Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Zanitha

29 Maret 2020   19:40 Diperbarui: 21 Mei 2020   14:49 165 28 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Zanitha
ilustrasi gambar dari https://thewallpaper.co/

Malam belum begitu larut, tapi Zanitha sudah terlelap. Wajahnya begitu ayu di bawah cahaya lampu baca. Dalam tidur dia tersenyum malu-malu, entah apa yang dia mimpikan. Mungkin  tentang studio milik kekasihnya yang begitu kaya warna, mungkin tentang kisah cinta antar dimensi, mungkin juga tentang semesta yang terus memuai. Entahlah.

Tak mau sedikit pun mengusik mimpi gadisnya, Hans mengecupnya pelan-pelan, lalu keluar dari kamar tidur. Sesampai di studionya, Hans lanjut bekerja merampungkan lukisan yang dipesan seorang pengusaha terkenal, lukisan tentang supermoon di atas bukit salju.

Selagi jemarinya bergerak-gerak lincah mencampur beberapa warna di atas kanvas, gawainya berbunyi kencang. Hans menyibak rambut yang berserakan di depan dahinya untuk melirik sejenak layar gawai. Nisa, begitu nama si pemanggil tertera di layar gawai. Hans hanya menekan tombol mute lalu melanjutkan lukisannya.

Sebenarnya banyak gadis yang tertarik dengan pria cool ini. Siapa yang tidak? Dia seorang seniman terkenal, usia cukup matang, wajah tenang tapi kokoh, blasteran Jawa dan Jerman. Hanya saja pintu hatinya sudah tertutup rapat-rapat, karena dia sudah punya Zanitha. Sayangnya, tidak banyak gadis yang mengetahui rahasia itu, termasuk Nisa.

Sesekali dia mengajak Zanitha berkeliling kota, berdua saja. Sesekali juga dia mengajak kekasihnya itu mengunjungi alam terbuka, tetapi setelah memastikan tidak ada orang lain di tempat itu selain mereka berdua. Biasanya orang yang sedang kasmaran gemar memamerkan kemesraan mereka di depan dunia. Tapi tidak untuk Hans dan Zanitha.

Pada suatu hari yang panas di pertengahan bulan Juni, Hans mengadakan pameran tunggal dengan memajang 30 karya lukisannya. Sebagian besar lukisan bergaya realisme dengan tema sosial dan lingkungan. Ada juga yang bergaya surealisme dengan kesan gelap dan misterius, seperti menampilkan sisi lain sang pemilik lukisan.

Dia menyewa sebuah galeri megah di utara metropolitan. Tempat yang masih asri, karena dikelilingi puluhan pohon mahoni dan trembesi. Hans beruntung. Ekonomi sedang tergelincir, tapi cukup banyak tamu yang bersedia memenuhi undangannya. Hadir di antaranya para selebritis, pemilik industri hiburan dan beberapa politisi. Mereka contoh konkrit simbiosis mutualisme. Tapi Hans tidak terlalu peduli hal itu. Selagi masih ada yang bersedia menghargai karyanya dengan pantas, dia sudah cukup bahagia.

Nyaris seharian dia berkeliling galeri menemani para tamu untuk memuaskan dahaga estetika mereka. Lirikan kagum dan nakal berpasang-pasang mata wanita tidak mengusik ketenangannya. Sesekali ada yang berhasil mengajaknya berswafoto, atau bertukar kartu nama. Tapi selain berbagi aroma cedarwood, parfum favoritnya, dia tidak pernah sedikit pun memberi mereka harapan untuk mencubit sebagian hatinya, sedikit pun.

Menjelang petang, galeri sudah lengang. Hans mulai merasa lelah setelah adrenalin dalam darah menyusut perlahan. Saat menuang segelas air dari dispenser, suara sopran manja mengejutkannya.

"Aku lebih suka lukisan yang ada di dalam kamar."

Hans merapikan rambutnya yang mulai berserakan lagi di depan dahinya. Seorang wanita muda tersenyum dengan manis, tepat dua langkah di belakangnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN