Mohon tunggu...
Petrus Kanisius
Petrus Kanisius Mohon Tunggu... Wiraswasta - Belajar Menulis

Belajar menulis dan suka membaca. Saat ini bekerja di Yayasan Palung

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Artikel Utama

Bencana Akibat Perbuatan, Alam yang Salah?

7 September 2017   13:41 Diperbarui: 13 September 2017   03:03 3966
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Banjir yang terjadi pekan lalu di beberapa wilayah seperti di Rengas, Kec.Tumbang Titi dan Kec. Jelai Hulu, Foto dok. Faustinus Liongkun

"Banjir dan bencana yang terjadi, ini sebagai tanda alam dan lingkungan mulai tidak bersahabat dengan kita manusia", itulah kira-kira ungkapan sesorang ketika menyatakan kejadian atau peristiwa seperti banjir  dan bencana lain yang terjadi. Apakah sesungguhnya demikian?.

Rentetan berbagai bencana (banjir, banjir bandang, tanah longsor dan lain akibat perbuatan bukan secara alami) yang terjadi di negeri ini acap kali menjadi sebuah tanda tanya. Tanda tanya tersebut tidak lain kecenderungan tak sedikit orang yang menyalahkan alam (lingkungan) apabila terjadi bencana.

Ada sebab pasti ada akibat, setidaknya itu yang terjadi terkait apapun itu dalam tatananan kehidupan kita. Ketika kaki tersandung cukup keras ke tanah atau batu pasti kaki sakit bahkan bisa luka atau bengkak. Demikian pula halnya dengan alam (lingkungan), Yang Maha Kuasa (Tuhan/Allah) menciptakan langit dan bumi beserta isinya tentu memiliki nilai, guna dan  manfaat.

Bumi dan segala isinya diciptakan untuk suatu keharmonisan bukan untuk keserakahan. Bumi isinya untuk penyambung nyawa, pemberi tak sedikit manfaat. Bumi itu titipan bukan warisan. Tengok saja, bila kita manusia tidak harmonis atau semakin serakah memperlakukan alam wajar saja kita akan menerima akibat (dampak) apa yang ditimbulkan.

Banjir Jelai Hulu dan wilayah sekitarnya yang terjadi beberapa waktu lalu. Foto dok. monga.id dari berbagai sumber
Banjir Jelai Hulu dan wilayah sekitarnya yang terjadi beberapa waktu lalu. Foto dok. monga.id dari berbagai sumber
Dari dampak ataupun akibat/konsekuensi tersebut bukan berarti alam sebagai biang tetapi mengapa sehingga muncul dampak, apa yang menyebabkan dampak tersebut. Jadi dengan demikian alam (lingkungan)kah yang salah bila terjadi bencana?.

Dulu tidak bisa disangkal, alam dan lingkungan masih sangat harmonis, tapi kini acap kali manusia yang membuat jarak atau membuat jurang pemisah. Lihat, berapa banyak hutan dan segala isinya yang (di/ter)korbankan, dimusnahkan, terkikis menjelang habis. Indonesia dikatakan telah kehilangan 840.000 hektar (3.250 mil persegi) hutan pada tahun 2012, demikan laporan yang disebutkan jurnal Nature Climate Change, melaui rilis mereka pada tahun 2014 lalu. Tidak terelakan pula hilangnya jutaan hektar luasan tutupan hutan sebagai penyerap dan penampung air sedikit banyak berdampak terjadinya banjir, banjir bandang dan tanah longsor.  

Melihat data dan fakta tersebut diatas tak benar kiranya alam dan lingkungan yang disalahkan. Salah satu alasannya, alam/lingkungan tidak mungkin membinasakan atau merugikan sekelilingnya. Mengingat, alam (lingkungan) justru menjaga dan memilihara serta memberi manfaat. Bayangkan bila tidak ada hutan sebagai penyedia oksigen, mungkin kita sulit bernafas atau boleh dikata untuk bernafas perlu biaya besar, bila tak ada hutan mungkin  akan kesulitan air bersih.

Bencana alam yang terjadi sejatinya tidaklah menjadi keinginan tetapi dampak yang timbul dari sebab menjadi akibat. Maka dari itu, tidak tepat pula kiranya seseorang menyatakan bila terjadi bencana itu alam yang salah (penyebabnya). Justru dari kita manusia yang acap kali menjadi biang dari sebab musabab yang juga menimbulkan sebab menjadi akibat adanya korban harta dan bahkan terkadang korban nyawa.

Luasan tutupan memang tidak bisa disangkal dari tahun ke tahun semakin berkurang namun banyak cara untuk menjaga, melindungi dan menanam kembali hutan yang telah hilang atau rusak agar bisa tegak berdiri kokoh sebagai penopang, pelindung, penyeimbang bagi semua yang mendiami bumi ini.

Alam (lingkungan) sejatinya telah ditakdirkan sebagai titipan bukan warisan, dengan demikian pula sudah menjadi kewajiban dari generasi ke generasi siapapun itu untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai titipan hingga nanti. Semoga saja alam (lingkungan tidak selalu disalahkan) melainkan kita bisa berkaca pada bencana yang terjadi apa penyebabnya.

Lihat video Banjir  dok. santix leader yang terjadi pekan lalu di daerah di Kec. Tumbang Titi dan Jelai Hulu

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun