Alex Palit
Alex Palit

Membaca Bambu Mengungkap Makna

Selanjutnya

Tutup

Politik

Garuda Ngluruk Kandang Banteng

16 Januari 2019   02:00 Diperbarui: 16 Januari 2019   07:55 462 1 2
Garuda Ngluruk Kandang Banteng
Foto dok. Alex Palit

Di antara 36 strategi seni berperang Sun Tzu (544-470 SM), salah satunya yaitu pertahanan terbaik adalah menyerang. Dan strategis pertahanan terbaik adalah menyerang ini dianggap taktik jitu dan ampuh untuk membuat lawan klepek-klepek.  

Pola "Garuda Ngluruk Kandang Banteng" -- Garuda menggeruduk kandang Banteng -- inilah yang kini dimainkan oleh "sang Garuda" yang langsung datang bertandang menggempur kandang lawan yaitu "sang Banteng" untuk memenangi pertempuran #17April2019.

Bahkan tak tanggung-tanggung "Sang Garuda" membuat benteng pertahanan dan perlawanan di tempat "sang Banteng", sekaligus untuk  ngluruk menumbangkan mitos kandang Banteng

Sudah tentu, sebagai mantan komandan jenderal pasukan khusus "sang Garuda" pastinya sudah khatam dan paham betul di luar kepala dengan filosofi strategi seni berperang yang dikembangkan seorang jenderal, ahli strategi militer, dan filsuf dari zaman Tiongkok kuno yaitu Sun Tsu.

Strategi pertahanan terbaik adalah menyerang ini juga berlaku dan banyak digunakan di pertandingan sepakbola. Dalam dunia sepakbola, skema menyerang adalah pertahanan terbaik biasanya senantiasa disertai  permainan total football, menggempur lawan dari segala lini yang bisa membuat pertahanan lawan kalang kabut.

Bukan tidak mungkin dalam hal ini "sang Garuda" juga akan menggunakan taktik serang total football sebagaimana yang diberlakukan di permainan sepakbola yaitu menggunakan taktik gempuran dari segala lini, depan, tengah, samping kiri dan kanan.

Mengingat dalam hal ini "Garuda" yang dilambangkan atau disimbolisasikan dalam wujud burung ini tentunya punya kemampuan melakukan aneka manuver baik darat maupun udara menghadapi "sang Banteng" yang hanya muter-muter di darat, karena tidak bisa terbang.

Bisa jadi serangan "Garuda Ngluruk Kandang Banteng" diluar predisksi "sang Banteng" yang dianggapnya establis. Bukan tidak mungkin, jurus pertahanan terbaik adalah menyerang ini telah membuat "sang Banteng" menjadi banteng ketaton yang kalap sruduk sana-sini bangun pencitraan diri lagi sedemikian rupa untuk menghadapi serangan darat dan udara "sang Garuda".

Dalam strategi pertempuran, menurut Sun Tzu, dengan pertahanan terbaik adalah menyerang bahwa secara psikologis politis pihak penyerang telah  memenangi setengah lapangan permainan dalam mengalahkan lawan.

Setidaknya itu filosofi yang dapat kita baca dari "Garuda Ngluruk Kandang Banteng" atau yang menurut seni berperang Sun Tzu dikatakan; pertahanan terbaik adalah menyerang.

Sudah tentu, sebagai mantan komandan jenderal pasukan khusus dan juga mantan komandan tempur, "sang Garuda" pastinya juga paham di luar kepala dengan filosofi seni berperang yang diterapkan seorang jenderal zaman Romawi (47 SM) yakni Julius Caesar yang terkenal dengan adagiumnya; Vini -- Vidi -- Vici, yaitu saya datang, melihat dan menang!

Dari "Garuda Ngluruk Kandang Banteng" ini  setidaknya "sang Garuda" bukan sekadar memainkan strategi seni berperang -- pertahanan terbaik adalah menyerang -- sebagaimana yang diajarkan Sun Tzu, tapi juga "Vini -- Vidi -- Vici" begitu kira-kira ujar "sang Garuda" mengutip kata-kata Julius Caesar. Semoga!

Alex Palit, citizen jurnalis Jaringan Pewarta Independen "#SelamatkanIndonesia", seniman bambu unik, pendiri Komunitas Pecinta Bambu Unik Nusantara (KPBUN)