Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Administrasi - Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Frigid

23 September 2019   21:15 Diperbarui: 23 September 2019   21:16 138
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
ilustrasi gambar dari canva.com/photos

Jaka kesal setengah mati. Dia menyumpahi purnama yang baru saja naik ke tahtanya, menyumpahi ilalang di belakang rumah, menyumpahi jangkrik yang berisik, menyumpahi cinta yang telah mengikatnya selama dua tahun ini dalam belenggu bernama perkawinan.

Bahagia hanya dirasakan beberapa minggu saja setelah hari janji setia diikrarkan. Setelah itu rumah tangga yang mestinya jadi surga dunia mulai berubah menjadi neraka.

Sang istri ternyata bisa jadi begitu dingin. Hilang sudah kehangatan kekasih yang dirasakannya selama ini. Meja makan yang awalnya penuh canda menjadi sesepi kuburan. Bahkan ranjang tempat melabuhkan kepenatan dan memantik hasrat kehilangan percikan nyalanya.

Jaka mula-mula mencoba memahami emosi sang istri. Mungkin memang sedang tidak ingin bercinta, mungkin sedang stres, atau mungkin dia membutuhkan sentuhan yang berbeda?

Jaka pun mencoba cara-cara lain untuk membangkitkan gairah yang redup. Memberi berbagai hadiah layaknya ABG yang sedang kasmaran, mengajak berlibur ke tempat-tempat ekstotik, bahkan membuatkan puisi yang mengalahkan karya para maestro. Hasilnya? Nihil.

Bahkan kalaupun bujuk rayunya berakhir dengan percumbuan, Jaka merasa sedang mencumbu bayangan dirinya sendiri, bukan istri permata hati. Rasanya hambar dan lebih dingin dari malam.

Malangnya bencana itu berlangsung berbulan-bulan hingga hitungan tahun.

Jaka kembali berteriak menyumpahi purnama.

Dia lalu masuk dengan kasar ke dalam rumah, ke dalam kamar dan menghampiri istrinya yang terbaring pasrah. Dia pun melucuti semua pakaian istrinya dan mencumbu tubuh mulus itu habis-habisan. Tetap saja hambar rasanya dan lebih dingin dari malam.

Jaka yang mulai letih memandang istrinya dengan heran, lalu menepuk-nepuk pipi istrinya,

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun