Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Administrasi - Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Dari Pemimpin yang Mengarahkan Jadi Pemimpin yang Menghubungkan

3 Juli 2022   15:21 Diperbarui: 3 Juli 2022   23:30 763 56 13
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
ilustrasi gambar oleh Joseph Mucira dari pixabay.com 

Definisi kepemimpinan dari waktu ke waktu masih sama, yaitu kemampuan memengaruhi orang lain agar bekerja untuk tujuan tertentu. Tapi model kepemimpinan di dunia modern semakin luas cakupannya dan sudah bergeser jauh dari model kepemimpinan klasik. Saat ini kepemimpinan bukan lagi tentang relasi yang top down. Pemimpin bukan lagi orang yang selalu ada untuk mengarahkan orang lain.

Selaras dengan dunia yang semakin terhubung dan akses informasi yang bisa dikatakan tanpa batas, pemimpin hari ini harus semakin kolaboratif dengan orang-orang yang dipimpinnya.

Robert Greenleaf (penulis buku The Servant As Leader, 1970) bahkan mencetuskan konsep tentang servant leadership atau pemimpin yang melayani. Seorang pemimpin harus dimotivasi oleh keinginan untuk melayani orang lain, termasuk bawahan dan pelanggan.

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti pelatihan tentang kepemimpinan yang digelar federasi Credit Union kami. Banyak topik-topik menarik yang menggugah cara berpikir saya tentang kepemimpinan. Referensi utama dari materi pelatihan adalah buku karya John C. Maxwell yang bertajuk Leadershift.

Dari sekian topik yang disampaikan saat pelatihan, saya akan mengulas lebih dalam tentang Communication Shift, topik yang menurut saya cukup penting untuk disimak bersama. Bagaimana seorang pemimpin menggeser model kepemimpinannya dari mengarahkan (directing) menjadi menghubungkan (connecting).

Mari kita mulai.

Mengubah pendekatan dari pemimpin yang mengarahkan jadi pemimpin yang menghubungkan berarti seorang pemimpin harus memberi ruang lebih banyak untuk mendengarkan harapan-harapan dari bawahan atau tim kerjanya. 

Caranya dengan lebih sering mengajukan pertanyaan, alih-alih memberi instruksi semata, dan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.

Pemimpin harus sering berkolaborasi dengan timnya. Kolaborasi yang dimaksud sifatnya komprehensif. Bukan saja di ruang rapat atau pada saat brainstorming, tapi sampai ke lapangan, ke area pekerjaan yang lebih teknis praktis. 

Gunanya agar pemimpin paham benar bagaimana dinamika dari eksekusi sebuah keputusan. Dengan demikian pemimpin terhindari dari bias-bias yang disebabkan oleh asumsi-asumsinya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan