Mohon tunggu...
Pintu Kata
Pintu Kata Mohon Tunggu... Menulis Bebas.

Twitter : @pintu_kata Laman daring : https://www.pintukata.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Perabot Terbang?

11 Agustus 2020   14:02 Diperbarui: 11 Agustus 2020   13:52 15 1 0 Mohon Tunggu...

Perabot oh perabot! Piring kaca, gelas kaca yang mudah pecah. Oh sungguh pecah berkeping-keping hati, cairannya menggumpal, membludak keluar berkucuran deras! Ada apa ini? Bagaimana mungkin aku menyimpan benda-benda warisan ini? Sudahlah buang jauh-jauh, singkirkan dari sisi tubuhmu. Kau tidak mungkin membopongnya tiga hari tiga malam, lalu menaruh semua di kamarmu, yang tak seluas alas dan hanya tiga meter persegi.

Syahdan, aku pun harus merelakan beberapa untuk ditinggalkan. Toh, aku tidak punya saham atas apapun. Berapa helai rambut yang lunglai, lalu jatuh rontok berguguran, aku juga tidak bisa mensiasati kapan dan menahannya untuk tidak semerta-merta gugur begitu saja. Semua berangkat dari kehendak Tuhan, yang menciptakan segala sesuatu beserta kompleksitas dan misteri di dalamnya.

Dua tahun lebih, kami menempati apartemen tersebut. Sehingga, tanpa perlu ditanyakan Kembali, berapa banyak warisan yang ditinggalkan begitu saja. Alhasil, sepotong jaket pun, ada yang dari tahun ke tahun diwariskan, semacam piala bergilir. Memang, jaket tersebut bukanlah yang dipakai pada cuaca dan nuansa umumnya, mengingat kota Changchun masih serumpun daerah utara, yang dikenal merengkuh dingin lebih lama dalam setahun. Tak ayal, manusia utara memiliki dada yang kekar dan kokoh. Biar pun Anda berasal dari daerah timur, jika lawan bicaranya mereka, jangan heran kalau-kalau suaranya terdengar menggelegar, mengancam, nada keras, tinggi. Karena mereka dicetak oleh lingkungan, yang menuntut keperkasaan dan ketangguhan hidup di saat-saat musim dingin yang ekstrem.

Yang membuat betah menetap di apartemen, selain tempatnya strategis : dekat dengan kampus, transportasi terjangkau, posisinya di area pemukiman warga lokal semacam perumahan. Kami juga bisa melakukan beberapa kegiatan secara berjama'ah, bersama-sama. Semisal, pergi belanja untuk kebutuhan pokok, kami sering menjadwalkan kapan dan menentukan ke pasar yang mana nantinya akan kami tuju. Kemudian, kegiatan di dalam apartemen kami memetakan jadwal piket harian, masak, bangunin subuh, dst. Indahnya melaksanakan kegiatan bersama, kami bisa saling bersinergi satu sama lain, silang pendapat, saling menyemangati, pun memahfumi kekurangan di antara kami. Apa pun akan terasa lebih mudah diatasi, jika dilakukan bersama-sama, namun ini bukan berarti semuanya harus bersama ya hehehe..

Tentunya, ada ruang privat-individu, yang hanya aku atau Anda dengan Tuhan yang tahu. Pula, ada ruang bersama, yang notabenenya lebih ke aspek kekeluargaan, menyongsong keterbukaan, saling menimpali kreatifitas dan unsurnya lebih dari satu. Bahkan, ada semacam tata krama, tata cara bagaimana melebur dalam kebersamaan, terjun dari tebing ke hamparan sosial realita hidup yang luas, perlu keluhuran memahami cakrawala kehidupan, di mana kita secara tidak sadar butuh yang lain, baik hanya sekedar berinteraksi, maupun ingin memupuk dan menumbuhkan bunga afeksi dari lawan jenis.

Asalkan kita memiliki kelengkapan pengetahuan dan keluwesan hati, hidup akan lebih ringan dari segala varian perabot!

"Ah.. Serius lu? Melayang dong? diporak-porandakan angin tantangan, dan badai derita!"

"Barangkali ia melayang mengikuti mata angin, kedua tangannya mengepak bagai sayap burung, terus terbang membumbung tinggi di antara ketiak awan. Ia begitu tenang dihimpit jaman, yang silih berganti tangan rawan kepentingan..."
....

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
11 Agustus 2020