Mohon tunggu...
Petrus Kanisius
Petrus Kanisius Mohon Tunggu... Wiraswasta - Belajar Menulis

Belajar menulis dan suka membaca. Saat ini bekerja di Yayasan Palung

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Payung Pelindung

22 Juli 2016   17:55 Diperbarui: 22 Juli 2016   18:00 58
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi foto : Payung. dok. Forum Kompas

 

Luapan badai tak kunjung pergi, menanti payung pelindung. Hilang datang, silih berganti, bertubi-tubi mendera.

Haru biru membuncah membelah fatamorgana yang tak tertuai, ingin digapai tak sampai.

Payung pelindung, tak lain tentang hutan belantara. Rimbun rimba raya, telah berganti gersang berpadu semak padang ilalang

Belantara kian lenyap berbekas dimakan waktu,

Ditelan jaman,

Terkikis menjelang habis,

Karena?

Rebah, luluh layu kerontang hingga terpanggang oleh tingkah polah jengah tanpa malu prilaku.

Membakar kulit, tersengat mulai sekarat. Merawat, dirawat itu adaikan. Nyatanya?.

Payung pelindung?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun