Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Administrasi - Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bubur Ayam Tidak Diaduk Harga Mati!

7 Oktober 2021   20:24 Diperbarui: 7 Oktober 2021   21:19 1132
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi gambar dari kompas.com (shutterstock/Aris Setya)

Sekarang jam dinding di kamar sudah menunjuk angka 8. Hari ini pekerjaan di kantor lumayan banyak, jadi aku sampai cukup malam di kost. Setelah mandi dan berganti pakaian aku pun menghempaskan tubuh di atas kasur lalu mulai menelisik satu per satu notifikasi di layar gawai.

Masih ada jejak-jejak twitwar sore tadi dengan salah satu pendukung garis keras bubur ayam diaduk. Tapi dia sepertinya newbie. Juga ada notifikasi dari dua grup whatsapp yang berakhir pada topik bubur ayam diaduk versus tidak diaduk. Setelah membaca chat-chat bagian akhir, aku tersenyum. Pernyataan dari beberapa simpatisan bubur ayam diaduk itu bisa dipatahkan dengan mudah. Tapi nanti saja aku membalasnya.

Perhatianku tertuju pada pesan pribadi di aplikasi instagram. Dari seseorang bernama Niken. Kami belum saling follow, tapi nama itu sepertinya sangat familiar. Dari foto profilnya sepertinya aku juga pernah mengenalnya.

Aku pun menyetujui request pesan dan pesannya muncul di layar gawai.

Hai, Andre. Aku Niken. Masih ingat? Kita teman kelas di kelas 12. Kamu yang selalu pinjam buku catatan aku.

Aku pun melayangkan pikiran ke masa-masa SMA dulu dan ... menepuk jidat. Kenapa bisa lupa ya? Dia ini kan cewek paling pintar di kelas dan kursinya tepat berada di depan mejaku. Tapi dulu seingatku penampilannya biasa-biasa saja. Tidak pernah pakai riasan seperti anak cewek yang lain, kacamatanya tebal, pakai behel, rambut panjangnya seperti tidak terurus. Tidak ada menarik-menariknya.

Tapi sekarang, dia manis sekali. Rambutnya masih tetap panjang, tapi sudah licin seperti rambut selebritis, sudah tidak pakai kacamata atau behel, kulitnya bersih dan mulus. Ditambah dengan sapuan gincu merah merona, dia bisa dapat skor 95 dari skala 100 untuk penampilan.

Hai, Niken. Sampai pangling aku. Kamu tambah cantik sekarang. Bagaimana kabar kamu?, balasku.

Ternyata dia juga sedang online, sehingga pesan itu dibalas tidak sampai semenit kemudian.

Alhamdulilah baik, Dre. Hehe... terima kasih. Masih suka gombal menggombal kamu rupanya 

Aku tersenyum.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun