Philip A. Tirtamarta
Philip A. Tirtamarta

Tidak lain dari seorang manusia yang akan terus berusaha

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Segenggam Bangsa Ini

31 Januari 2019   14:10 Diperbarui: 31 Januari 2019   14:26 6 0 0

Tidak ada manusia yang terlahir dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya waktu ia sudah besar. Seorang bayi yang baru saja terlahir dan meninggalkan rahim ibunya, tidak akan bisa untuk berlari mengejar sang ayah yang pergi meninggalkannya dan memilih untuk mabuk di dalam dunia bisnisnya ketimbang untuk hadir dan menemuinya. Ia juga tidak mampu untuk seketika berbicara pada ibunya untuk melihat dia dan bukan segenggam teknologi canggih di tangannya. Tapi hal ini tidak pernah menghentikan ia untuk terus tertawa dan menangis. Untuk menyiapkan diri dan melihat dunia.

Berjalan seiringnya waktu, bayi itu berkembang. Ia sekarang dapat berlari mengejar teman-temannya hingga kabur dari masa lalunya. Ia sekarang dapat bermimpi untuk menjadi besar sekali dan menjadi dewasa hingga untuk menjadi kepala keluarga. Proses pembelajaran lah yang menjadi kunci untuk ia dapat membentuk masa depannya. Tidak pernah terbayangkan lagi rasa sakitnya waktu ia jatuh berkali-kali untuk belajar berjalan dengan sempurna.

Sekarang ia sudah terbentur kenyataan, sekarang ia sudah merasakan sakitnya dunia, dan sekarang ia sudah mati beserta seluruh mimpi-mimpinya yang tidak pernah menjadi kenyataan. Pantaskah seseorang meninggal dan terlupakan begitu saja? Pantaskah seseorang meninggal tanpa membuat perbedaan di dunia ini? Saya tidak tahu. Manusia adalah insan yang bebas dalam berkehendak namun seringkali hal inilah yang menyembunyikan moral kita dibalik hawa nafsu dan seribu alasan lainnya.

Lebih dari 260 juta manusia hidup di bangsa ini dan tidak sedikit dari mereka yang tak pernah dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Tidak sedikit juga dari mereka yang setiap harinya kesusahan untuk dapat membeli sekadar makanan dan menghilangkan rasa lapar mereka yang terus menerus menghantui. Dan tidak sedikit pula dari mereka yang selalu   menantikan perubahan dan mendambakan kemajuan hidup mereka.

Seorang yang amat kaya raya berkata "Hidupku urusan ku, hidupmu urusan mu!" Kalau kita hidup di negara sendiri dan di tanah air sendiri, maka ilustrasi mu diatas masuk. Tapi ini tanah Indonesia! Sebuah bangsa yang seharusnya berdiri dari kekeluargaan dan gotong royong namun kenyataanya belum bersedia untuk membayar harga dari pengabdian terhadap sesama dan keprikemanusiaan.

Segenggam bangsa ini masih kehilangan arah dan memilih untuk diam meratapi kematian nilai-nilai yang menjadikan bangsa ini ada. Segenggam bangsa ini masih memilih untuk berperang melawan perbedaan daripada menyayangi saudara-saudara mereka sendiri yang berbeda. Segenggam bangsa ini lebih menyayangi memperkaya diri sendiri dan merampok kekayaan bangsanya sendiri. Segenggam bangsa ini masih enggan untuk menerima kebenaran orang lain dan memilih untuk membunuh kebenaran sejati.

Segenggam bangsa ini masih ingin terdiam dan menunggu orang lain untuk membuat perbedaan. Segenggam bangsa ini percaya bahwa perubahan akan terjadi. Segenggam bangsa ini masih berusaha untuk memajukan sesamanya. Segennggam bangsa ini masih memilih untuk mensejahterakan diri mereka sendiri dan segenggam bangsa ini juga masih memilih untuk menutup mata pada keadaan di sekitar mereka. Segenggam bangsa ini masih memilih untuk selalu menjadi oposisi dan menolak untuk bekerja sama membawa bangsa ini untuk maju menuju kehidupan negara yang lebih layak. Dan segenggam bangsa ini masih mau membela hak-hak saudara mereka yang tertindas.

Sampai kapan kita sesama saudara akan berjalan menuju ke arah yang berbeda-beda? Sampai kapan bangsa kita masih memilih untuk menutup mata terhadap kebenaran? Entahlah. Yang pasti satu hal, segenggam bangsa ini selalu memiliki harapan untuk maju dan bangkit. Cinta dapat membutakan tapi ia juga dapat membangkitkan. Namun cinta terhadap sesama dan terhadap bangsa sendiri, dapat membawa bangsa ini berjalan menuju ke arah yang lebih baik. Yang dibutuhkan adalah rasa cinta dan keinginan untuk selalu mengutamakan kebenaran dan keadilan sesama kita manusia yang sesungguhnya bersaudara.

Hiduplah Indonesia Raya beserta seluruh kebhinekaannya dan pancasilannya.