Mohon tunggu...
Siswa Rizali
Siswa Rizali Mohon Tunggu...

econfuse; ekonomi dalam kebingungan

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Freeport: Ini Titah Pasar, Bukan Politik

29 November 2018   15:16 Diperbarui: 29 November 2018   15:34 0 1 0 Mohon Tunggu...
Freeport: Ini Titah Pasar, Bukan Politik
freeport-5bffa488677ffb52fd689255.png

Bapak Presiden Joko Widodo kembali "Perintahkan Menteri Segera Bereskan Divestasi Freeport". Nah saya jadi tertarik kembali mencari tahu bagaimana reaksi pasar terhadap rencana pemerintah Indonesia menjadi pengedali saham raksasa tambang global tersebut.

Apalagi mengingat optimisme masyarakat kita terhadap proses penguasaan kembali si raja tembaga dan emas yang operasional besarnya di Papua.

Saya sendiri bingung mengapa Inalum yang jadi holding untuk membeli Freeport. Mengapa bukan raksasa tambang nasional, seperti Aneka Tambang atau Bukit Asam yang mengambil Freeport?

Tapi lupakan semua dugaan gak jelas tersebut. Kita lihat saja reaksi pasar atas rencana pemerintah Indonesia menguasai Freeport melalui suara bursa saham.

Caranya juga praktis, pakai saja situs gratis ala: https://finance.yahoo.com/

Bandingkan pergerakan harga saham Freeport sepanjang 2018 dengan harga saham perusahaan tambang raksasa lain, misal: BHP Billiton, Rio Tinto, VALE, dan Newmont.

Sumber: https://finance.yahoo.com/

Loh, kok saham Freeport YTD 2018 koreksi lebih dalam, sekitar 39%? Yang lain koreksi sekitar 15% saja, bahkan ada yg naik hampir 6%. Apa ada perubahan operasional yang ekstrim yang membedakan Freeport dengan perusahaan tambang lain? Atau ada perubahan unik dari Freeport?

Dan mengapa koreksi tajam-nya di Mei 2018? Saat wacana akuisisi Freeport tersebar ke publik?

Jadi ingat cerita bagaimana Prof Armen Alchian mengetahui rahasia bahan baku bomb hidrogen dari membaca gerakan harga saham:

The year before the H-bomb was successfully created [in the 1950s], we in the economics division at RAND were curious as to what the essential metal was---lithium, beryllium, thorium, or some other. The engineers and physicists wouldn't tell us economists, quite properly, given the security restrictions. So I told them I would find out.....

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2