Mohon tunggu...
Subhan Riyadi
Subhan Riyadi Mohon Tunggu... ASN (Aparatur Sipil Negara)

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan. Dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila, bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan (Pramoedya Ananta Toer).

Selanjutnya

Tutup

Bola

Bolanya Satu yang Rebutin Banyak, Gila!!!

28 April 2017   12:38 Diperbarui: 29 April 2017   16:52 583 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bolanya Satu yang Rebutin Banyak, Gila!!!
gambar-bola-5904625c3fafbd1f6b8b1316.jpg

 (sumber gambar: http://2.bp.blogspot.com/)

Bolanya satu yang rebutin banyak, gila!. Diakui sepakbola merupakan salah satu olahraga paling popular di masyarakat baik Indonesia maupun Mancanegara, boleh dikatakan olahraga mendunia. Dahulu bola hanya diperminkan kalangan tertentu saja, seiring perkembangan jaman bola menjadi olahraga paling merakyat.

Pemainnya bukan hanya didominasi kaum adam, saking populernya mampu merambah kaum wanita, kejuaraannya pun ada. Tengok saja kiprah mereka pada kejuaraan antar kub dan kejuaraan sepakbola wanita, skill individu maupun strategi juru taktik tidak kalah dari pelatih pria kaliber Pep Guardiola atau Mourinho. Olahraga satu ini juga bukan melulu urusan pemain, juga mengarah pada bisnis yang menggiurkan. Tak kalah mencengangkan, kegilaan bola sanggup menyedot adrenaline penonton sering disebut supporter, pedagang asongan, merchandisepun tak mau kalah bersaing meramaikan kompetisi sepakbola.

Akan tetapi dibalik popularitasnya, setujukah kita apabila menyebut olahraga sepakbola sebagai permainan “gila.” Hal ini pasti menuai pro dan kontra berbagai kalangam masyarakat dan pemain itu sendiri, tanpa terkecuali komentator yang larut terbawa arus "kegilaan" sepakbola. Kita tengok saja panjang gawangnya saja 7 meter, tingginya 2 meter alasan lain dikatakan “gila" toh untuk apa gawang sepanjang itu harus dijaga oleh seorang kiper atau penjaga gawang, secara kasat mata sangat mudah menceploskan bola ke gawang sepanjang itu, ternyata dilapangan berkata lain.

Lapangan seluas itu justru para pemain kesulitan membobol gawang, apa tidak gila ini namanya. Tidak cukup disitu, jumlah kedua klub bahkan Negara setidaknya 22 orang pemain, memperebutkan satu bola untuk bisa membobol gawang tersebut, maka wajar jika saya menyebutnya “gila”tak pelak anak-anak saya juga ikut-ikutan menggilai bola.

Kegilaan semakin menjadi ketika sorak sorai suporter di lapangan maupun layar televisi  “goal!” serentak menyaksikan tim kesayanganya sanggup membobol gawang lawan. Dari gesturetubuh para pemain mengarahkan kita untuk meniru gerakan selebrasinya. Kegilaan juga diperparah dengan trik-trik licik mencedarai lawan, diving mengelabuhi wasit untuk mendapat tendangan bebas, hadiah pinalti tujuan utamanya.

Tensi supporter atau penonton menjadi lebih gila saat mendapati tim favoritnya kalah pada laga sepakbola. Benar sekali!, Hidup tanpa kegilaan serasa hambar, bagai sayur kurang garam, akan terlihat terlalu “suci” dengan aroma surga, dan kegilaan seperti itu otomatis hanya bisa dinikmati di muka bumi yang panas dan fana ini. Bola memang mempersatukan segala gender, ras tanpa memandang dari kasta mana mereka berasal, asal kita piawai menggocek si kulit bulat pasti diterima semua kalangan, tanpa membeda-bedakan pangkat maupun jabatan. Hanya orang gila saja yang tidak menerima kekalahan sepakbola.

Kalah menang dalam sepakbola bukanlah sebuah akhir cerita seperti kalah dalam medan perang. Pertanyaannya? Tanpa kehadiran sepakbola, akan seperti apa dunia ini. Sebab, sepakbola tak lebih hanyalah sarana untuk menyalurkan presatasi yang positif dari pada kita benar-benar terjerembab dalam perbuatan gila sesungguhnya. Masing-masing klub, Negara, supporter harus menerima kenyataan kalah maupun menang. Bangkit usai kalah, jangan larut berlebihan dalam  euphoria kemenangan, tidak menutup kemungkinan tim yang sebelumnya kalah berbalik memenangkan permainan.

Jaga sportivitas sepakbola, tatap kehidupan lebih baik agar kita tidak dikatakan orang gila bola kebablasan, semua akan kembali normal seperti sedia kala. Gila sepakbola atau sepakbola gila. Entahlah! jelasnya bolanya satu membuat orang mengilai sepakbola.

Makassar, 28 April 2017

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x