Mohon tunggu...
Subhan Riyadi
Subhan Riyadi Mohon Tunggu... Lainnya - Abdi Negara Citizen Jurnalis

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan. Dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila, bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan (Pramoedya Ananta Toer). Portal berita: publiksulsel.com

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Akhir Persembunyian Sang Predator Anak

3 Juni 2016   07:59 Diperbarui: 3 Juni 2016   08:41 100
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 (sumber gambar: gosulsel.com)

Kesigapan Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Makassar berhasil mengungkap misterius siapa aktor pemerkosaan terhadap SA bocah 7 tahun cukup diacungi jempol. Pasalnya dalam waktu yang tidak terlalu lama bereaksi cepat meringkus Fadly alias Doyok (23) diketahui masih ada hubungan kerabat.

Pelaku diciduk polisi di rumah bosnya di Kelurahan Paropo, Kecamatan Panakukkang Makassar, Selasa (31/5). Pepatah mengatakan “sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga,” seperti itulah kira-kira kecerdikan pelaku menyembunyikan kebusukannya, akhirnya terendus polisi. Sebutir timah panas sempat singgah melumpuhkan Fadly alias Doyok mencoba kabur saat aparat menyambangi peresembunyiannya. Awalnya polisi kesulitan mengidentifikasi pelaku lantaran korban masih trauma sehingga belum bisa dimintai keterangan. Insting kepolisianlah yang mampu memecahkan misterius pelaku kekerasan seksual terhadap SA (7) yang masih duduk di kelas 1 SD.

Dasar bejat!, kelakuan Fadly alias Doyok, berani berbuat namun tidak berani bertanggung jawab. Sudah sewajarnya predator seperti ini mendapat ganjaran seberat-beratnya, hukuman mati pun layak baginya. Akan tetapi jika hukuman sebatas hitam diatas putih, maka akan bermuculan predator-predator baru, bak virus mengerikan tidak ada tempat aman lagi bagi keselamatan anak.

Saya heran!, ada apa dengan pesatnya perkembangan dunia informasi dan teknologi,  begitu mudahnya mengakses konten-konten berbau “porno”. Sementara berdalih “radikalis” pemerintah yang berkompeten di bidangnya memblokir situs-situs berbasis islam. Entahlah, apakah ini salah satu dampak positif atau negatif ditutupnya tempat-tempat prostitusi untuk “jajan” birahi yang mereka tidak dapatkan sebelumnya. Ketagihan itulah yang membuatnya nekat berprilaku bejat, pada akhirnya tanpa pandang bulu, tatkala birahi mencapai klimaks yang ada didepan mata disikat, tanpa kecuali anak-anak menjadi sasaran empuk predator.

Seperti kita ketahui bersama bahwa karakteristik bangsa tanpa ilmu pengetahuan ibarat manusia tanpa otak alias mayat hidup,  iman dan takwa generasi muda sekarang banyak terjerumus pergaulan bebas, pada ujungnya terjadilah perbuatan-perbuatan diluar akal sehat manusia, seperti; mabuk-mabukkan, narkoba, pelacuran, pemerkosaan, pembunuhan, hingga kecanggihan internet menghadirkan konten prostitusi online dengan tarif begitu fantastis. Heran!, seusia saya dulu, melihat wanita dengan memakai kemben (jarit) setengah telanjang mencuci di sungai aman-aman saja, tidak ada pemberitaan telah terjadi pemerkosaan terhdap wanita mencuci pakaian di sungai.

Walhasil, anak-anak perempuan, seorang bayi tidak luput menjadi sasaran pemerkosaan, boleh jadi nenek-nenek seksi pun tidak luput menjadi korban pelecehan seksual. Ada apa dengan moralitas pendidikan sekarang ini? Atau hanya sekedar mengejar profit menghabiskan anggaran akhir tahun, tanpa memikirkan kecerdasan bangsa.

Atas rentetan tragedi memiriskan belakangan marak terjadi, agaknya riset John Miller, presiden Universitas Central Connecticut State di New Britain, menempatkan Indonesia pada peringkat-60 sebagai negara terpelajar mulai mendekati kenyataan, menempatkan Finlandia sebagai peringkat-1 negara paling terpelajar di dunia. Walau demikian lebih baik "Hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negara orang asing".

Riset tersebut didasari pada hasil ujian Literasi dan "karakteristik sikap terpelajar" misalnya jumlah perpustakaan, koran, buku, majalah, lamanya sekolah serta ketersediaan komputer pada tiap negara, bukan malah asyik bersaing memperbanyak pembangunan Mall dan Property, lantas melupakan harkat serta martabat bangsa sendiri.

Kejadian yang menimpa SA itu bukanlah kasus pertama dan terakhir, masih banyak anak yang bisa mengalami kasus serupa. Saat ini, hampir seluruh kolong langit indonesia tidak ada tempat yang aman bermain buat tumbuhkembangi anak-anak kita. Bahkan kejahatan seksual banyak dilakukan orang terdekat, seperti keluarga ataupun tetangga.

Atas rentetan peristiwa mencekam ini sebagian besar dan hampir seluruh rakyat indonesia mengutuk predator anak ini, tapi balik lagi ke manusianya sendiri serta jangan lupa peristiwa ini terjadi akibat kelalaian pemimpin yang kita pilih sendiri, mereka asyik dengan “panggung” sendiri sehingga melalaikan kegelisahan warganya, fenomena pemerkosaan terhadap anak dibawah umur jangan sampai terulang kembali. Dan jangan pula menyalahkan bunda mengandung yang melahirkan generasi berkarakter kriminil, semua berawal dari keluarga dan lingkungan pergaulan membentuk sebuah karakteristik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun