Politik Pilihan

Ulama di Ranah Politik untuk Pilpres 2019

2 Agustus 2018   17:17 Diperbarui: 2 Agustus 2018   17:34 483 2 1
Ulama di Ranah Politik untuk Pilpres 2019
jokowi-prabowo.jpg

Baik kubu Jokowi maupun Prabowo, kemungkinan besar akan memilih cawapres yang dekat dengan para ulama. Akankah Pilpres nanti menjadi perang pengaruh bagi ulama?

"Di antara politisi, penghargaan terhadap agama itu membawa keuntungan." ~ Benjamin Whichcote

Memasuki Agustus, kesibukan kedua kubu koalisi -- baik Pemerintah maupun oposisi semakin tinggi. Apalagi pembukaan pendaftaran calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung di Pemilihan Presiden 2019 sudah akan dibuka pada tanggal 4 hingga 10 Agustus mendatang.

Bila di pihak petahana, Joko Widodo dan kesembilan partai politik pendukungnya menyatakan telah sepakat dengan satu nama yang hingga kini masih dirahasiakan. Di pihak Prabowo Subianto, Ketua Umum Gerindra tersebut sepertinya masih dipusingkan dengan siapa yang sebaiknya ia pilih untuk mendampinginya berlaga nantinya.

Usai meraih tambahan dukungan suara dan logistik yang besar dari Partai Demokrat, sebelumnya banyak pihak menduga mantan Danjen Kopassus itu akan juga meminang Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapresnya. Apalagi, putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini diakui memiliki elektabilitas cukup tinggi.

Namun situasi berubah, setelah Prabowo datang ke acara Ijtima GNPF Ulama yang berlangsung Jumat (27/7) lalu. Sebab kelompok yang merupakan pentolan dari Persaudaraan Alumni 212 tersebut mengeluarkan rekomendasi dua nama cawapres yang diharapkan dipilih oleh Prabowo, yaitu Salim Segaf Aljufri atau Abdul Somad.

#2019PrabowoPresident08
Pasangan Prabowo Subianto -- Abdul Somad Batubara yg di rekom ijtima' ulama adalah antisipasi terhadap Jokowi yg berpasangan dgn siapapun..!
Sami'naa wa atho'naa...
--- Pelosok Desa #2019GantiPresiden (@Syahab29885285) August 1, 2018

Sebagai capres pilihan GNPF Ulama, rekomendasi cawapres tersebut tentu membuat
Prabowo harus mengkomunikasikan kembali pada parpol pendukungnya, yaitu PAN dan Demokrat. Sedangkan PKS  merupakan yang paling diuntungkan dengan rekomendasi tersebut, sebab Salim Segaf merupakan Ketua Majelis Syuro PKS.

Banyak pihak menilai, rekomendasi GNPF Ulama tersebut membuat posisi Prabowo terjepit. Mengingat secara moral, ia memiliki utang budi pada gerakan 212 yang berhasil memenangkan partainya di Pilkada DKI Jakarta lalu. Namun di sisi lain, baik Salim Segaf maupun Abdul Somad bukanlah tokoh yang bisa mendongkrak elektabilitasnya.

Sementara di kubu Jokowi, ada begitu banyak sosok yang tak hanya dekat dengan ulama dan umat Islam, namun juga memiliki elektabilitas dan kapabilitas yang tinggi. Beberapa nama yang disinyalir sempat dipertimbangkan oleh Jokowi, adalah Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Romahurmuziy, Mahfud MD, Ma'ruf Amin, dan Tuan Guru Bajang (TGB).

Berkaca dari strategi Jokowi, kemungkinan besar GNPF Ulama juga menginginkan agar Prabowo mengusung cawapresnya dari kalangan ulama, bukan AHY yang berasal dari parpol berideologi nasionalis. Sehingga, bila Prabowo bersedia menerima rekomendasi tersebut, mungkinkah Pilpres nanti juga akan menjadi pertarungan antar ulama?

Ulama, Umpan Penarik Elektoral

"Agama adalah hal sempurna untuk membuat masyarakat awam bungkam." ~ Napoleon Bonaparte

Kaisar Prancis yang namanya cukup legendaris, Napoleon Bonaparte, dikabarkan memilih menjadi seorang Muslim setelah membaca kitab suci dari semua agama yang ada di dunia. Menurutnya, Alquran berisi ajaran-ajaran yang sangat 'membumi' dan mengajarkan kedamaian bagi seluruh umat manusia (rahmatan lil alamin).

Walau tidak banyak diceritakan, namun keyakinan Napoleon untuk menghayati Islam dan menjadi seorang Muslim, tentu tidak begitu saja ia lakukan. Bisa jadi hidayah tersebut, ia dapatkan setelah sempat dikalahkan oleh Pasukan Turki di era Ustmani, di mana saat itu tak sedikit ulama yang ikut berperang mempertahankan kedaulatan negerinya.

Di tanah air, peran ulama dalam kehidupan politik nasional, juga diakui ikut berpengaruh sejak perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Fakta ini dibuktikan dari banyaknya pahlawan nasional yang tak hanya seorang pejuang tangguh, tapi juga pembela agama maupun ulama yang sangat dihormati di daerahnya.

Setelah kemerdekaan diraih, organisasi massa Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga tak pernah absen untuk ikut berperan dalam kehidupan politik. Hanya saja, selama ini ormas dan para ulama lebih ditekankan hanya untuk penarik suara elektoral bagi partai politik.

pinterpolitik
pinterpolitik

Peran ulama yang mampu membentuk opini masyarakat ini, berdasarkan penelitian Clifford Geertz, adalah karena ulama dianggap sebagai perantara antara doktrin atau dogma agama dalam kehidupan masyarakat. Tak terkecuali di sektor politik, di mana ulama juga harus mampu menerjemahkan isu-isu politik berdasarkan ajaran agama.

Sehingga walau tidak masuk dalam pemerintahan, menurut Noah Feldman dalam buku The fall and rise of the Islamic state, posisi ulama sebagai panutan dan simbol pengikat masyarakat, menjadikannya memiliki kekuasaan untuk mempengaruhi ketaatan masyarakat terhadap penguasa, baik melalui fatwa maupun ajaran-ajarannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2