi pakan satwa dari liana yang disukai oleh Kelempiau (Hilobates mulleri) Dok. Foto capture dari presentasi Riduwan
Informasi pakan satwa dari liana yang disukai oleh Kelempiau (Hilobates mulleri) Dok. Foto capture dari presentasi Riduwan
Informasi pakan satwa dari liana yang disukai oleh Kelasi (Presbytes Rubicunda). Dok. Foto capture dari presentasi Riduwan
Informasi pakan satwa dari liana yang disukai oleh Kelasi (Presbytes Rubicunda). Dok. Foto capture dari presentasi Riduwan
Informasi pakan satwa dari liana yang disukai oleh Orangutan (Pongo pygmaeus) Dok. Foto capture dari presentasi Riduwan
Informasi pakan satwa dari liana yang disukai oleh Orangutan (Pongo pygmaeus) Dok. Foto capture dari presentasi Riduwan
Seperti diketahui, kelimpahan liana di Stasius Penelitian Cabang Panti (SPCP) di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) sangat padat baik dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Diketahui pula, keberadaan tumbuhan liana sebagai penanda (ciri khas) bahwa hutan di Indonesia merupakan hutan hujan tropis.

 "Tumbuhan liana merupakan tumbuhan yang memiliki batang yang keras namun untuk mendapatkan cahaya matahari untuk berfotosintesis (proses pertukaran CO2 dan O2). Liana membutuhkan lain seperti pohon. Akar liana  berbeda dengan Ficus sp.  Ficus  sp (kayu ara) organ tubuhnya menempel pada pohon.

Liana  merupakan salah satu tumbuhan parasit karena dapat memberi luka pada tumbuhan lain, tetapi liana bukanlah parasit yang ganas", ujar Riduwan salah satu mahasiswa Kehutanan Universitas Tanjungpura yang melakukan penelitiannya selama 1 setengah bulan di Cabang Panti, Taman Nasional Gunung Palung ketika menyampaikan perentasi hasil penelitiannya di Kantor Yayasan Palung beberapa hari lalu.

Riduwan saat menyampaikan hasil penelitiannya tentang tumbuhan liana. Foto dok. Rizal/YP
Riduwan saat menyampaikan hasil penelitiannya tentang tumbuhan liana. Foto dok. Rizal/YP
Menurut Riduwan, Meneliti tumbuhan liana itu sangat menarik, menariknya pertumbuhan liana itu batangnya bergelantungan diantara pohon-pohon sehingga batang liana ini dimanfaatkan oleh primata untuk bermain. Misalnya, seperti orangutan dan monyet ekor panjang berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya memanfaatkan batang liana.

Daun tumbuan liana jenis Agelaea sp. Foto dok. Riduwan
Daun tumbuan liana jenis Agelaea sp. Foto dok. Riduwan
Ada pun alasannya (Riduwan) melakukan penelitian terhadap tumbuhan  liana karena penelitian terhadap tumbuhan ini masih sangat terbatas sehingga menarik untuk dilakukan penelitian.

"Ada banyak  jenis liana di SPCP yang belum diketahui jenisnya. Sehingga penelitian yang saya lakukan ini  baru sampai genus, belum sampai pada spesies. Selain itu, tumbuhan ini merupakan salah satu sumber pakan primata di SPCP misalnya seperti daun muda, batang muda, bunga dan buah", ujar Riduwan yang sebelumnya juga telah melakukan pra penelitian di Cabang Panti, Gunung Palung.

Riduwan saat melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok. Riduwan
Riduwan saat melakukan penelitian di Taman Nasional Gunung Palung. Foto dok. Riduwan
Berdasarkan hasil penelitian di Gunung Palung berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Riduwan antara lain di Hutan:  Rawa gambut-rawa air tawar, Alluvial, Batu berpasir , Granit dataran rendah dan Granit dataran tinggi.

Total liana yang telah ditemukan secara keseluruhan ada 21 genus dan 3 famili. Sedangkan jumlah total hasil pengamatan terhadap liana dari habitat Rawa Gambut sampai Granit Dataran Tinggi secara keseluruhan sebanyak 320 tumbuhan liana yang berhasil diketahui jenisnya.

Berharap, tumbuhan liana yang ada ini harus tetap terjaga kelestariannya, karena tumbuhan liana sangat banyak manfaatnya terutama untuk satwa (primata).

Petrus Kanisius - Yayasan Palung