Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Administrasi - Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bubur Ayam Tidak Diaduk Harga Mati!

7 Oktober 2021   20:24 Diperbarui: 7 Oktober 2021   21:19 1132
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bubur ayam diaduk atau bubur ayam tidak diaduk, sudah sering jadi bahan adu urat leher di lini masa. Sejak awal, aku berdiri di barisan bubur ayam tidak diaduk. Alasannya? Sudah jelas sebenarnya.

Hidangan eksotik itu akan kehilangan pesonanya begitu diaduk jadi satu. Kalau itu campuran pasir, air dan semen, aku tidak keberatan sama sekali. Memang malah harus dicampur supaya adonan beton itu bisa digunakan dengan baik.

Tapi untuk semangkuk bubur ayam? No way!

Coba bayangkan betapa estetiknya semangkuk bubur yang masih mengepul dengan kaldu ayam yang gurih, ditaburi dengan irisan daun bawang, kacang goreng, daging ayam suir-suir, bawang goreng dan cakwe. Pada beberapa penyajian masih disertai pelengkap seperti sate ampela, telur rebus dan disantap bersama kerupuk kanji yang renyah.

Masing-masing komposisi punya peran yang penting untuk membangun kenikmatan menyantap bubur ayam tersebut. Tapi kalau semuanya tercampur jadi satu penampakan yang tidak jelas. Ambyar! Bubur ayam kehilangan legitimasinya.

Herannya, masih ada saja orang yang mengaku mendapat kepuasan dengan mengaduk seluruh pelengkap itu dan bubur menjadi satu sebelum menyantapnya. Selain kehilangan estetika, membayangkan rasanya saja aku sudah tidak kuat!

Sejak tamat SMA dan menduduki bangku kuliah, aku sudah bertahun-tahun mengalami perseteruan antara pendukung bubur ayam diaduk dan bubur ayam tidak diaduk. Dan seperti sudah kutulis, aku berdiri paling depan membela bubur ayam tidak diaduk. Itu harga mati! Kalau para pejuang kemerdekaan dulu punya slogan "merdeka atau mati", slogan pribadiku adalah "bubur ayam tidak diaduk atau mati."

Aku sudah melewati puluhan bahkan ratusan perdebatan di media sosial dengan para pendukung bubur ayam diaduk. Sebagian perdebatan berpindah platform dari lini masa ke pesan pribadi atau grup aplikasi perpesanan. Belum pernah ada yang berhasil menggoyahkan prinsipku. Beberapa diantara perdebatan itu malah berujung dengan pemblokiran media sosial atau nomor teleponku. Tapi ah, persetan!

Mungkin persistensi itu yang membuat tahun lalu aku ikut dinominasikan jadi salah satu pengurus inti Persatuan Penikmat Bubur Ayam Tidak Diaduk seluruh Indonesia. Aku sebenarnya tidak terlalu tertarik, tapi karena tidak ingin mengecewakan teman-teman yang sudah mendukung, aku ikut maju berkompetisi dengan kandidat lain.

Ya, pada akhirnya aku memang tidak lolos sampai ke putaran akhir pemilihan, tapi itu tidak menjadi masalah besar. Aku tetap bekerja membela idealisme barisan dengan penuh dedikasi, sekalipun itu hanya di tingkat akar rumput.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun