Mohon tunggu...
Philips Anakristo
Philips Anakristo Mohon Tunggu... Guru dan Konselor pendidikan

Mahasiswa STTI Efrata Tut Wuri Handayani Student Today Leader Tomorrow

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Pemuridan Berbasis Komunitas adalah Alternatif Pola Ibadah di Masa Pandemi Covid-19

7 Mei 2021   23:41 Diperbarui: 7 Mei 2021   23:53 36 1 0 Mohon Tunggu...

PEMURIDAN BERBASIS KOMUNITAS ADALAH ALTERNATIF POLA IBADAH DI MASA PANDEMI COVID 19

OLEH:

PHILIPUS KRISTIANTO

PROGRAM STUDI MAGISTER TEOLOGI (M.Th)

SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI EFRATA

SIDOARJO-JATIM-2021

 

PENDAHULUAN

                Apakah lantas masa pandemi ini dapat menjadi “interupsi Ilahi” yang dibutuhkan tersebut? Melihat berbagai fenomena pelayanan gereja selama ini dan temuan-temuan dari berbagai riset, dalam skala tertentu, pandemi ini dapat dipandang sebagai semacam “inte-rupsi Ilahi” yang membangunkan gereja dari ambiguitas panjangnya. Penghentian “paksa” dan tiba-tiba dari berbagai kegiatan dan ben-tuk pelayanan, mau tidak mau, membuat para praktisi pelayanan gereja berhenti sejenak dari rutinitas dan melihat ulang apa yang telah dikerjakan, atau apa yang telah terjadi, selama ini. Jika “interupsi Ilahi” pandemi ini dires-pons dengan tepat oleh gereja-gereja, maka akan muncul pembaharuan yang hakiki dalam kehidupan berjemaat. Ada beberapa isu dalam konteks riil pelayanan gereja yang tercermin dalam berbagai temuan penelitian, yang perlu dipikirkan ulang dan direspons secara tepat oleh para pemimpin gereja.

                Pertama, masa pandemi menunjukkan masih minimnya konsep teodisi yang utuh dan proporsional. Secara masif, para teolog dan pemikir Kristen menerbitkan beberapa buku terutama untuk menjawab problematika teologis seputar kuasa Allah dalam realitas pandemi, sebut saja Coronavirus and Christ dari pendeta John Piper, Where is God in a Coronavirus World? dari apologis dan ilmuwan John C. Lennox, dan God and the Pandemic dari teolog biblika N. T. Wright. Buku-buku ini, meskipun ditulis dalam disiplin ilmu dan pendekatan yang berlainan, tetapi seperti ingin menyuarakan pesan yang seragam: bahwa Allah berdaulat dan tetap mengasihi manusia sekali pun di tengah wabah yang tidak terpahami. Agaknya penerbitan judul-judul ini merupakan sebuah indikasi tentang lang-gengnya perdebatan tentang topik teodisi. Para pemimpin gereja perlu memperhatikan hal ini dan jika memungkinkan, memasukkan pesan tentang teodisi yang utuh dan tepat di dalam khotbah, pengajaran, persekutuan, bahkan pendampingan pastoral.

                Menariknya, kebutuhan tentang teodisi yang tepat ini juga bukan hanya dapat dilihat dari penerbitan judul-judul di atas, tetapi juga berdasarkan pengamatan empiris khususnya dalam konteks Indonesia. Dalam paparan yang diberikannya pada Rembuknas STT SAAT (Mei 2020), Daniel Ronda, ketua sinode Gereja Kemah Injil Indonesia, menun-jukkan bahwa ada “krisis teologis” yang di-hadapi oleh masyarakat Kristen pedesaan. Krisis teologis tersebut antara lain: pema-haman bahwa pandemi ini terjadi sebagai hukuman Tuhan atas dosa manusia, pandemi ini merupakan tanda-tanda akhir zaman dan    mendekatnya kedatangan Kristus kedua kali, serta adanya keengganan untuk memindahkan ibadah dari gereja ke rumah dengan alasan umat harus lebih takut akan Allah daripada takut tertular virus. Ronda menganalisis bahwa problematika teologis ini terjadi akibat kemunculan ajaran-ajaran yang keliru khusus-nya tentang teodisi tetapi marak tersebar di media massa dan media sosial.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN