Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Administrasi - Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tidak Semua Pengalaman Harus Dijadikan Konten

13 November 2021   19:27 Diperbarui: 15 November 2021   16:13 355
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi gambar dari pixabay.com

Kalau belum mengetahui persis jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut, mestinya jangan dilanjutkan dulu keinginan unggah kontennya.

Kembali ke judul artikel. Seringkali kita begitu mudah membagikan kepada dunia pengalaman-pengalaman hidup kita entah itu pengalaman yang baik atau kurang baik. Padahal menurut saya tidak semua pengalaman yang terjadi harus dijadikan konten dan diunggah ke media sosial. Bisa jadi karena kurang pantas, bisa berdampak kurang baik bagi warganet lain atau malah bisa mendatangkan risiko bagi diri sendiri.

Ini beberapa contoh di antaranya:

Konten tentang Anak

Konten tentang anak-anak memang selalu menarik untuk disimak. Tapi rasanya kurang elok kalau harus mengunggahnya secara berlebihan. Misalnya dalam sehari 10 kali update status dan semuanya tentang aktivitas si kecil. Pagi-pagi unggah foto si kecil lagi sarapan, foto si kecil siap-siap ke sekolah, agak siangan dikit foto si kecil makan es krim favoritnya, dan seterusnya.

Akhirnya alih-alih tertarik, teman-teman dunia maya lama-lama bosan melihat unggahan tentang anak tersebut.

Tidak ada masalah kalau unggahan masih dalam batas kewajaran, misalnya saat anak berhasil jadi juara lomba menggambar atau anak sedang melakoni belajar daring. Itu bisa jadi ungkapan kebanggaan orangtua.

Tapi kalau sudah berlebihan bisa berimbas menjadi hal yang lain. Jangan lupa di luar sana masih banyak pasangan-pasangan yang belum berhasil memiliki anak. Kita bisa sedikit bertenggang rasa kepada mereka.

Selain itu anak juga bisa jadi sasaran kejahatan setelah pelaku mempelajari media sosial orangtuanya. Misalnya di mana sekolah si anak, jam berapa anak pulang sekolah, siapa saja yang biasa menjemput, anak suka makanan apa saja, siapa saja orang dewasa yang dikenal si anak, dan seterusnya. 

Sudah ada modus kejahatan seperti ini jadi lebih baik waspada sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Pamer Barang-barang Mahal 

Ada juga orang yang senang mengunggah pembelian produk-produk mahal ke media sosialnya. Tujuannya ya memang mau pamer kepada khalayak.

Mungkin ada yang spontan berpikir, Ya, duit belanjanya kan duit dia. Bukan duit minta ke situ. Apa salahnya posting ke medsos? Kalau gak suka ya skip aja, mute atau blokir sekalian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun