Philip Manurung
Philip Manurung Dosen

lahir di Medan, merantau ke Jawa, tinggal di Sulawesi, melayani Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Fesyen Artikel Utama

Generasi La Sape, Biar Miskin Asal Gaya

7 Mei 2019   13:40 Diperbarui: 7 Mei 2019   21:44 4582 24 9
Generasi La Sape, Biar Miskin Asal Gaya
Sumber: telegraph.co.uk

Kita telah sering mendengar pepatah "Lebih besar pasak daripada tiang." Pepatah ini mengingatkan kita untuk menjaga pengeluaran tidak melebihi pendapatan yang diterima. Atau, bisa juga diartikan, jangan mengajukan kredit dengan angsuran sebesar gaji bulanan. Sudah pasti minus.

Ini adalah sebuah prinsip bertahan hidup yang logis. Gaya hidup hedonis hanya membuat hidup merana. Demikian baiknya prinsip ini sehingga seharusnya berlaku universal. Kenyataannya, "Lain padang lain ilalang." Lain daerah, lain pula gaya hidupnya.

Beberapa daerah di Indonesia dikenal dengan stereotype orang-orang yang bergaya hidup boros. Sejumlah jargon sindiran akrab di telinga masyarakat daerah tertentu, seperti "BiMAS (Biar Mati Asal Stand)", "Biar gak makan nasi yang penting aksi", dsb.

Namun, tidak ada contoh hedonisme yang lebih ekstrem selain dari yang terdapat di Kongo, Afrika. Orang-orang yang tergabung dalam komunitas La Sape menjungkirbalikkan semua tiang ekonomi.

Ketika sebagian besar populasi di negeri itu sulit mencari makan dan air bersih, komunitas La Sape memusingkan dirinya menemukan pasangan dasi yang cocok dengan sepatu.

Lebih Besar Sapeur daripada Tiang

Sape adalah akronim dari "Societ des Ambianceurs et des Personnes Elegantes". Terjemahan bebasnya: "Komunitas Trend-Setter dan Orang-Orang Elegan". Anggotanya disebut Sapeur. Mereka penggila fesyen.

Seorang Sapeur suka tampil di jalan-jalan layaknya pria parlente (dandy) bangsa Eropa, lengkap dengan setelan jas, topi, sepatu kulit, kacamata, jam tangan, bahkan payung. Semuanya branded orisinil, kualitas nomor satu.

Di Brazzaville, ibukota Kongo, para Sapeur berkumpul setiap akhir pekan untuk saling memamerkan penampilan mereka. Mereka puas bila orang-orang yang melintas memuji mereka. Mirip seperti persimpangan Harajuku di Jepang. Hanya saja, latar jalan-jalan miskin berlumpur di sekeliling mereka membuat pertunjukan itu kontras dan sedikit surealis.

Hanya saja, latar jalan-jalan miskin berlumpur di sekeliling mereka membuat pertunjukan itu kontras dan sedikit surealis.

Konon, gaya hidup ini dimulai dari seorang remaja pria bernama Jean Marc Zeita yang pindah ke Paris pada 1976. Di sana ia membentuk komunitas yang meniru gaya penampilan orang Perancis. Sepulang dari Paris, kebiasaan itu ia populerkan di kampungnya.

Hobi demikian tentu memerlukan banyak biaya. Harga busana Sapeurs rata-rata empat kali lipat lebih besar dari penghasilan bulanan mereka. Baju-baju dan aksesoris-aksesoris itu didatangkan langsung dari Paris. Pakaian KW dianggap tabu.

Harga busana Sapeurs rata-rata empat kali lipat lebih besar dari penghasilan bulanan mereka.

Demi mendapatkan busana terbaik, banyak di antara mereka tidak ragu meminjam uang sampai ribuan dollar. Bahkan, untuk memenuhi nafsu hedonis itu, mereka rela tidak jadi pindah ke rumah yang lebih baik atau menangguhkan pembayaran uang sekolah anaknya. Seringkali seorang Sapeur tidak memiliki pasokan air di rumahnya, tetapi di lemarinya tergantung beberapa baju Dolce & Gabbana.

Seringkali seorang Sapeur tidak memiliki pasokan air di rumahnya, tetapi di lemarinya tergantung beberapa baju Dolce & Gabbana.

Seiring berkembangnya hobi tersebut, muncullah filsafat sapologie untuk membenarkannya. Sapologie berfokus pada usaha menumbuhkan rasa percaya diri di tengah situasi yang buruk.

Generasi La Sape di Era Media Sosial

Kota Manado telah lama dituding sebagai tempat maraknya budaya konsumtif. Saya pikir, itu benar adanya. Indikasi gaya hidup hedonis tampak jelas dari kesukaan orang-orang berpesta. Meski berpenghasilan pas-pasan, sebuah keluarga mati-matian mengadakan pesta yang wah agar tidak mendapat malu.

Ada banyak cerita seperti itu. Sebuah pesta sweet-seventeen diadakan di sebuah hotel berbintang lima bagi seorang remaja putri. Sehari-hari gadis itu ke sekolah naik angkot.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2