Petrus Kanisius
Petrus Kanisius karyawan swasta

Belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Hijau Pilihan

Ketika Kita dan Sampah Bicara dalam Bahasanya

13 Maret 2018   12:25 Diperbarui: 13 Maret 2018   12:41 919 4 0
Ketika Kita dan Sampah Bicara dalam Bahasanya
Tumpukan sampah di pesisir pantai. Sampah di laut membahayakan bagi biota laut dan juga manusia bila masuk ke rantai makanan. Foto dok (kkp.go.id) via National Geographic Indonesia

 

Tumpukan demi tumpuk sampah selalu ada dan tercipta sepanjang waktu oleh tangan-tangan kita baik yang sengaja atau pun tidak namun itu sudah pasti terjadi (sampah selalu tercipta) sehingga kita dan sampah bicara dalam bahasa masing-masing.

Kita pula pasti tak asing dan sangat akrab dengan sampah, mengapa demikian adanya?. Produksi sampah dari hari ke hari kian bertambah dan bicara dalam bahasanya masing-masing. Demikian juga kita yang tak jarang mempersoalkan terkait adanya sampah. Kita dan sampah memang sesuatu hal yang tidak terpisahkan. Adanya kita sudah pasti tercipta apa yang namanya sampah.

Hasil riset Jenna R. Jambeck dan kawan-kawan (publikasi di www.sciencemag.org 12 Februari 2015) yang diunduh dari laman www.iswa.org, pada 20 Januari 2016 menyebutkan; Indonesia berada di posisi kedua penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok, disusul Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Dari Riset Greeneration, salah satu organisasi nonpemerintah yang 10 tahun mengikuti isu sampah menyebutkan satu orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. Di alam, kantong plastik yang tak terurai menjadi ancaman kehidupan dan ekosistem (Kompas, 23 Januari 2016). Data hasil riset tersebut diperkuat oleh kenyataan akhir-akhir ini di sekitar masyarakat Indonesia.

Seperti misalnya, produksi sampah masyarakat Jakarta adalah  6.270 ton per hari atau sama dengan berat 30 paus biru dewasa (sumber BBC Indonesia/2017).

Beragam alasan terkait kita dan sampah sering kali terucap dan terlontar lewat bahasanya.Tidak bisa disangkal mungkin kata itu yang cocok untuk dikatakan.

Sampah Plastik di Lautan. Foto dok. National Geographic, via Kompas
Sampah Plastik di Lautan. Foto dok. National Geographic, via Kompas
Entahlah, mungkin dia lelah atau lupa. Lihatlah, itu terjadi ketika tangan kita dengan mudahnya membuang sampah di sepanjang jalan raya, di tepian sungai atau pun kali/selokan.  Ada pula oknum pelintas di samudera raya berupa motor air /kelotok yang juga terkadang lupa dan tak jarang membuang sampah di lautan lepas. Sampah-sampah plastik dan botol itu sudah pasti menanti bahaya bagi para ikan, pesut, penyu atapun juga burung di laut. Mereka pun terkadang menyangka sampah-sampah itu makanan mereka dan setelahnya mereka pun tak luput meregang nyawa.

Burung albatros yang mati akibat perutnya penuh plastik. Foto dok. Chris Jordan, via Mongabay Indonesia
Burung albatros yang mati akibat perutnya penuh plastik. Foto dok. Chris Jordan, via Mongabay Indonesia
 Ketika di daratan, sampah meluber di tempat pembuangannya di sekitar jalan raya. Melubernya sampah yang dibuang pun bertebaran dan berterbangan sana kemari sembari melambai-lambai memohon pertolongan kita. Tak hanya itu sampah-sampah yang ter/dibuang sembarang pun acap kali terkumpul dan berpadu menjadi satu. Beberapa diantaranya sangkut dan tertumpuk di selokan tak bisa lari karena saluran yang tak lancar. Bau menyengat berbaur berpadu menjadi aroma terapi sepanjang hari bila berjumpa dengan sampah. Tak jarang ketika kita yang menjumpai tumpukan demi tumpukan sampah tersebut menutup hidung dan berseloroh mengapa sampah itu ada dan mengapa dibiarkan menumpuk hingga berbau.

Tangan-tangan terampil terlihat mengais, beradu cepat dengan puluhan truk yang mengangkut tumpukan demi tumpukan sampah-sampah entah dari mana ia berasal. Sampah itu tercipta dari kita manusia. Tak  mungkin sampah itu ada dan tercipta karena ia sendiri. Tangan-tangan terampil itulah yang mau/sengaja peduli untuk penyambung nyawa untuk diciptakan sebagai bahan karya yang berguna. Banyak orang mengatakan, tangan-tangan terampil itu mengolah, memilah, berkreasi, mendaur agar sampah tak merajalela mendera. Mengingat, mereka sulit hancur dan mrmerlukan waktu yang lama untuk memulihkan bekas-bekas (lingkungan hidup) timbunan sampah. 

Sampah bicara dalam bahasanya ketika ia menari-nari saat banjir tiba. Sebab sampah tak jarang mengundang hadirnya banjir dan  tergenangnya air yang sulit terbawa karena telah menumpuk. Terkadang pula ketika sampah-sampah yang terbawa banjir itu tersangkut dan siap menerobos appun yang ada di depan arus kemana pun ia terbawa. Bila ia berkumpul dan menumpuk, nyamuk dengan senang hati bersarang dan berkembangbiak. Terkadang nyamuk-nyamuk itu pun dengan senang hati singgah dan berkunjung di rumah-rumah warga. Sakit penyakit tak terhindarkan ketika nyamuk menyerang warga.

Sepertinya apabila dilihat perilaku dan bahasanya sampah perlu uluran tangan untuk diperhatikan, diperdulikan dan olah dengan kebijaksanaan kita. Sampah pun dalam bahasanya selalu mengingatkan kita agar tak sembarangan membuang mereka begitu saja. Sampah tidak selamanya sampah, sampah bisa saja menjadi berkah bila ia diolah dengan ragam kreasi daur ulang yang memiliki manfaat bagi tatanan kehidupan. Berharap ada bahasa kita terdogma dan terbiasa untuk mengajak Buanglah sampah pada tempatnya,  Stop! Membuang sampah sembarangan di tempat umum. Selain juga muncul dan timbul kesadaran diri untuk mau peduli pada sampah.

Petrus Kanisius-Yayasan Palung